Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tompi Kritik Materi Pandji soal Mata Gibran, Sebut Itu Kondisi Medis Bernama Ptosis

Kompas.com, 5 Januari 2026, 14:35 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik Tompi mengkritik materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, karena dinilai menertawakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis.

Kritik tersebut disampaikan Tompi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, setelah Pandji melontarkan guyonan tentang mata Gibran yang terlihat sayu dan dianggap seperti orang mengantuk dalam materi komedinya yang tayang di Netflix.

Baca juga: Mata Minus pada Anak Sering Tak Disadari Orangtua, Ketahui Bahayanya

Tompi: Ptosis bukan bahan lelucon

Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” bukan persoalan estetika atau ekspresi, melainkan kondisi medis yang memiliki penjelasan ilmiah.

“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, seperti dikutip Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kritik, satir, dan humor sah dalam demokrasi, tetapi menyerang kondisi fisik yang tidak bisa dipilih oleh seseorang menunjukkan kemalasan berpikir.

“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjut Tompi.

Baca juga: Ptosis

Apa itu ptosis dalam dunia medis?

Wapres Gibran Rakabuming di Sesi ke-3 KTT G20 di Afrika Selatan. (Dok Setwapres) Tompi mengkritik materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung mata Gibran, dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut secara medis dikenal sebagai ptosis dan bukan bahan lelucon.Setwapres Wapres Gibran Rakabuming di Sesi ke-3 KTT G20 di Afrika Selatan. (Dok Setwapres) Tompi mengkritik materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung mata Gibran, dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut secara medis dikenal sebagai ptosis dan bukan bahan lelucon.

Dikutip dari laman Health, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas terkulai, baik sebagian maupun hampir menutupi pupil, akibat gangguan pada otot pengangkat kelopak mata yang disebut otot levator.

Ptosis dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa dan tidak selalu berkaitan dengan rasa lelah atau mengantuk.

Dokter spesialis bedah plastik okulo-fasial sekaligus juru bicara American Academy of Ophthalmology, dr. Philip Rizzuto, menjelaskan bahwa ptosis pada anak bisa mengganggu perkembangan penglihatan jika tidak ditangani.

“Seorang anak tidak akan mengembangkan penglihatan normal jika kelopak matanya menghalangi mata, karena rangsangan cahaya dan warna sangat penting bagi perkembangan saraf mata dan otak,” ujar Rizzuto.

Sementara pada orang dewasa, ptosis sering terjadi akibat proses penuaan, cedera mata, kerusakan saraf, penyakit autoimun seperti myasthenia gravis, hingga efek samping operasi mata.

Baca juga: 3 Cara Mengatasi Mata Kering Menurut Dokter, Tak Hanya Pakai Tetes Mata

Dampak ptosis tidak sekadar penampilan

Secara medis, ptosis tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, mata cepat lelah, penglihatan ganda, hingga nyeri di dahi akibat kompensasi otot wajah.

Dalam beberapa kasus, penderita ptosis bahkan harus mendongakkan kepala atau mengangkat alis untuk bisa melihat lebih jelas.

Penanganan ptosis bergantung pada penyebab

Disatikan dari Cleveland Clinic dan American Academy of Ophthalmology, ptosis dapat ditangani dengan berbagai metode tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.

Jika ptosis disebabkan oleh penyakit tertentu, pengobatan kondisi dasar dapat memperbaiki keluhan, sementara kasus lain memerlukan operasi sederhana untuk memperkuat atau menyambung kembali otot kelopak mata.

Selain operasi, tersedia pula obat tetes mata khusus hingga alat bantu seperti kacamata penyangga kelopak mata untuk kasus tertentu.

Baca juga: Cara Alami Mengendalikan Mata Minus Menurut Dokter, Termasuk Berjemur

Tompi mengajak publik untuk menaikkan standar diskusi dengan mengkritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan publik figur, bukan kondisi fisik yang berada di luar kendali seseorang.

“Martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” tegas Tompi.

Meski memberikan kritik tajam, Tompi tetap mengapresiasi pertunjukan Mens Rea secara keseluruhan dan menyebut banyak materi Pandji yang relevan dan tepat sasaran.

Pandji Pragiwaksono sendiri merespons kritik tersebut dengan terbuka dan menyampaikan terima kasih atas koreksi yang diberikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau