Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal

Kompas.com, 30 Mei 2026, 21:11 WIB
Bestari Kumala Dewi

Editor

KOMPAS.com - Bagi banyak orang, diagnosis Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus sering kali menimbulkan rasa takut. Banyak yang berpikir, hidup dengan lupus berarti tak bisa menjalani hidup normal seperti biasa.

Sayangnya, ketakutan tersebut kerap diperparah oleh berbagai mitos dan informasi yang tak jelas kebenarannya, baik dari media sosial maupun dari cerita mulut ke mulut.

Bahkan, tak sedikit orang yang menunda pengobatan, dengan mencoba terapi alternatif yang belum terbukti secara ilmiah, atau justru berhenti berobat karena percaya pada mitos tertentu.

Baca juga: Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan

Akibatnya, kondisi penyakit terus berkembang hingga menyebabkan kerusakan organ.

Dokter spesialis reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR mengatakan, banyak sekali mitos seputar lupus yang beredar di Masyarakat, sehingga sangat penting untuk meluruskannya.

“Kami berharap teman-teman media bisa membantu kami bersama-sama meluruskan berbagai mitos keliru, agar penyandang lupus bisa mendapatkan pengobatan yang tepat sejak dini, tanpa dibayangi ketakutan yang tidak perlu,” tutur dr. Sandra dalam acara World Lupus Day Media Conference: From Burden to Living Well Through Improved Care for Systemic Lupus Erythematosus Bersama AstraZeneca Indonesia di RA Simatupang Suites, beberapa waktu lalu.

Apa Itu Lupus?

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan.

Dalam kondisi normal, sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan berbagai penyebab penyakit lainnya. Namun pada lupus, sistem imun justru menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat.

Akibatnya, terjadi peradangan kronis yang dapat merusak berbagai organ penting, mulai dari kulit dan sendi hingga ginjal, paru-paru, jantung, dan otak.

Masalahnya, gejala lupus sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain, sehingga lupus juga dikenal sebagai "penyakit seribu wajah". Hal ini pula, yang seringkali membuat lupus baru terdiagnosis bertahun-tahun lamanya.

Menepis 3 Mitos Salah Seputar Lupus

Mitos yang beredar tentang lupus bukan sekadar kesalahpahaman biasa. Jika dipercaya, informasi yang keliru ini dapat membuat pasien menunda pemeriksaan hingga menghentikan pengobatan.

Baca juga: Banyak Diderita Perempuan Muda, Ini Penyebab Lupus

Akibatnya, penyakit bisa terus berkembang tanpa terkendali dan meningkatkan risiko kerusakan organ yang sebenarnya dapat dicegah dengan pengobatan yang tepat. Sebab itu, penting memahami fakta medis yang benar dan tidak percaya mitos.

Untuk menghentikan salah kaprah yang beredar, berikut adalah tiga mitos tentang lupus yang paling banyak dipercaya:

1. Semua obat lupus merusak ginjal

Ini merupakan salah satu mitos yang paling sering ditemui. Banyak pasien atau anggota keluarga yang khawatir menjalani pengobatan jangka panjang, karena takut obat-obatan yang dikonsumsi akan merusak ginjal. Padahal, faktanya justru sebaliknya.

"Mitos nomor satu yang paling sering itu adalah semua obat merusak ginjal. Padahal sebaliknya, dengan kita mengendalikan lupus, kita bisa mencegah komplikasi lupus ke organ tubuh, dan salah satunya ginjal,” jelas dr. Sandra.

“Jadi kalau disederhanakan, justru dengan kita mengobati lupusnya dengan baik, kita justru bisa mencegah kerusakan ginjalnya, bukan menyebabkan kerusakan ginjal tersebut," lanjutnya.

Dengan kata lain, pengobatan yang tepat membantu melindungi organ tubuh dari kerusakan akibat lupus, termasuk ginjal yang merupakan salah satu organ yang paling sering terdampak penyakit ini.

2. Lupus tidak bisa sembuh, percuma diobati

Lupus memang merupakan penyakit kronis yang berlangsung seumur hidup, sebab itu sebagian orang beranggapan bahwa berobat tidak akan memberikan manfaat karena penyakitnya tidak bisa sembuh total.

Namun menurut dr. Sandra, ini adalah anggapan yang keliru.

"Lupus itu memang enggak bisa sembuh sempurna, tapi kita justru harus cepat-cepat obati dengan pengobatan yang efektif, supaya enggak terlanjur mengganggu organ. Kita maunya ngobati lupus masih ringan, belum rusak ini rusak itu organ-organ tubuhnya. Kalau diobati dengan cepat, akan lebih baik hasilnya," ujar dr. Sandra dengan mantap.

Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, lupus bisa dikendalikan hingga mencapai kondisi remisi, yaitu fase ketika aktivitas penyakit sangat rendah atau bahkan tidak menimbulkan gejala.

Oleh sebab itu, semakin cepat pengobatan dimulai, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan organ yang permanen.

Baca juga: Selena Gomez Alami Radang Sendi Komplikasi Lupus, Ini Fakta Penyakitnya

3. Wanita penyandang lupus tidak bisa hamil

Mitos ini sering membuat pasien lupus yang masih berada di usia produktif merasa khawatir dan kehilangan harapan untuk memiliki keturunan.

Padahal, wanita dengan lupus tetap memiliki peluang untuk hamil dan melahirkan dengan aman, asalkan penyakitnya terkontrol dengan baik.

"Mitos lain soal lupus, enggak bisa hamil. Bisa hamil! Asal terkendali baik, makanya dikendalikan sejak awal dengan pengobatan yang baik dan pola hidup sehat. Bisa kok hamil. Bisa direncanakan kehamilannya, jadi bukan benar-benar enggak bisa hamil," tutur dr. Sandra.

Itu sebabnya, pasien lupus yang ingin merencanakan kehamilan, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar, kondisi penyakit dapat dipantau dan dikendalikan dengan optimal.

Pentingnya Deteksi Dini dan Pengobatan yang Tepat

Pada dasarnya, kunci utama untuk hidup berkualitas dengan lupus adalah deteksi dini, pengobatan yang sesuai, serta kepatuhan menjalani terapi yang dianjurkan dokter.

Jika muncul gejala yang mengarah pada lupus, seperti nyeri sendi berkepanjangan, kelelahan ekstrem, atau ruam pada kulit, segera berkonsultasi pada dokter spesialis reumatologi.

Hindari percaya mitos yang belum terbukti secara ilmiah, karena keterlambatan penanganan pada lupus, justru dapat meningkatkan risiko kerusakan organ yang lebih serius.

Baca juga: Ketahui Gejala Lupus yang Bisa Muncul 10 Tahun Setelah Penyakit Menyerang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau