Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Polusi Udara Berbahaya untuk Ibu Hamil? Ini Faktanya

Kompas.com, 2 Mei 2026, 19:00 WIB
Devi Pattricia,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

KOMPAS.com - Papaparan polusi udara pada ibu hamil, dampaknya bisa jauh lebih serius karena paparan polutan tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga perkembangan janin di dalam kandungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 99 persen populasi dunia kini menghirup udara yang kualitasnya berada di bawah standar aman kesehatan.

Dokter spesialis kandungan sekaligus Director and Senior Consultant di Cloudnine Group of Hospitals New Delhi, Dr. Sunita Lamba menjelaskan,  tubuh perempuan mengalami banyak perubahan selama kehamilan, termasuk peningkatan kebutuhan oksigen.

“Karena ibu hamil menghirup volume udara yang lebih besar, mereka juga menghirup lebih banyak polutan. Partikel ini dapat masuk ke aliran darah dan melewati plasenta, sehingga berpotensi membahayakan bayi,” ujar Dr. Lamba, dikutip dari Only My Health, Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: Polusi dan Kekeringan Mengintai Jakarta Saat El Nino, BPBD DKI Siapkan Mitigasi

Lalu, seperti apa pengaruh polusi udara terhadap ibu hamil? Berikut penjelasannya.

Mengapa ibu hamil lebih rentan terhadap polusi udara?

Selama kehamilan, tubuh bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan janin yang sedang tumbuh. Salah satu dampaknya adalah sistem pernapasan menjadi lebih aktif untuk memasok oksigen tambahan.

Kondisi ini membuat ibu hamil secara alami menghirup udara dalam jumlah lebih banyak dibandingkan biasanya. 

Jika udara yang dihirup mengandung polutan seperti partikulat halus (PM2.5), karbon monoksida, nitrogen dioksida, atau zat kimia berbahaya lain, maka paparan yang diterima tubuh juga meningkat.

Dr. Lamba menjelaskan, paparan polusi dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas di dalam tubuh meningkat dan merusak sel sehat.

“Stres oksidatif dapat merusak plasenta, mengganggu aliran nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin,” jelasnya.

Sumber polusi sendiri tidak hanya berasal dari asap kendaraan atau pabrik, tetapi juga dari paparan asap rokok, kompor gas tanpa ventilasi baik, pembakaran sampah, hingga debu konstruksi.

Baca juga: Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia

Risiko polusi udara bagi perkembangan janin

Paparan polusi selama kehamilan dapat berdampak langsung pada tumbuh kembang bayi sejak dalam kandungan.

1. Berat badan lahir rendah

Salah satu risiko paling umum adalah bayi lahir dengan berat badan rendah. Kondisi ini terjadi ketika suplai oksigen dan nutrisi ke janin terganggu akibat fungsi plasenta yang tidak optimal.

Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan pada awal kehidupan, termasuk infeksi dan keterlambatan tumbuh kembang.

Halaman:


Terkini Lainnya
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
Wellness
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Relationship
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Relationship
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Fashion
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Fashion
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Wellness
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Relationship
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
Beauty & Grooming
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Fashion
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Wellness
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Relationship
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Relationship
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Wellness
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
Wellness
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
Beauty & Grooming
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau