Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Tunggu sampai Tua, Pemeriksaan Jantung Sebaiknya Dilakukan Lebih Dini

Kompas.com, 22 September 2025, 13:15 WIB
Rafa Aulia Febriani ,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapan seseorang sebaiknya melakukan pemeriksaan jantung? Sebab, penyaki jantung tak hanya berisiko dialami para lanjut usia (lansia), tapi juga anak muda. 

"Kalau melihat gaya hidup maka sekarang kita tidak lagi memandang umur sebagai patokan untuk kapan melakukan pemeriksaan," kata dr. Bambang Budiono, Sp.JP, DIHA, FAPSC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis intervensi kardiovaskular, dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025 di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Baca juga:

Ia menambahkan, data terbaru menunjukkan, penyakit jantung koroner terjadi pada orang-orang berusia muda. 

"Data terbaru, tren untuk penyakit jantung koroner itu semakin muda. Saya pernah punya pasien, itu umur 19 tahun, serangan jantung dan masih mahasiswa," ucap dr. Bambang.  

Kapan harus cek jantung?

Tak perlu menunggu sampai umur 40-an

dr. Bambang Budiono, Sp.JP, DIHA, FAPSC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis intervensi kardiovaskular, dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).KOMPAS.com/RAFA AULIA FEBRIANI dr. Bambang Budiono, Sp.JP, DIHA, FAPSC, FAPSIC, FSCAI, spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis intervensi kardiovaskular, dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Menurut dr. Bambang, faktor risiko pribadi jauh lebih menentukan dibanding usia. Misalnya, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, kadar kolesterol tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok menjadi alasan kuat untuk skrining jantung lebih awal. 

"Kalau pasien ini sudah memiliki riwayat keluarga, kemudian ternyata dia juga terdeteksi gangguan kolesterol tinggi maka pasien yang dengan risiko tinggi. Artinya memiliki beberapa faktor risiko itu tidak melihat umur lagi untuk menentukan kapan bisa deteksi," jelasnya.

Maka dari itu, ia menambahkan, proses identifikasi potensi penyakit jantung bisa dilihat dari karakter masing-masing, tidak berpatokan dengan berapa umurnya. 

Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?Shutterstock/PeopleImages.com - Yuri A Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?

"Dengan melihat baseline karakter masing-masing. Jadi secara individual tidak memakai patokan bahwa orang usia 40 tahun ke atas baru dilakukan check-up," kata dr. Bambang. 

Dr. Bambang menambahkan, skrining jantung bisa berupa tes darah, treadmill test, dan CT scan bila diperlukan, tergantung hasil pemeriksaan awal.

"Skrining jantung dilakukan dengan lebih dini, misalnya treadmill test, skrining awal, bahkan kalau diperlukan CT scan untuk melakukan pemeriksaan lebih awal," katanya.

"Pada pasien-pasien yang kita labeli sebagai risiko tinggi, meskipun usia relatif muda. Jadi kita enggak melihat lagi bahwa usia itu digunakan patokan kapan. Tergantung juga seberapa berat dia potensi untuk mengalami masalah jantung," lanjutnya.

Baca juga:

Pentingnya deteksi dini untuk jantung

Jika muncul keluhan, bisa jadi penyakitnya sudah berat

Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?Freepik Pemeriksaan jantung tidak lagi ditentukan oleh umur. Dokter menyarankan cek jantung dilakukan berdasarkan faktor risiko pribadi, kapan sebaiknya?

Deteksi dini, kata dr. Bambang, memberi kesempatan untuk mencegah penyakit jantung berkembang.

"Kalau sudah muncul keluhan, itu artinya sudah terlambat karena saat keluhan datang, biasanya penyakitnya sudah berat," katanya.

Ia menambahkan, pemeriksaan awal membantu dokter dan pasien mengambil langkah pencegahan, seperti mengatur pola makan, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan yang memperburuk kondisi jantung.

"Banyak yang bisa dikontrol misalnya kolesterol, menghindari konsumsi makanan yang lemak tinggi, gorengan, kondisi yang membuat obesitas, rokok dihindari," tuturnya.

Jika semua itu dihindari, sebagian besar faktor risiko penyakit jantung bisa diupayakan dan dikendalikan. 


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau