Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk

Kompas.com, 29 Mei 2026, 21:00 WIB
Devi Pattricia,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sakit kepala bisa muncul di bagian belakang kepala alias tengkuk. Meski sering dianggap sepele, nyeri yang terlokalisasi di belakang kepala ternyata bisa menjadi tanda berbagai kondisi kesehatan.

Dokter spesialis neurologi dan gangguan gerak dari Aster CMI Hospital Bengaluru, Dr. Hema Krishna P mengatakan, nyeri di bagian belakang kepala dan leher dapat disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari ketegangan otot hingga gangguan saraf.

“Nyeri di bagian belakang kepala dan leher bisa muncul karena berbagai penyebab umum,” kata Krishna, dilansir dari Only My Health, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: 4 Dampak Burnout bagi Kesehatan Menurut Psikolog, Sakit Kepala

Lalu, apa saja penyebab sakit kepala di bagian belakang kepala?

6 Penyebab sakit kepala di belakang kepala

1. Ketegangan otot akibat terlalu lama duduk

Salah satu penyebab paling umum sakit kepala belakang adalah ketegangan otot di area leher dan pundak. Kondisi ini sering terjadi pada orang yang terlalu lama duduk, mendunduk saat pakai ponsel atau bekerja di depan komputer.

Menurut Dr. Krishna, otot yang tegang akibat aktivitas berlebihan atau posisi duduk yang salah dapat memicu rasa nyeri yang menjalar hingga belakang kepala.

Rasa sakit biasanya muncul seperti tekanan atau nyeri tumpul yang berlangsung perlahan. Dalam beberapa kasus, keluhan juga disertai leher terasa kaku dan pundak pegal.

Baca juga: 10 Penyebab Badan Cepat Lelah dan Pegal-pegal, Bisa Jadi Gejala Penyakit Serius

2. Sakit kepala tegang atau tension headache

Tension headache menjadi jenis sakit kepala yang paling sering dialami banyak orang. Nyeri biasanya terasa di kedua sisi kepala, termasuk area belakang kepala dan leher.

Tension headache umumnya menimbulkan sensasi nyeri tumpul dan rasa tertekan.

“Sakit kepala tegang biasanya terasa seperti nyeri tumpul dan sering dikaitkan dengan ketegangan otot serta stres di area leher,” ujar dr.Krishna.

Kondisi ini sering dipicu stres, kelelahan, kurang tidur, atau terlalu lama bekerja tanpa istirahat. Meski tidak terlalu berat, sakit kepala tegang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari jika terjadi berulang.

Baca juga: Tekanan Darah Tinggi Sebabkan Sakit Kepala, Mitos atau Fakta?

Ilustrasi saraf terjepit. Saraf terjepit bisa dialami siapa saja tanpa disadari, bahkan gejalanya sering dikira cuma pegal biasa.Shutterstock/Africa Studio Ilustrasi saraf terjepit. Saraf terjepit bisa dialami siapa saja tanpa disadari, bahkan gejalanya sering dikira cuma pegal biasa.

3. Migrain yang menjalar ke belakang kepala

Migrain tidak selalu muncul di satu sisi kepala bagian depan. Pada sebagian orang, migrain juga bisa terasa di belakang kepala hingga leher.

Berbeda dengan tension headache, migrain biasanya menimbulkan nyeri berdenyut dengan intensitas sedang hingga berat.

Dr. Krishna mengatakan, migrain sering disertai gejala tambahan seperti mual, sensitif terhadap cahaya, dan suara.

Pemicu migrain bisa karena kurang tidur, stres emosional, perubahan hormon, hingga konsumsi makanan tertentu.

Baca juga: 6 Gejala Migrain Selain Sakit Kepala, Termasuk Perubahan Visual

4. Postur tubuh yang buruk

Postur tubuh yang buruk ternyata bisa menjadi penyebab sakit kepala belakang yang sering tidak disadari. Posisi duduk membungkuk atau salah saat bekerja dapat membuat tulang belakang tidak sejajar sehingga memicu ketegangan otot di leher dan punggung atas.

Ketegangan tersebut kemudian memicu nyeri yang terasa hingga bagian belakang kepala.

“Ketika tulang belakang tidak sejajar akibat posisi duduk yang salah, otot leher dan punggung atas menjadi tegang,” jelas Krishna.

Karena itu, menjaga postur tubuh tetap tegak saat duduk maupun berdiri penting dilakukan untuk membantu mencegah sakit kepala berulang.

Baca juga: Tower Pilates Jadi Tren 2026, Bantu Perbaiki Postur dan Nyeri Leher

5. Gangguan pada tulang belakang leher

Masalah pada tulang belakang leher atau cervical spine juga dapat menyebabkan sakit kepala di bagian belakang.

Beberapa kondisi seperti saraf terjepit, radang sendi, atau hernia diskus dapat memicu tekanan pada saraf sehingga timbul nyeri di kepala dan leher.

Selain sakit kepala, penderita biasanya juga mengalami nyeri leher, kesemutan, atau keterbatasan gerak. Lakukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dan menentukan penanganan yang sesuai.

Baca juga: Benarkah Bantal Ketinggian Jadi Penyebab Saraf Terjepit? Simak Kata Dokter

6. Tanda kondisi serius seperti stroke

Meski jarang, sakit kepala di bagian belakang kepala juga bisa menjadi tanda kondisi serius seperti stroke.

Biasanya, sakit kepala akibat stroke muncul tiba-tiba, terasa sangat berat, dan disertai gejala lain seperti wajah menurun sebelah, bicara pelo, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan penglihatan.

Oleh karenanya, sakit kepala yang muncul mendadak dan sangat hebat sebaiknya tidak diabaikan dan perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Baca juga: Thunderclap Headache, Sakit Kepala Hebat yang Bisa Jadi Tanda Pendarahan Otak

Cara membantu meredakan sakit kepala belakang

Dr. Krishna menerangkan, perubahan gaya hidup dapat membantu mengurangi frekuensi sakit kepala belakang.

“Olahraga rutin, cukup minum, dan mengelola stres dapat membantu mengurangi intensitas sakit kepala,” ujarnya.

Selain itu, terapi fisik juga bisa membantu memperbaiki postur tubuh, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan fleksibilitas leher.

Jika sakit kepala berlangsung terus-menerus atau semakin berat, pemeriksaan ke dokter penting dilakukan untuk mengetahui penyebab utamanya.

Baca juga: Apa Perbedaan Pusing dan Sakit Kepala? Ini Penjelasan Dokter

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau