Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wabah Ebola di Afrika Tengah Makin Meluas, Vaksin Masih Butuh Waktu Berbulan-bulan

Kompas.com, 21 Mei 2026, 10:13 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap vaksin paling menjanjikan untuk menangani wabah Ebola di Afrika Tengah diperkirakan baru tersedia dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.

Di saat yang sama, jumlah kasus suspek terus meningkat dan kondisi keamanan di wilayah terdampak dinilai memperumit penanganan wabah.

Melansir The Guardian (20/5/2026), wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sejauh ini telah menyebabkan 139 kematian.

WHO menyebut jumlah kasus suspek kini mendekati 600 kasus dan diperkirakan masih akan terus bertambah.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan wabah kemungkinan sudah mulai menyebar sejak beberapa bulan lalu.

Pejabat kesehatan menduga penyebaran besar terjadi setelah sebuah “super-spreader event”, kemungkinan upacara pemakaman, pada awal Mei 2026.

Baca juga: Virus Ebola Kembali Wabah di Uganda, 1 Perawat Meninggal

Vaksin yang paling menjanjikan belum tersedia

Dalam konferensi pers WHO, pimpinan riset dan pengembangan WHO, Dr. Vasee Moorthy, mengatakan kandidat vaksin yang dianggap paling menjanjikan menggunakan dasar teknologi serupa dengan vaksin Ebola untuk strain Zaire.

Namun, vaksin tersebut saat ini belum memiliki stok dosis untuk uji klinis.

“Informasi yang kami miliki menunjukkan vaksin ini kemungkinan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan,” ujar Moorthy.

WHO juga menyebut ada kandidat vaksin lain yang menggunakan platform serupa vaksin Covid-19 AstraZeneca dan dikembangkan bersama Universitas Oxford.

Menurut Moorthy, vaksin alternatif itu kemungkinan dapat tersedia untuk uji klinis dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Meski begitu, WHO menilai masih ada banyak ketidakpastian karena data efektivitas dari uji pada hewan belum tersedia.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global

Gejala awal Ebola mirip malaria dan tifus

Ilustrasi ebola. WHO menyebut vaksin paling menjanjikan untuk wabah Ebola di Afrika Tengah baru tersedia dalam enam hingga sembilan bulan saat jumlah kasus terus meningkat.Motortion Films/SHUTTERSTOCK Ilustrasi ebola. WHO menyebut vaksin paling menjanjikan untuk wabah Ebola di Afrika Tengah baru tersedia dalam enam hingga sembilan bulan saat jumlah kasus terus meningkat.

Tedros mengatakan proses deteksi wabah menjadi lebih sulit karena gejala awal Ebola memiliki kemiripan dengan penyakit lain yang umum ditemukan di wilayah tersebut, seperti malaria dan tifus.

Kondisi keamanan di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, juga disebut memperlambat respons kesehatan.

Lebih dari 100.000 warga dilaporkan mengungsi dalam beberapa bulan terakhir akibat konflik bersenjata.

“Fasilitas kesehatan tidak bisa memberikan layanan atau melakukan pengawasan wabah bila tenaga kesehatannya ikut melarikan diri,” kata Tedros.

Selain itu, akses menuju wilayah terdampak juga dinilai sulit karena penerbangan sering dibatalkan sehingga distribusi tes dan perlengkapan medis menjadi terhambat.

WHO sebut risiko global masih rendah

Wabah Ebola ini pertama kali diumumkan pejabat kesehatan Afrika pada Jumat lalu. WHO kemudian menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada Minggu dini hari.

Meski begitu, WHO menilai risiko penyebaran global masih rendah.

“WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, tetapi rendah di tingkat global,” ujar Tedros.

Namun, pemodelan dari Imperial College London menunjukkan jumlah kasus Ebola di wilayah terdampak kemungkinan sudah melebihi 1.000 kasus.

Fokus utama saat ini lacak rantai penularan

Pimpinan kedaruratan WHO, Chikwe Ihekweazu, mengatakan prioritas utama saat ini adalah menemukan seluruh rantai penularan yang masih berlangsung.

Menurut dia, langkah tersebut penting untuk mengetahui skala wabah secara lebih jelas sekaligus memastikan pasien mendapatkan perawatan lebih cepat.

“Prioritas utama kami sekarang adalah mengidentifikasi semua rantai penularan yang masih ada,” kata Ihekweazu.

WHO juga menegaskan bahwa organisasi tersebut hanya mendukung penanganan wabah bersama negara terkait, bukan menggantikan peran pemerintah setempat.

Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau