Penulis
KAJANG, KOMPAS.com - Di usia 10 tahun, saat anak-anak seusianya masih duduk di bangku sekolah, Muhammad Faizal Nor Azman justru menghabiskan hari-harinya membantu ibunya berjualan kue di kawasan pusat komersial Bandar Seri Putra, Kajang, Malaysia.
Kisah bocah ini menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial "Negeri Jiran" dan memunculkan simpati luas karena ia masih sangat kecil namun tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Muhammad Faizal diketahui merupakan salah satu dari enam anak dari Derce Jush (37), Derce Jush (37), ibu tunggal asal Flores, Indonesia, yang menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan di Kajang.
Baca juga: Sambut Idul Adha 2026, Hampir 5.000 WNI Mudik dari Malaysia Lewat Pelabuhan Stulang Laut
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Derce harus berjuang seorang diri setelah suaminya, Nur Azman Baharudin, meninggal dunia sekitar setahun lalu.
Derce tidak hanya menghadapi kesulitan ekonomi, melainkan juga persoalan serius pada pendidikan dan administrasi anak-anaknya. Keenam anaknya, termasuk Faizal, tidak bersekolah.
Saat ditemui Harian Metro Malaysia, Muhammad Faizal bersama kakaknya, Muhammad Hakim (13), bercerita mulai berjualan setiap hari sekitar pukul 09.00 pagi setelah sang ibu selesai menyiapkan kue.
“Biasanya keluar jam 9 pagi, pulang sekitar jam 11 siang. Kalau kue tidak habis, ibu akan menyedekahkannya ke surau,” kata Faizal, sebagaimana diberitakan Harian Metro pada Senin (1/6/2026).
Ia juga bercerita bahwa terkadang ada pelanggan yang baik hati mentraktir mereka makan di restoran sekitar.
“Kadang-kadang ada pelanggan yang belikan kami makan di restoran dekat sini,” ujarnya.
Untuk menjual kue, Faizal dan kakaknya biasanya berjalan kaki di sekitar kawasan tersebut. Sesekali, mereka juga menggunakan layanan transportasi daring yang dibantu oleh sang ibu.
Soal hasil jualan, Faizal mengaku tidak selalu sama setiap hari. Kadang habis terjual, kadang tidak.
Baca juga: Misteri Kematian Pria di Hotel Mewah Kuala Lumpur, Polisi Ungkap Dugaan “Pesta Narkoba” Libatkan WNI
Meski masih anak-anak, ia mengaku kadang merasa takut saat harus berjualan di luar rumah.
“Berani sikit saja,” katanya singkat.
Faizal juga mengakui bahwa ia belum pernah bersekolah, belum bisa membaca maupun menulis. Namun ketika ditanya apakah ia ingin sekolah, ia menjawab dengan tegas.
“Saya ingin sekolah,” ucapnya.
Saat ditanya cita-citanya, Faizal menjawab ingin menjadi polisi karena menurutnya pekerjaan itu terlihat hebat.
“Jadi polis sebab hebat,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang