Penulis
KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap vaksin paling menjanjikan untuk menangani wabah Ebola di Afrika Tengah diperkirakan baru tersedia dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.
Di saat yang sama, jumlah kasus suspek terus meningkat dan kondisi keamanan di wilayah terdampak dinilai memperumit penanganan wabah.
Melansir The Guardian (20/5/2026), wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sejauh ini telah menyebabkan 139 kematian.
WHO menyebut jumlah kasus suspek kini mendekati 600 kasus dan diperkirakan masih akan terus bertambah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan wabah kemungkinan sudah mulai menyebar sejak beberapa bulan lalu.
Pejabat kesehatan menduga penyebaran besar terjadi setelah sebuah “super-spreader event”, kemungkinan upacara pemakaman, pada awal Mei 2026.
Baca juga: Virus Ebola Kembali Wabah di Uganda, 1 Perawat Meninggal
Dalam konferensi pers WHO, pimpinan riset dan pengembangan WHO, Dr. Vasee Moorthy, mengatakan kandidat vaksin yang dianggap paling menjanjikan menggunakan dasar teknologi serupa dengan vaksin Ebola untuk strain Zaire.
Namun, vaksin tersebut saat ini belum memiliki stok dosis untuk uji klinis.
“Informasi yang kami miliki menunjukkan vaksin ini kemungkinan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan,” ujar Moorthy.
WHO juga menyebut ada kandidat vaksin lain yang menggunakan platform serupa vaksin Covid-19 AstraZeneca dan dikembangkan bersama Universitas Oxford.
Menurut Moorthy, vaksin alternatif itu kemungkinan dapat tersedia untuk uji klinis dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Meski begitu, WHO menilai masih ada banyak ketidakpastian karena data efektivitas dari uji pada hewan belum tersedia.
Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Afrika sebagai Darurat Kesehatan Global
Ilustrasi ebola. WHO menyebut vaksin paling menjanjikan untuk wabah Ebola di Afrika Tengah baru tersedia dalam enam hingga sembilan bulan saat jumlah kasus terus meningkat.Tedros mengatakan proses deteksi wabah menjadi lebih sulit karena gejala awal Ebola memiliki kemiripan dengan penyakit lain yang umum ditemukan di wilayah tersebut, seperti malaria dan tifus.
Kondisi keamanan di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, juga disebut memperlambat respons kesehatan.
Lebih dari 100.000 warga dilaporkan mengungsi dalam beberapa bulan terakhir akibat konflik bersenjata.
“Fasilitas kesehatan tidak bisa memberikan layanan atau melakukan pengawasan wabah bila tenaga kesehatannya ikut melarikan diri,” kata Tedros.
Selain itu, akses menuju wilayah terdampak juga dinilai sulit karena penerbangan sering dibatalkan sehingga distribusi tes dan perlengkapan medis menjadi terhambat.
Wabah Ebola ini pertama kali diumumkan pejabat kesehatan Afrika pada Jumat lalu. WHO kemudian menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada Minggu dini hari.
Meski begitu, WHO menilai risiko penyebaran global masih rendah.
“WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, tetapi rendah di tingkat global,” ujar Tedros.
Namun, pemodelan dari Imperial College London menunjukkan jumlah kasus Ebola di wilayah terdampak kemungkinan sudah melebihi 1.000 kasus.
Pimpinan kedaruratan WHO, Chikwe Ihekweazu, mengatakan prioritas utama saat ini adalah menemukan seluruh rantai penularan yang masih berlangsung.
Menurut dia, langkah tersebut penting untuk mengetahui skala wabah secara lebih jelas sekaligus memastikan pasien mendapatkan perawatan lebih cepat.
“Prioritas utama kami sekarang adalah mengidentifikasi semua rantai penularan yang masih ada,” kata Ihekweazu.
WHO juga menegaskan bahwa organisasi tersebut hanya mendukung penanganan wabah bersama negara terkait, bukan menggantikan peran pemerintah setempat.
Baca juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang