Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sopir Meninggal Mendadak di Tol Japek, Dokter Jelaskan Apa Itu “Angin Duduk”

Kompas.com, 23 Januari 2026, 09:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Kejadian sopir mobil Panther ditemukan meninggal di Tol Jakarta–Cikampek menjadi pengingat bahwa keluhan yang sering disebut “angin duduk” bisa muncul mendadak.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menyebut “angin duduk” merupakan istilah awam, tetapi keluhannya dapat terkait gangguan aliran darah ke otot jantung.

Gejalanya tidak selalu berupa nyeri dada, sehingga sebagian orang bisa terlambat menyadari kondisi tersebut.

Evaluasi medis segera dinilai penting, terutama bila keluhan muncul tiba-tiba dan ada penyakit penyerta.

Baca juga: Apa yang Dimaksud Angin Duduk dalam Dunia Medis? Ini Ulasannya...

Kasus Tol Japek, pengemudi diduga sakit saat mengemudi

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kamis (22/1/2026), mobil Isuzu Panther melaju sendiri di Tol Jakarta–Cikampek pada Rabu (21/1/2026).

Video yang beredar menunjukkan mobil berjalan perlahan tanpa respons pengemudi, sementara kendaraan lain mengiringi sambil membunyikan klakson.

Mobil berhenti setelah tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.

Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal mengatakan pengemudi berinisial FP diduga mengalami sakit saat mengemudi dan kemudian dinyatakan meninggal dunia saat petugas memeriksa di lokasi.

Baca juga: Sopir Taksi Kena Angin Duduk, Dokter: Itu Henti Jantung, Bukan Angina

Ilustrasi serangan jantung. Kasus sopir meninggal mendadak di Tol Japek menjadi pengingat bahwa gejala yang sering disebut angin duduk bisa muncul tiba-tiba dan perlu segera ditangani.Shutterstock/thebigland Ilustrasi serangan jantung. Kasus sopir meninggal mendadak di Tol Japek menjadi pengingat bahwa gejala yang sering disebut angin duduk bisa muncul tiba-tiba dan perlu segera ditangani.

Istilah “angin duduk” sering dipakai masyarakat saat seseorang tiba-tiba merasa tidak enak badan lalu lemas dan ingin duduk.

“Kalau dari kacamata medis ini sebenarnya terjadi gangguan perfusi, gangguan aliran darah ke otot-otot jantung,” kata Andi kepada Kompas.com, Kamis.

Kondisi itu membuat otot jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup, lalu tubuh dapat terasa sangat lemas secara mendadak.

Baca juga: Kenali Angina Pectoris yang Sering Dijuluki Angin Duduk

Gejala “angin duduk” yang perlu diwaspadai

Andi menjelaskan, gejala “angin duduk” bisa berbeda pada tiap orang dan tidak selalu muncul sebagai nyeri dada. Beberapa keluhan yang disebut dapat muncul, yakni:

  • Nyeri dada
  • Nyeri ulu hati
  • Pusing
  • Nyeri di tengkuk
  • Nyeri di rahang bagian bawah
  • Nyeri di punggung
  • Tiba-tiba lemas
  • Pandangan gelap atau berkunang-kunang
  • Tiba-tiba jatuh atau hampir pingsan

Ia menekankan, gejala yang datang mendadak perlu diwaspadai, apalagi bila disertai riwayat penyakit tertentu.

Baca juga: Apakah Angin Duduk Berbahaya? Ini Ulasannya...

Andi menyebut risiko keluhan yang sering disebut “angin duduk” dapat meningkat pada kelompok tertentu, terutama bila ada penyakit penyerta dan kebiasaan hidup tidak sehat. Faktor risiko "angin duduk", yakni:

  • Usia di atas 40 tahun
  • Obesitas
  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Dislipidemia atau kolesterol tinggi
  • Hiperurisemia
  • Kebiasaan merokok
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Pola makan tinggi garam, tinggi lemak, dan tinggi gula
  • Riwayat keluarga dengan masalah serupa

Andi menyarankan, orang dengan faktor risiko tersebut melakukan pemeriksaan berkala dan segera mencari pertolongan medis bila keluhan muncul tiba-tiba.

Baca juga: Perbedaan Angin Duduk dan Serangan Jantung

Kapan perlu mencari pertolongan medis?

Gejala mendadak yang disertai komorbid perlu ditangani sebagai kondisi serius.

“Kalau ada gejala seperti ini dan apalagi memang ada komorbid, kita sarankan segera mendapatkan pertolongan dan evaluasi dari tenaga medis,” kata Andi.

Pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat mencakup rekam jantung, pemeriksaan kolesterol, gula darah, dan tanda vital.

Data tersebut membantu membedakan keluhan yang lebih ringan dengan kondisi yang perlu penanganan lebih cepat.

Baca juga: Kenali Angin Duduk yang Diduga Pemicu Pemeran Kang Gobang Meninggal Dunia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau