Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sopir Mobil Meninggal di Tol Japek, Dokter Jelaskan Gejala “Angin Duduk” yang Bisa Muncul Mendadak

Kompas.com, 23 Januari 2026, 07:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Mobil Isuzu Panther mendadak melaju sendiri di Tol Jakarta–Cikampek arah Cikampek pada Rabu (21/1/2026) dan berhenti setelah tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.

Sopir berinisial FP ditemukan meninggal dunia setelah petugas ambulans dan plaza tol melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.

Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal menyebut pengemudi diduga mengalami sakit saat mengemudi dan sempat berhenti di lajur 4 sebelum kembali memaksakan berjalan.

Peristiwa itu ramai dibicarakan publik, termasuk dugaan korban mengalami “angin duduk”, istilah awam yang kerap muncul saat seseorang mendadak lemas atau nyeri dada.

Baca juga: Kenali Angin Duduk yang Diduga Pemicu Pemeran Kang Gobang Meninggal Dunia

Kronologi mobil melaju sendiri di Tol Jakarta–Cikampek

Diberitakan Kompas.com sebelumnya pada Kamis (22/1/2026), mobil Panther berwarna silver terlihat berjalan perlahan di lajur kanan tol, sementara sebuah truk putih mengiringi sambil berulang kali membunyikan klakson.

Klakson dibunyikan karena pengemudi terlihat tidak memegang setir dan tidak merespons, tetapi mobil tetap melaju tanpa kendali.

Mobil baru berhenti setelah menabrak pembatas jalan di area putaran balik (u-turn), lalu tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.

Pengguna jalan melapor dan meminta bantuan, namun pengemudi dinyatakan sudah meninggal dunia saat petugas melakukan pengecekan, lalu korban dan kendaraan dievakuasi ke tempat aman.

Baca juga: Pemeran Kang Gobang Meninggal: Muntah-muntah Bisa Jadi Gejala Angin Duduk

Dokter: “Angin duduk” istilah awam

Ilustrasi stroke. Dari kronologi mobil melaju tanpa kendali hingga sopir meninggal, dokter memaparkan makna ?angin duduk? dan gejala yang perlu diwaspadai.Pexels/freestocks.org Ilustrasi stroke. Dari kronologi mobil melaju tanpa kendali hingga sopir meninggal, dokter memaparkan makna ?angin duduk? dan gejala yang perlu diwaspadai.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menjelaskan bahwa “angin duduk” bukan istilah medis, tetapi sering dipakai untuk menggambarkan keluhan yang muncul tiba-tiba hingga orang merasa harus duduk karena lemas.

“Kalau dari kacamata medis, ini terjadi gangguan perfusi, gangguan aliran darah ke otot-otot jantung, sehingga otot jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup,” kata Andi dalam wawancara dengan Kompas.com pada Kamis.

Andi menyebut kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penyempitan mendadak atau gangguan lain yang memicu hipoperfusi, lalu membuat tubuh terasa sangat lemas.

Baca juga: Kang Gobang Preman Pensiun Meninggal Diduga karena Angin Duduk, Apa Gejalanya?

Gejala bisa beragam, bukan hanya nyeri dada

Andi mengatakan keluhan dapat muncul sebagai nyeri dada, tetapi pada sebagian orang keluhan bisa terasa di ulu hati, tengkuk, rahang bawah, punggung, atau disertai pusing.

“Anda bisa merasa tiba-tiba lemas, pandangan gelap, berkunang-kunang, bahkan bisa jatuh,” ujar Andi.

Andi menekankan gejala seperti itu perlu dianggap serius, terutama bila muncul mendadak dan disertai riwayat penyakit tertentu.

Baca juga: Apa Perbedaan Gejala Angin Duduk dan Serangan Jantung?

Kelompok berisiko dan kapan perlu segera ke dokter

Andi menjelaskan risiko meningkat pada usia di atas 40 tahun, terutama bila ada obesitas dan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.

Pola makan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi gula, konsumsi alkohol, serta riwayat keluarga juga disebut dapat memperbesar risiko.

“Intinya, kalau ada gejala seperti ini, apalagi ada komorbid, kami sarankan segera mendapatkan pertolongan dan evaluasi tenaga medis atau fasilitas kesehatan terdekat,” kata Andi.

Andi menjelaskan pemeriksaan di fasilitas kesehatan biasanya mencakup rekam jantung, pemeriksaan kolesterol dan gula darah, serta tanda vital agar keluhan dapat dinilai lebih komprehensif dan dibedakan dari masalah lain seperti gangguan lambung.

Andi juga mendorong masyarakat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan berkala, termasuk program cek kesehatan gratis yang mulai digerakkan pemerintah, agar faktor risiko dapat terdeteksi lebih awal.

Baca juga: Siapa yang Berisiko Alami Angina Pectoris alias Angin Duduk?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau