Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?

Kompas.com, 1 Juni 2026, 16:31 WIB
Inten Esti Pratiwi

Penulis

Sumber BBC

KOMPAS.com - Otoritas kesehatan Brasil saat ini tengah memantau ketat dua pasien yang diduga bergejala infeksi virus Ebola. Pemantauan intensif ini dilakukan di dua kota terbesar di negara tersebut, yaitu São Paulo dan Rio de Janeiro.

Kasus pertama melibatkan seorang pria berusia 37 tahun asal Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Pemerintah negara bagian São Paulo mengonfirmasi bahwa pasien tersebut "menunjukkan gejala seperti demam".

Sementara itu, kasus kedua dilaporkan oleh Departemen Kesehatan Negara Bagian Rio de Janeiro.

Pihak berwenang menyatakan telah mengaktifkan protokol keselamatan setelah seorang pria asal Belgia yang baru tiba dari Uganda menunjukkan "gejala virus seperti batuk, menggigil, dan diare".

Hasil tes laboratorium untuk kedua pasien tersebut dijadwalkan keluar pada pekan depan.

Jika hasil tes dinyatakan positif, ini akan menjadi kasus infeksi Ebola pertama yang terkonfirmasi di luar benua Afrika sejak wabah terbaru dimulai di RD Kongo, dilansir dari BBC, Senin (1/6/2026).

Baca juga: Wabah Ebola Hantam Kongo dan Uganda, WHO: Penyakit karena Merawat Orang Tercinta

Diagnosis penyakit lain pada pasien suspek

Meskipun kedua pasien masih dalam status pemantauan terkait virus Ebola, tim medis telah mendiagnosis keduanya dengan kondisi kesehatan lain.

Di São Paulo, pria asal RD Kongo tersebut dinyatakan positif mengidap penyakit meningitis dan saat ini dilaporkan dalam kondisi serius.

Di sisi lain, pasien pria asal Belgia yang dirawat di Rio de Janeiro dinyatakan positif mengidap penyakit malaria.

Kendati demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa diagnosis penyakit lain tersebut tidak serta-merta menggugurkan kemungkinan bahwa pasien tersebut juga terinfeksi Ebola.

Baca juga: Pakar Ungkap Wabah Penyakit Menular seperti Hantavirus dan Ebola Makin Sering dan Kian Merusak

Data terkini wabah Ebola strain Bundibugyo

Hingga saat ini, situasi wabah Ebola di Afrika kian memprihatinkan. Di RD Kongo, tercatat sudah ada lebih dari 1.000 kasus dugaan (suspek) Ebola dengan sedikitnya 246 korban meninggal dunia.

Sementara itu, Uganda telah melaporkan sembilan kasus yang terkonfirmasi positif dan satu kasus kematian.

Wabah yang terjadi saat ini dipicu oleh jenis atau strain Ebola yang tergolong langka, yang dikenal sebagai Strain Bundibugyo.

Karakteristik strain ini sangat diwaspadai karena belum memiliki vaksin yang terbukti efektif secara medis, serta memiliki tingkat kematian (mortalitas) mencapai sekitar sepertiga dari total jumlah orang yang terinfeksi.

Baca juga: Ebola Bundibugyo Mewabah, Apa yang Membuat Varian Ini Sangat Mengkhawatirkan?

Cara penularan dan respons WHO

Secara ilmiah, virus Ebola pada umumnya menginfeksi hewan terlebih dahulu, terutama kelelawar buah. Wabah di kalangan manusia biasanya dimulai ketika seseorang mengonsumsi atau bersentuhan langsung dengan hewan yang telah terinfeksi tersebut.

Halaman:


Terkini Lainnya
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Tren
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
Tren
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Tren
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
Tren
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Tren
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau