Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan

Kompas.com, 30 Mei 2026, 18:31 WIB
Bestari Kumala Dewi

Editor

KOMPAS.com - Merasa lelah setelah seharian beraktivitas adalah hal yang wajar. Biasanya, rasa lelah akan membaik setelah beristirahat atau tidur yang cukup. Namun, bagaimana jika kelelahan itu tidak kunjung hilang, meski tubuh sudah cukup beristirahat?

Bagi wanita muda, kondisi ini perlu diwaspadai. Pasalnya, kelelahan yang tidak biasa bisa menjadi salah satu tanda awal Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus, penyakit autoimun yang sering dijuluki sebagai "penyakit seribu wajah". karena gejalanya sangat beragam dan sering menyerupai penyakit lain.

"Fatigue dalam autoimun itu didefinisikan sebagai kelelahan yang tidak wajar. Tidak melakukan aktivitas berat, tidur cukup, istirahat cukup, tetapi tetap merasa lelah berkepanjangan."

Baca juga: Kenali Gejala Lupus, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Hal itu diungkap dokter spesialis reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, dalam acara World Lupus Day Media Conference: From Burden to Living Well Through Improved Care for Systemic Lupus Erythematosus Bersama AstraZeneca Indonesia di RA Simatupang Suites, belum lama ini.

Menurut dr. Sandra, banyak orang menganggap gejala awal lupus sebagai keluhan biasa, seperti kelelahan karena pekerjaan, alergi, atau nyeri sendi akibat aktivitas. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang baru mendapatkan diagnosis setelah penyakit berkembang lebih jauh.

Apa Itu Lupus?

SLE atau lupus adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan dan justru menyerang jaringan serta organ tubuh yang sehat.

Akibatnya, peradangan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, mulai dari kulit, sendi, dan sel darah hingga organ vital seperti ginjal, paru-paru, jantung, dan otak.

Hingga saat ini lupus memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat, gejalanya dapat dikendalikan, sehingga pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.

Kapan Harus Curiga dan Periksa ke Dokter?

Gejala lupus yang sering dianggap sepele, membuat banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mungkin mengalami lupus.

Baca juga: Selena Gomez Alami Radang Sendi Komplikasi Lupus, Ini Fakta Penyakitnya

Menurut dr. Sandra, wanita muda perlu lebih waspada jika mengalami beberapa gejala berikut secara bersamaan atau berulang:

1. Kelelahan berkepanjangan yang tidak membaik setelah beristirahat.
2. Nyeri atau bengkak pada sendi.
3. Rambut rontok dalam jumlah yang tidak wajar.
4. Sariawan yang sering kambuh.
5. Muncul ruam atau kemerahan pada kulit, terutama di area pipi dan hidung yang menyerupai bentuk kupu-kupu (butterfly rash).

"Umumnya pasien merasakan kombinasi gejala seperti sakit sendi, rambut rontok, sariawan berulang, dan kelainan kulit sebagai gejala awal. Kalau wanita muda mengalami kondisi seperti ini, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter sebelum terjadi gangguan organ," tegas dr. Sandra.

Apakah Lupus Hanya Menyerang Wanita?

Dikatakan dr. Sandra, sebenarnya lupus bisa menyerang wanita dan laki-laki. Nmaun, lupus memang lebih sering ditemukan pada wanita, terutama usia produktif antara 15 hingga 45 tahun. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya, antara lain:

1. Pengaruh Hormon Estrogen

Hormon estrogen diduga dapat memengaruhi aktivitas sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit autoimun.

2. Faktor Genetik

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa faktor genetik dan kelainan pada kromosom tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami lupus.

Berdasarkan data epidemiologi, Indonesia bahkan termasuk negara dengan jumlah perempuan usia produktif penyandang lupus yang cukup tinggi.

Jangan Tunggu Sampai Organ Rusak

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan lupus adalah proses diagnosis yang sering terlambat. Gejalanya yang mirip dengan berbagai penyakit lain, membuat banyak pasien baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun mengalami keluhan.

Dalam kesempatan yang sama, Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy mengatakan, bahwa proses diagnosis lupus bisa memakan waktu hingga enam tahun. Padahal, kerusakan organ dapat mulai terjadi jauh sebelum penyakit teridentifikasi.

"Sangat penting untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan sedini mungkin. Diagnosisnya bisa sampai enam tahun, sedangkan kerusakan organ sudah bisa terjadi beberapa tahun setelah penyakit berkembang," ujarnya.

Baca juga: Ketahui Gejala Lupus yang Bisa Muncul 10 Tahun Setelah Penyakit Menyerang

Menunda pemeriksaan karena mengira hanya sakit ringan, bisa berdampak fatal. Oleh sebab itu, jika muncul kelelahan ekstrem yang tak kunjung membaik dengan istirahat, disertai nyeri sendi dan ruam kulit, jangan ragu untuk segera berkonsultasi pada dokter.

“Penanganan yang cepat dan tepat oleh dokter spesialis reumatologi adalah kunci utama untuk meredam flare autoimun, sebelum ia sempat merusak organ-organ vital tubuh,” pungkas dr. Feddy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau