JAKARTA, KOMPAS.com - Tertawa disebut baik untuk kesehatan jantung, selain rutin berolahraga, menjaga pola makan, dan tidur teratur. Benarkah demikian?
“Setahu saya tidak ada (bukti) secara ilmiah, cuma mungkin lebih ke tidak stres. Salah satu pencegahan agar tidak stres,” kata dr. Aditya Agita Sembiring, Sp.JP(K) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta Barat, Rabu (24/9/2025).
Baca juga:
dr. Aditya Agita Sembiring, Sp.JP(K) saat ditemui di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta Barat, Rabu (24/9/2025).Menurut dr. Aditya, stres berkaitan dengan kesehatan jantung. Inilah mengapa tertawa menjadi salah satu mekanisme tubuh untuk mencegah stres.
Stres bisa memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi, dan hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
“Efek tensi tinggi terus adalah jantung koroner, gagal jantung, strok,” tambah dr. Aditya.
Selain itu, saat sedang stres, ada zat yang meningkat di dalam tubuh yaitu adrenalin. Saat adrenalin meningkat, ia bisa menekan zat-zat yang bermanfaat untuk kesehatan jantung.
Misalnya adalah hormon estrogen pada perempuan. Hormon ini dapat membantu melancarkan pembuluh darah, yang mana baik untuk kesehatan jantung. Pembuluh darah yang tersumbat berisiko menyebabkan serangan jantung.
Inilah mengapa ketika sedang stres, sebaiknya tidak berlarut-larut dan segera dikelola agar tidak berdampak buruk pada kesehatan jantung.
“Kita ada penyakit yang spesifik, namanya Takotsubo Syndrome atau Broken-heart Syndrome. Misalnya, suami punya istri yang selingkuh. Dia sedih banget, patah hati banget, dan gagal jantung. Begitu dia sembuh, dia kelola (stres), (jantung) balik lagi (sehat),” jelas dr. Aditya.
Baca juga:
Tertawa dipercaya bisa bantu jaga kesehatan jantung karena mengurangi stres. Benarkah? Simak penjelasan dokter berikut ini.Dalam tulisannya di situs web resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D menjelaskan, broken-heart syndrom atau sindrom patah hati adalah kondisi ketika stres emosional atau fisik ekstrem memengaruhi kesehatan jantung.
Ada bagian dari jantung yang membesar dan tidak berfungsi dengan baik karena kondisi tersebut, sedangkan bagian lainnya berfungsi normal, atau bahkan dengan kontraksi yang lebih kuat.
“Sindrom broken heart pertama kali diidentifikasi di Jepang pada tahun 1990 dan dinamai 'Takotsubo' karena bentuk jantung yang mirip dengan perangkap udang tradisional Jepang, takotsubo,” kata dr. Dito dalam tulisannya.
Baca juga: Ini Olahraga Terbaik untuk Jaga Kesehatan Jantung Menurut Dokter
Dalam dunia medis, sindrom patah hati dikenal dengan sebutan Kardiomiopati Takotsubo. Penyebabnya adalah hormon adrenalin dan hormon stres lainnya yang dilepaskan oleh tubuh saat seseorang mengalami stres yang intens.
“Pada beberapa orang, terutama wanita yang lebih tua, ini dapat menyebabkan ‘stunning’ dari miokardium (otot jantung), yang menyebabkan bagian dari jantung sementara melemah dan menyebabkan gejala yang mirip dengan serangan jantung,” ucap dr. Dito dalam tulisannya.
Seseorang bisa saja mengalami sindrom patah hati karena kematian orang yang disayangi atau perceraian. Namun, hal menyenangkan seperti memenangkan undian pun bisa menyebabkan sindrom ini.
Menurut dr. Dito, banyak pasien pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu. Namun, bukan berarti sindrom patah hati adalah kondisi tanpa risiko.
“Komplikasi bisa termasuk gangguan irama jantung, gagal jantung, dan dalam kasus yang sangat jarang, kematian mendadak,” kata dia.
Baca juga: Jantung Berdebar-debar Saat Jatuh Cinta, Normal atau Tanda Masalah Kesehatan?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang