Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada, Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Saluran Cerna

Kompas.com, 26 Mei 2026, 07:35 WIB
Lusia Kus Anna

Penulis

KOMPAS.com - Banyak orang masih menganggap obesitas hanya berkaitan dengan penampilan atau risiko penyakit jantung dan diabetes. Padahal, penumpukan lemak berlebih di tubuh juga dapat menjadi “bahan bakar” bagi munculnya berbagai jenis kanker, termasuk kanker gastrointestinal atau kanker saluran cerna.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Semanggi, dr. Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM menjelaskan bahwa obesitas bukan sekadar berat badan berlebih, melainkan penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obesitas terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, neurobiologi, pola makan, akses terhadap makanan sehat, hingga pengaruh lingkungan dan gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik.

“Data menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis kanker yang berhubungan erat dengan obesitas, dan lebih dari 90% pasien kanker berusia 50 tahun atau lebih mengalami obesitas. Nilai BMI yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker kolon, hati, dan leukemia pada pria, serta kanker kolon, payudara, dan rahim pada wanita,” jelas dr. Santi di acara Siloam Oncology Summit ke-6 di Jakarta (23/5/2026).

Baca juga: Bukan Sekadar Diet, Gendut Berlari Ajak Kaum Obesitas Pede Berolahraga

Tak hanya itu, overweight maupun obesitas juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga hampir 60 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena kanker saluran cerna, seperti kanker usus besar dan kanker hati, termasuk jenis kanker yang kasusnya terus meningkat di berbagai negara.

Kaitan kelebihan berat badan dengan kanker

Menurut dr. Santi, jaringan lemak dalam tubuh ternyata bukan sekadar tempat menyimpan energi. Lemak juga aktif menghasilkan berbagai zat yang dapat memengaruhi proses biologis tubuh, termasuk memicu pertumbuhan sel kanker.

"Salah satu mekanisme utamanya adalah peradangan kronis. Pada orang dengan obesitas, jaringan lemak menghasilkan zat proinflamasi seperti sitokin dan TNF-α. Peradangan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dapat merusak DNA dan memicu terbentuknya sel abnormal yang berpotensi berkembang menjadi kanker," paparnya.

Baca juga: Mona Lisa Disebut Obesitas dan Punya Gangguan Tiroid, Dokter Ungkap Alasannya

Selain itu, obesitas sering memicu resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal. Akibatnya, kadar insulin dalam darah meningkat. Kondisi hiperinsulinemia ini dapat merangsang pertumbuhan sel kanker melalui peningkatan hormon IGF-1 atau Insulin-like Growth Factor-1.

Kelebihan lemak tubuh juga menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Pada obesitas, produksi hormon estrogen meningkat karena jaringan lemak ikut memproduksi hormon tersebut. Kadar estrogen yang terlalu tinggi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara dan kanker endometrium.

Di sisi lain, jaringan lemak menghasilkan zat yang disebut adipokin. Pada obesitas, kadar leptin meningkat dan dapat mendorong pertumbuhan tumor. Sebaliknya, adiponektin atau zat yang sebenarnya memiliki efek protektif terhadap inflamasi dan kanker justru menurun.

Risiko semakin besar karena obesitas juga meningkatkan stres oksidatif akibat produksi radikal bebas berlebih. Kondisi ini dapat merusak sel sehat dan memicu mutasi DNA. Tidak hanya itu, kelebihan lemak tubuh turut mengganggu sistem imun sehingga kemampuan tubuh mengenali dan menghancurkan sel kanker menjadi menurun.

Menariknya, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa obesitas dapat mengubah komposisi bakteri baik di usus atau mikrobiota usus. Perubahan ini memengaruhi metabolisme dan inflamasi tubuh, serta diduga berperan dalam meningkatnya risiko kanker saluran cerna.

Baca juga: Jenis Skrining Kanker yang Direkomendasikan Dokter

Pencegahan obesitas di era modern

Obesitas dan kanker memiliki hubungan yang kompleks, sehingga pencegahan obesitas melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, dan gaya hidup seimbang menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan risiko kanker.

Ahli gizi klinik dr. Samuel Oetoro, MS, Sp.GK (K) menekankan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan ideal dan mencegah obesitas. 

“Setiap penurunan berat badan sebesar 10 persen dapat menurunkan risiko kanker yang terkait dengan obesitas. Semakin besar penurunan berat badan, semakin rendah pula risiko kanker,” jelasnya di acara yang sama.

Penurunan obesitas dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, seperti membatasi asupan kalori, meningkatkan konsumsi makanan bergizi, mengurangi lemak tubuh, serta meningkatkan massa otot.

Obesitas juga dapat ditangani dengan pendekatan farmakologis, misalnya pemberian agonis reseptor GLP-1 (seperti semaglutide), serta tindakan bedah bariatrik pada kasus obesitas berat.

Pola makan seimbang, rutin beraktivitas fisik, tidur cukup, dan membatasi konsumsi makanan ultra-proses juga menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko obesitas sekaligus berbagai penyakit kronis, termasuk kanker.

Baca juga: Ramai di Media Sosial, Benarkah Konsumsi Ikan Asin Bisa Bikin Kanker?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau