Penulis
KOMPAS.com - Mobil Isuzu Panther mendadak melaju sendiri di Tol Jakarta–Cikampek arah Cikampek pada Rabu (21/1/2026) dan berhenti setelah tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.
Sopir berinisial FP ditemukan meninggal dunia setelah petugas ambulans dan plaza tol melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.
Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal menyebut pengemudi diduga mengalami sakit saat mengemudi dan sempat berhenti di lajur 4 sebelum kembali memaksakan berjalan.
Peristiwa itu ramai dibicarakan publik, termasuk dugaan korban mengalami “angin duduk”, istilah awam yang kerap muncul saat seseorang mendadak lemas atau nyeri dada.
Baca juga: Kenali Angin Duduk yang Diduga Pemicu Pemeran Kang Gobang Meninggal Dunia
Diberitakan Kompas.com sebelumnya pada Kamis (22/1/2026), mobil Panther berwarna silver terlihat berjalan perlahan di lajur kanan tol, sementara sebuah truk putih mengiringi sambil berulang kali membunyikan klakson.
Klakson dibunyikan karena pengemudi terlihat tidak memegang setir dan tidak merespons, tetapi mobil tetap melaju tanpa kendali.
Mobil baru berhenti setelah menabrak pembatas jalan di area putaran balik (u-turn), lalu tersangkut pembatas kerucut lalu lintas di sekitar Exit Tol Tambun KM 21.
Pengguna jalan melapor dan meminta bantuan, namun pengemudi dinyatakan sudah meninggal dunia saat petugas melakukan pengecekan, lalu korban dan kendaraan dievakuasi ke tempat aman.
Baca juga: Pemeran Kang Gobang Meninggal: Muntah-muntah Bisa Jadi Gejala Angin Duduk
Ilustrasi stroke. Dari kronologi mobil melaju tanpa kendali hingga sopir meninggal, dokter memaparkan makna ?angin duduk? dan gejala yang perlu diwaspadai.Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), menjelaskan bahwa “angin duduk” bukan istilah medis, tetapi sering dipakai untuk menggambarkan keluhan yang muncul tiba-tiba hingga orang merasa harus duduk karena lemas.
“Kalau dari kacamata medis, ini terjadi gangguan perfusi, gangguan aliran darah ke otot-otot jantung, sehingga otot jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup,” kata Andi dalam wawancara dengan Kompas.com pada Kamis.
Andi menyebut kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penyempitan mendadak atau gangguan lain yang memicu hipoperfusi, lalu membuat tubuh terasa sangat lemas.
Baca juga: Kang Gobang Preman Pensiun Meninggal Diduga karena Angin Duduk, Apa Gejalanya?
Andi mengatakan keluhan dapat muncul sebagai nyeri dada, tetapi pada sebagian orang keluhan bisa terasa di ulu hati, tengkuk, rahang bawah, punggung, atau disertai pusing.
“Anda bisa merasa tiba-tiba lemas, pandangan gelap, berkunang-kunang, bahkan bisa jatuh,” ujar Andi.
Andi menekankan gejala seperti itu perlu dianggap serius, terutama bila muncul mendadak dan disertai riwayat penyakit tertentu.
Baca juga: Apa Perbedaan Gejala Angin Duduk dan Serangan Jantung?
Andi menjelaskan risiko meningkat pada usia di atas 40 tahun, terutama bila ada obesitas dan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.
Pola makan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi gula, konsumsi alkohol, serta riwayat keluarga juga disebut dapat memperbesar risiko.
“Intinya, kalau ada gejala seperti ini, apalagi ada komorbid, kami sarankan segera mendapatkan pertolongan dan evaluasi tenaga medis atau fasilitas kesehatan terdekat,” kata Andi.
Andi menjelaskan pemeriksaan di fasilitas kesehatan biasanya mencakup rekam jantung, pemeriksaan kolesterol dan gula darah, serta tanda vital agar keluhan dapat dinilai lebih komprehensif dan dibedakan dari masalah lain seperti gangguan lambung.
Andi juga mendorong masyarakat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan berkala, termasuk program cek kesehatan gratis yang mulai digerakkan pemerintah, agar faktor risiko dapat terdeteksi lebih awal.
Baca juga: Siapa yang Berisiko Alami Angina Pectoris alias Angin Duduk?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang