Penulis
KOMPAS.com - Situasi keamanan di kawasan Teluk kembali membara setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan udara baru sepanjang akhir pekan.
Eskalasi militer ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi gencatan senjata yang tengah diupayakan oleh kedua belah pihak.
Akibat konflik yang terus berlanjut, jalur pelayaran vital di Selat Hormuz hingga saat ini dilaporkan masih terblokir total.
Blokade de facto ini mulai memberikan tekanan besar terhadap lonjakan harga bahan bakar global, mengingat sekitar seperlima dari total pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya bergantung pada jalur perairan Teluk tersebut.
Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Oman jika Tarik Pajak Selat Hormuz Bersama Iran
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa jet tempur mereka telah mengeksekusi serangkaian serangan udara defensif, dilansir dari BBC, Senin (1/6/2026).
Operasi ini menargetkan infrastruktur militer strategis Iran yang berada di wilayah daratan utama maupun pulau-pulau di sekitarnya.
"Komando Pusat AS melakukan serangan bela diri terhadap radar Iran dan situs komando serta kendali untuk pesawat tanpa awak (drone) di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm akhir pekan ini," demikian pernyataan resmi Centcom melalui unggahan di media sosial X.
Centcom merinci bahwa serangan tersebut berhasil menghantam sistem pertahanan udara militer Iran, sebuah stasiun kendali darat, serta dua unit drone.
Pihak militer AS mengeklaim alutsista tersebut "menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang transit di perairan regional".
Dalam pernyataan resminya, Pentagon juga memastikan tidak ada personel atau tentara AS yang terluka maupun menjadi korban dalam operasi militer tersebut.
Washington menegaskan aksi ini merupakan respons atas tindakan agresif Iran sebelumnya, termasuk penembakan jatuh drone MQ-1 milik AS yang diklaim tengah beroperasi di wilayah udara internasional.
Baca juga: Iran Balas Serangan AS, Selat Hormuz Kembali Memanas
Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melancarkan aksi balasan.
IRGC menyatakan telah membombardir sebuah pangkalan udara yang digunakan oleh pasukan AS. Serangan itu disebut sebagai aksi retaliasi atas hancurnya menara komunikasi mereka di Pulau Sirri, sebuah pulau strategis yang terletak di Teluk, berjarak sekitar 40 mil (65 kilometer) dari garis pantai selatan Iran.
Namun, IRGC tidak menyebutkan secara spesifik lokasi pangkalan udara AS yang mereka hantam.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan peringatan keras dari petinggi militer Teheran. Pihak IRGC menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika wilayahnya terus diusik.