Penulis
KOMPAS.com - Dunia saat ini dinilai semakin tidak tangguh dalam menghadapi lonjakan wabah penyakit menular.
Para pakar kesehatan global memperingatkan bahwa ancaman pandemi berkembang jauh lebih cepat daripada investasi yang dikucurkan untuk kesiapsiagaan kesehatan.
Peringatan ini muncul di tengah kerja keras otoritas kesehatan di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda dalam mengendalikan gelombang baru wabah virus Ebola.
Di saat yang sama, perhatian dunia juga tersedot oleh laporan wabah hantavirus yang menyerang sebuah kapal pesiar.
Badan Pemantau Kesiapsiagaan Global (GPMB), sebuah panel pakar yang dibentuk oleh Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), merilis laporan terbaru mereka pada Senin (18/5/2026).
Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa frekuensi wabah penyakit menular kini tidak hanya meningkat, tetapi juga menimbulkan dampak kerusakan yang jauh lebih masif, dikutip dari The Guardian.
Baca juga: Ebola Langka Tanpa Vaksin Menyebar ke Dua Negara, WHO Nyatakan Darurat Global
Berdasarkan laporan GPMB, ada beberapa faktor utama yang memicu tingginya risiko kerentanan global terhadap penyakit menular.
Pertama, adalah krisis iklim dan konflik bersenjata. Dua faktor ini dinilai membuat kemunculan wabah penyakit menjadi jauh lebih sering terjadi.
Kemudian, fragmentasi geopolitik dan kepentingan komersial. Ego sektoral dan politik internasional saat ini dinilai merusak aksi kolektif global dalam memitigasi penyebaran virus.
Laporan GPMB ini diterbitkan bertepatan dengan momentum pembukaan Majelis Kesehatan Dunia (WHA) di Jenewa, Swiss.
Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, secara langsung menyinggung situasi darurat global saat ini.
"Dua wabah tersebut hanyalah krisis terbaru di dunia kita yang sedang bergolak," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus saat membuka sidang tahunan badan PBB tersebut.
Baca juga: Pakar Hama Ungkap Cara Aman Membasmi Tikus, Bisa Cegah Hantavirus
Dokter Jean-Jacques Muyembe Tamfun disuntik dengan vaksin Ebola pada 22 November 2019 di Goma. Perwakilan WHO untuk Kongo, Anne Ancia, mengungkapkan kepada Reuters bahwa upaya respons cepat mengalami kendala logistik serius.
Stok alat pelindung diri (APD) di ibu kota Kinshasa telah habis total. Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan pesawat kargo untuk mengangkut pasokan medis tambahan dari depot logistik regional di Kenya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya