JAKARTA, KOMPAS.com - Kapan seseorang sebaiknya melakukan pemeriksaan jantung? Sebab, penyaki jantung tak hanya berisiko dialami para lanjut usia (lansia), tapi juga anak muda.
"Kalau melihat gaya hidup maka sekarang kita tidak lagi memandang umur sebagai patokan untuk kapan melakukan pemeriksaan," kata dr. Bambang Budiono, Sp.JP, DIHA, FAPSC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis intervensi kardiovaskular, dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025 di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).
Baca juga:
Ia menambahkan, data terbaru menunjukkan, penyakit jantung koroner terjadi pada orang-orang berusia muda.
"Data terbaru, tren untuk penyakit jantung koroner itu semakin muda. Saya pernah punya pasien, itu umur 19 tahun, serangan jantung dan masih mahasiswa," ucap dr. Bambang.
dr. Bambang Budiono, Sp.JP, DIHA, FAPSC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis intervensi kardiovaskular, dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).Menurut dr. Bambang, faktor risiko pribadi jauh lebih menentukan dibanding usia. Misalnya, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, kadar kolesterol tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok menjadi alasan kuat untuk skrining jantung lebih awal.
"Kalau pasien ini sudah memiliki riwayat keluarga, kemudian ternyata dia juga terdeteksi gangguan kolesterol tinggi maka pasien yang dengan risiko tinggi. Artinya memiliki beberapa faktor risiko itu tidak melihat umur lagi untuk menentukan kapan bisa deteksi," jelasnya.
Maka dari itu, ia menambahkan, proses identifikasi potensi penyakit jantung bisa dilihat dari karakter masing-masing, tidak berpatokan dengan berapa umurnya.
Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?"Dengan melihat baseline karakter masing-masing. Jadi secara individual tidak memakai patokan bahwa orang usia 40 tahun ke atas baru dilakukan check-up," kata dr. Bambang.
Dr. Bambang menambahkan, skrining jantung bisa berupa tes darah, treadmill test, dan CT scan bila diperlukan, tergantung hasil pemeriksaan awal.
"Skrining jantung dilakukan dengan lebih dini, misalnya treadmill test, skrining awal, bahkan kalau diperlukan CT scan untuk melakukan pemeriksaan lebih awal," katanya.
"Pada pasien-pasien yang kita labeli sebagai risiko tinggi, meskipun usia relatif muda. Jadi kita enggak melihat lagi bahwa usia itu digunakan patokan kapan. Tergantung juga seberapa berat dia potensi untuk mengalami masalah jantung," lanjutnya.
Baca juga:
Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?Deteksi dini, kata dr. Bambang, memberi kesempatan untuk mencegah penyakit jantung berkembang.
"Kalau sudah muncul keluhan, itu artinya sudah terlambat karena saat keluhan datang, biasanya penyakitnya sudah berat," katanya.
Ia menambahkan, pemeriksaan awal membantu dokter dan pasien mengambil langkah pencegahan, seperti mengatur pola makan, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan yang memperburuk kondisi jantung.
"Banyak yang bisa dikontrol misalnya kolesterol, menghindari konsumsi makanan yang lemak tinggi, gorengan, kondisi yang membuat obesitas, rokok dihindari," tuturnya.
Jika semua itu dihindari, sebagian besar faktor risiko penyakit jantung bisa diupayakan dan dikendalikan.