Penulis
KOMPAS.com - Kejadian sopir mobil Panther ditemukan meninggal di Tol Jakarta–Cikampek menjadi pengingat bahwa keluhan yang sering disebut “angin duduk” bisa muncul mendadak.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menyebut “angin duduk” merupakan istilah awam, tetapi keluhannya dapat terkait gangguan aliran darah ke otot jantung.
Gejalanya tidak selalu berupa nyeri dada, sehingga sebagian orang bisa terlambat menyadari kondisi tersebut.
Evaluasi medis segera dinilai penting, terutama bila keluhan muncul tiba-tiba dan ada penyakit penyerta.
Baca juga: Apa yang Dimaksud Angin Duduk dalam Dunia Medis? Ini Ulasannya...
Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kamis (22/1/2026), mobil Isuzu Panther melaju sendiri di Tol Jakarta–Cikampek pada Rabu (21/1/2026).
Video yang beredar menunjukkan mobil berjalan perlahan tanpa respons pengemudi, sementara kendaraan lain mengiringi sambil membunyikan klakson.
Mobil berhenti setelah tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.
Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal mengatakan pengemudi berinisial FP diduga mengalami sakit saat mengemudi dan kemudian dinyatakan meninggal dunia saat petugas memeriksa di lokasi.
Baca juga: Sopir Taksi Kena Angin Duduk, Dokter: Itu Henti Jantung, Bukan Angina
Ilustrasi serangan jantung. Kasus sopir meninggal mendadak di Tol Japek menjadi pengingat bahwa gejala yang sering disebut angin duduk bisa muncul tiba-tiba dan perlu segera ditangani.Istilah “angin duduk” sering dipakai masyarakat saat seseorang tiba-tiba merasa tidak enak badan lalu lemas dan ingin duduk.
“Kalau dari kacamata medis ini sebenarnya terjadi gangguan perfusi, gangguan aliran darah ke otot-otot jantung,” kata Andi kepada Kompas.com, Kamis.
Kondisi itu membuat otot jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup, lalu tubuh dapat terasa sangat lemas secara mendadak.
Baca juga: Kenali Angina Pectoris yang Sering Dijuluki Angin Duduk
Andi menjelaskan, gejala “angin duduk” bisa berbeda pada tiap orang dan tidak selalu muncul sebagai nyeri dada. Beberapa keluhan yang disebut dapat muncul, yakni:
Ia menekankan, gejala yang datang mendadak perlu diwaspadai, apalagi bila disertai riwayat penyakit tertentu.
Baca juga: Apakah Angin Duduk Berbahaya? Ini Ulasannya...
Andi menyebut risiko keluhan yang sering disebut “angin duduk” dapat meningkat pada kelompok tertentu, terutama bila ada penyakit penyerta dan kebiasaan hidup tidak sehat. Faktor risiko "angin duduk", yakni:
Andi menyarankan, orang dengan faktor risiko tersebut melakukan pemeriksaan berkala dan segera mencari pertolongan medis bila keluhan muncul tiba-tiba.
Baca juga: Perbedaan Angin Duduk dan Serangan Jantung
Gejala mendadak yang disertai komorbid perlu ditangani sebagai kondisi serius.
“Kalau ada gejala seperti ini dan apalagi memang ada komorbid, kita sarankan segera mendapatkan pertolongan dan evaluasi dari tenaga medis,” kata Andi.
Pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat mencakup rekam jantung, pemeriksaan kolesterol, gula darah, dan tanda vital.
Data tersebut membantu membedakan keluhan yang lebih ringan dengan kondisi yang perlu penanganan lebih cepat.
Baca juga: Kenali Angin Duduk yang Diduga Pemicu Pemeran Kang Gobang Meninggal Dunia
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang