KOMPAS.com - Sakit kepala bisa terasa di berbagai bagian, mulai dari dahi, pelipis, hingga belakang kepala. Namun, tahukah kamu bahwa lokasi nyeri tersebut bisa memberikan petunjuk tentang penyebabnya?
Memahami titik munculnya sakit kepala dapat membantu mengenali jenisnya sekaligus menentukan penanganan yang tepat.
Meski sebagian besar tidak berbahaya, beberapa kondisi juga bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang lebih serius.
Baca juga: Thunderclap Headache, Sakit Kepala Hebat yang Bisa Jadi Tanda Pendarahan Otak
“Lokasi nyeri kepala hanyalah salah satu bagian dari diagnosis, tetapi bisa memberikan petunjuk penting tentang penyebabnya,” kata ahli saraf Teshamae Monteith, seperti dikutip Everyday Health, Kamis (19/3/2026).
Jika kamu merasa seperti ada tekanan yang melingkari seluruh kepala, kemungkinan besar ini adalah sakit kepala tipe tegang (tension headache). Rasa nyeri biasanya digambarkan seperti kepala diikat kencang.
Ini adalah gambaran khas dari sakit kepala tegang,” jelas Dr. Monteith.
Kondisi ini sering dipicu oleh stres, kurang tidur, serta ketegangan otot di leher, bahu, dan rahang. Meski terasa mengganggu, jenis sakit kepala ini umumnya tidak berbahaya.
Untuk meredakannya, kamu bisa beristirahat cukup, melakukan peregangan, atau mengelola stres dengan lebih baik.
Nyeri hebat yang terasa menusuk di belakang satu mata bisa menjadi tanda sakit kepala cluster. Jenis ini termasuk gangguan yang cukup serius karena rasa sakitnya sangat intens.
“Nyeri yang muncul di satu sisi kepala, terutama di belakang mata, sering terkait dengan sakit kepala cluster,” kata dia.
Gejalanya bisa disertai mata merah, berair, hidung tersumbat, hingga kelopak mata turun. Serangan bisa terjadi berulang selama beberapa minggu atau bulan.
Baca juga: Tekanan Darah Tinggi Sebabkan Sakit Kepala, Mitos atau Fakta?
Jika nyeri terasa di bagian belakang kepala hingga leher, kemungkinan penyebabnya adalah masalah pada leher, seperti tegang otot atau saraf terjepit.
Jenis ini dikenal sebagai cervicogenic headache, yaitu sakit kepala yang berasal dari leher.
“Nyeri ini terjadi karena adanya hubungan antara struktur sensitif di kepala dan leher,” tutur Dr. Monteith.
Biasanya, rasa sakit akan semakin parah saat leher digerakkan. Terapi fisik dan pijat dapat membantu meredakan kondisi ini.
Sakit kepala yang hanya terjadi di satu sisi kepala sering dikaitkan dengan migrain. Rasa nyeri biasanya berdenyut dan bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari.
Migrain juga sering disertai gejala lain seperti mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
Menurut Dr. Monteith, migrain merupakan salah satu jenis sakit kepala yang paling umum. Pemicu migrain bisa berbeda pada setiap orang, mulai dari stres hingga pola makan.
Nyeri di area dahi, sekitar mata, dan pipi sering dikaitkan dengan sakit kepala sinus. Biasanya, kondisi ini terjadi bersamaan dengan hidung tersumbat atau infeksi saluran pernapasan.
Gejalanya meliputi tekanan di wajah, rasa berat, dan nyeri yang memburuk saat membungkuk.
Namun, penting diketahui bahwa banyak kasus yang dikira sinus ternyata adalah migrain.
Baca juga: Bolehkah Atasi Sakit Kepala dengan Obat Warung? Ini Penjelasan Dokter
Nyeri di pelipis bisa disebabkan oleh berbagai jenis sakit kepala, termasuk migrain dan sakit kepala tegang.
Namun, pada usia di atas 50 tahun, kondisi ini juga bisa menjadi tanda penyakit serius seperti arteritis temporal.
“Arteritis temporal terjadi ketika pembuluh darah di sekitar pelipis mengalami peradangan,” ucap Dr. Monteith.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan penglihatan, nyeri rahang, dan penurunan berat badan. Kondisi ini memerlukan penanganan segera karena berisiko menyebabkan komplikasi serius.
Memahami lokasi sakit kepala dapat membantu kamu mengenali penyebabnya lebih cepat.
Namun, jika sakit kepala disertai gejala seperti demam tinggi, gangguan penglihatan, atau kehilangan kesadaran, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca juga: Apa Beda Pusing dan Sakit Kepala? Ini Penjelasan Dokter
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang