Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Infeksi Saluran Kemih Saat Hamil, Dokter Ungkap Gejala yang Harus Diwaspadai

Kompas.com, 9 Mei 2026, 22:01 WIB
Devi Pattricia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehamilan membuat tubuh perempuan mengalami berbagai perubahan, termasuk pada sistem kekebalan dan saluran kemih. 

Perubahan ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih (ISK), kondisi yang kerap dianggap sepele karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan tepat, infeksi saluran kemih saat hamil dapat menimbulkan komplikasi serius, salah satunya memicu kontraksi dini yang berisiko menyebabkan persalinan prematur.

Baca juga: 5 Penyebab Infeksi Saluran Kemih, Bukan Hanya karena Menahan Pipis

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG mengingatkan, infeksi saluran kemih pada ibu hamil sering kali berlangsung tanpa keluhan yang jelas.

“Infeksi saluran kemih itu tidak bergejala tapi punya efek klinis bikin premature contraction atau bikin mulas,” kata dia dalam Media Meet Up Eka Hospital PIK & Pluit di Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).

Karena minim gejala, banyak ibu hamil baru menyadari adanya infeksi ketika kondisinya sudah berkembang lebih jauh.

Mengapa infeksi bisa memicu kontraksi dini?

Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG dalam Media Meet Up Eka Hospital PIK & Pluit di Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG dalam Media Meet Up Eka Hospital PIK & Pluit di Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).

Menurut dr. Krisantus, infeksi yang terjadi selama kehamilan, baik pada saluran kemih maupun bagian tubuh lain, dapat memicu respons peradangan dalam tubuh.

“Dengan adanya infeksi, baik infeksi di saluran kemih atau di tempat lain, bahkan berat badan berlebih juga salah satu peradangan tapi subklinikal,” jelasnya.

Respons peradangan tersebut membuat tubuh menjadi lebih sensitif dan dapat memicu kontraksi sebelum waktunya.

“Ada penelitian menyatakan, obesitas meningkatkan risiko preterm contraction itu makin tinggi karena berat badan berlebih itu bikin sistem imunnya itu lebih sensitif,” tambahnya.

Dalam kondisi tertentu, tubuh dapat merespons infeksi seolah sedang menolak keberadaan janin. Respons inilah yang kemudian memicu kontraksi meski usia kehamilan belum cukup bulan.

Kondisi ini berbeda dengan infeksi lain seperti keputihan yang biasanya lebih mudah disadari ibu hamil karena memunculkan perubahan fisik yang terlihat. Pada infeksi saluran kemih, tanda-tandanya sering tersembunyi.

Sering tak bergejala, pemeriksaan urine jadi penting

Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi infeksi saluran kemih saat hamil adalah sifatnya yang sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

“Infeksi saluran kemih biasanya pasien enggak sadar, makanya pasien sering diperiksa urine dulu walaupun belum ada gejala,” ujar dr. Krisantus.

Pemeriksaan urine rutin selama kehamilan menjadi langkah penting untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi sejak dini. 

Melalui tes laboratorium, dokter dapat melihat adanya bakteri, sel darah putih, atau indikator lain yang mengarah pada infeksi.

“Sebab, kalau sudah muncul gejala biasanya infeksinya sudah lanjut. Walaupun belum gejala tapi dari urine sudah bisa kelihatan tanda infeksi. Biasanya tetap kami obati karena ada risiko untuk mulas sebelum waktunya,” jelasnya.

Baca juga: Faktor Risiko Wanita Lebih Mungkin Terkena Infeksi Saluran Kemih

Karena itulah, pemeriksaan antenatal secara rutin tidak hanya bertujuan memantau pertumbuhan janin, tetapi juga memastikan tidak ada kondisi tersembunyi yang dapat membahayakan kehamilan.

Kenali gejala infeksi saluran kemih

Meski kerap tanpa gejala, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai ibu hamil.

“Gejala umumnya sama seperti anyang-anyangan. Kalau pipisnya perih, nyeri perut bawah, di akhir pipis itu rasa terbakar. Ini sudah termasuk simptomatik urinary tract infection,” kata dr. Krisantus.

Keluhan tersebut menandakan infeksi sudah mulai menunjukkan gejala klinis dan memerlukan evaluasi medis.

Rasa tidak nyaman saat buang air kecil, frekuensi buang air kecil yang meningkat disertai nyeri, hingga sensasi terbakar merupakan gejala klasik yang tidak boleh diabaikan.

Jika kondisi berkembang lebih lanjut, infeksi dapat menyebar ke ginjal.

“Apalagi kalau ibunya sampai demam, kemungkinan infeksinya itu sudah lebih naik salurannya ke ginjal,” tegasnya.

Infeksi yang telah mencapai ginjal, tentu jauh lebih serius dan dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin.

Jangan menunda pemeriksaan

Infeksi saluran kemih saat hamil dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi lebih awal. 

Maka dari itu, ibu hamil disarankan tidak menunda pemeriksaan jika mengalami keluhan sekecil apa pun.

Selain kontrol rutin, menjaga kebersihan area intim, cukup minum air putih, serta menjaga berat badan tetap ideal juga menjadi langkah pencegahan yang penting.

Kesadaran terhadap perubahan tubuh selama kehamilan menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi. Sebab, infeksi yang tampak ringan sekalipun bisa berdampak besar jika dibiarkan tanpa penanganan.

 Baca juga: Gejala Infeksi Saluran Kemih pada Wanita yang Sering Terjadi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau