Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar Ungkap Wabah Penyakit Menular seperti Hantavirus dan Ebola Makin Sering dan Kian Merusak

Kompas.com, 19 Mei 2026, 11:30 WIB
Inten Esti Pratiwi

Penulis

KOMPAS.com - Dunia saat ini dinilai semakin tidak tangguh dalam menghadapi lonjakan wabah penyakit menular.

Para pakar kesehatan global memperingatkan bahwa ancaman pandemi berkembang jauh lebih cepat daripada investasi yang dikucurkan untuk kesiapsiagaan kesehatan.

Peringatan ini muncul di tengah kerja keras otoritas kesehatan di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda dalam mengendalikan gelombang baru wabah virus Ebola.

Di saat yang sama, perhatian dunia juga tersedot oleh laporan wabah hantavirus yang menyerang sebuah kapal pesiar.

Badan Pemantau Kesiapsiagaan Global (GPMB), sebuah panel pakar yang dibentuk oleh Bank Dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), merilis laporan terbaru mereka pada Senin (18/5/2026).

Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa frekuensi wabah penyakit menular kini tidak hanya meningkat, tetapi juga menimbulkan dampak kerusakan yang jauh lebih masif, dikutip dari The Guardian.

Baca juga: Ebola Langka Tanpa Vaksin Menyebar ke Dua Negara, WHO Nyatakan Darurat Global

Faktor pemicu dan kendala geopolitik

Berdasarkan laporan GPMB, ada beberapa faktor utama yang memicu tingginya risiko kerentanan global terhadap penyakit menular.

Pertama, adalah krisis iklim dan konflik bersenjata. Dua faktor ini dinilai membuat kemunculan wabah penyakit menjadi jauh lebih sering terjadi.

Kemudian, fragmentasi geopolitik dan kepentingan komersial. Ego sektoral dan politik internasional saat ini dinilai merusak aksi kolektif global dalam memitigasi penyebaran virus.

Laporan GPMB ini diterbitkan bertepatan dengan momentum pembukaan Majelis Kesehatan Dunia (WHA) di Jenewa, Swiss.

Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, secara langsung menyinggung situasi darurat global saat ini.

"Dua wabah tersebut hanyalah krisis terbaru di dunia kita yang sedang bergolak," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus saat membuka sidang tahunan badan PBB tersebut.

Baca juga: Pakar Hama Ungkap Cara Aman Membasmi Tikus, Bisa Cegah Hantavirus

Kondisi terkini wabah Ebola di Afrika

Dokter Jean-Jacques Muyembe Tamfun disuntik dengan vaksin Ebola pada 22 November 2019 di Goma. AFP PHOTO/PAMELA TULIZO Dokter Jean-Jacques Muyembe Tamfun disuntik dengan vaksin Ebola pada 22 November 2019 di Goma.
Situasi di lapangan menunjukkan urgensi yang tinggi. Satu hari sebelum laporan GPMB dirilis, status darurat kesehatan masyarakat internasional resmi dideklarasikan menyusul sedikitnya 87 kasus kematian akibat Ebola di Kongo.

Perwakilan WHO untuk Kongo, Anne Ancia, mengungkapkan kepada Reuters bahwa upaya respons cepat mengalami kendala logistik serius.

Stok alat pelindung diri (APD) di ibu kota Kinshasa telah habis total. Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan pesawat kargo untuk mengangkut pasokan medis tambahan dari depot logistik regional di Kenya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Tren
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
Tren
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Tren
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
Tren
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Tren
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau