Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter

Kompas.com, 29 Mei 2026, 15:30 WIB
Ida Setyaningsih

Penulis

KOMPAS.com - Perayaan Idul Adha identik dengan berbagai olahan daging kurban, mulai dari sate, gulai, tongseng, hingga aneka makanan bersantan lainnya.

Pada momen ini, banyak keluarga menikmati hidangan daging selama beberapa hari berturut-turut, termasuk anak-anak.

Namun, tidak sedikit orangtua yang khawatir anak terlalu banyak mengonsumsi daging saat Idul Adha.

Kekhawatiran ini biasanya berkaitan dengan risiko kolesterol tinggi, konsumsi lemak berlebih, hingga keamanan jeroan untuk anak.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A menjelaskan bahwa pada dasarnya anak tetap boleh makan olahan daging kurban selama konsumsinya tidak berlebihan.

“Kalau misalnya ditanya aman atau tidak, sebetulnya secara garis besar aman. Terutama apabila dikonsumsinya dalam jumlah cukup dan tidak berlebihan,” ujar dr. Prajnya dalam siaran kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dikutip Jumat (29/5/2026).

Anak tetap membutuhkan daging untuk tumbuh kembang

Menurut dr. Prajnya, daging sapi maupun kambing sebenarnya memiliki banyak kandungan gizi penting yang dibutuhkan anak.

Daging mengandung protein dengan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh.

Selain itu, daging juga mengandung zat besi heme yang lebih mudah diserap tubuh dibanding zat besi dari sayuran.

“Daging sapi dan daging kambing itu mengandung protein yang baik, zat besi, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan anak,” jelasnya.

Karena itu, konsumsi daging tidak selalu identik dengan dampak buruk bagi kesehatan, selama porsinya tetap terkontrol.

Baca juga: Dokter Ingatkan Pentingnya Aktivitas Fisik setelah Idul Adha, Cegah Kolesterol Naik

Risiko jika anak terlalu banyak makan daging dan santan

Meski aman, orangtua tetap perlu memperhatikan jumlah dan cara pengolahan daging yang dikonsumsi anak selama Idul Adha.

Dokter Prajnya menjelaskan bahwa risiko kesehatan biasanya muncul ketika anak terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, terutama dari santan, gorengan, dan bagian daging berlemak.

“Kondisi yang bisa terjadi salah satunya adalah dislipidemia, yaitu peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh,” kata dia.

Kolesterol dan lemak yang menumpuk dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, meski pada anak kasusnya lebih jarang dibanding orang dewasa.

Selain itu, konsumsi jeroan berlebihan juga perlu dibatasi karena mengandung lemak dan purin cukup tinggi.

Benarkah daging kambing lebih berbahaya?

Di masyarakat, daging kambing sering dianggap lebih berisiko memicu kolesterol dibanding daging sapi. Namun menurut Prajnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dalam kondisi yang sama-sama tanpa lemak, daging kambing justru memiliki kandungan lemak lebih rendah dibanding daging sapi.

“Kalau membandingkan daging sapi dan kambing tanpa lemak, sebenarnya daging sapi memiliki kadar lemak lebih banyak dibanding daging kambing,” ujar dia.

Karena itu, yang lebih penting diperhatikan adalah bagian daging yang dipilih dan cara memasaknya.

Bagian daging dan jeroan yang perlu dibatasi

Prajnya mengatakan bagian seperti otak dan sumsum sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering, terutama pada anak yang lebih besar.

“Kalau otak dan sumsum sebaiknya sesekali saja karena kandungan lemak dan kolesterolnya cukup tinggi,” katanya.

Sementara itu, jeroan lain seperti hati, paru, dan usus tetap boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas.

Meski demikian, pada anak usia di bawah dua tahun, konsumsi lemak tidak perlu terlalu dibatasi karena otak anak masih berkembang pesat dan membutuhkan lemak sebagai salah satu nutrisi penting.

Baca juga: Hati-hati Kolesterol Naik Usai Idul Adha, Daging Kurban Bisa Jadi Pemicu

Cara memasak juga berpengaruh

Selain jenis daging, metode memasak juga memengaruhi kadar lemak dalam makanan.

Menurut dr. Prajnya, makanan yang digoreng atau menggunakan santan cenderung meningkatkan asupan lemak lebih tinggi dibanding makanan rebus atau kukus.

“Kalau secara umum, yang paling baik itu direbus atau dikukus,” ujarnya.

Sementara makanan bakar seperti sate memang tidak langsung meningkatkan kolesterol, tetapi tetap sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.

Apakah anak boleh makan sate saat Idul Adha?

Prajnya menegaskan anak tetap boleh menikmati sate, gulai, maupun olahan daging lainnya saat Idul Adha sebagai bagian dari momen spesial keluarga.

Namun, orangtua disarankan tetap menjaga variasi makanan dan tidak memberikan menu daging berlebihan setiap hari.

“Kalau hanya saat Lebaran atau momen tertentu tentu masih aman. Yang perlu hati-hati kalau konsumsinya setiap hari dan berlebihan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar orangtua tetap menerapkan pola makan seimbang, memperbanyak sayur dan buah, serta memastikan anak tetap aktif bergerak selama libur Idul Adha.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau