JAKARTA, KOMPAS.com - Tren penyakit tidak menular (PTM) di kalangan usia muda makin mengkhawatirkan.
Banyak anak muda kini terserang stroke, jantung, hipertensi, hingga diabetes, di mana penyakit ini dulunya identik dengan usia lanjut.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., menyebut peningkatan tren ini erat kaitannya dengan obesitas dan gaya hidup tidak sehat.
“Penyakit kardiovaskular itu intinya adalah obesitas. Dulu jaringan lemak dianggap jaringan penunjang. Tetapi secara evaluasi banyak evidence base menunjukkan, bahwa jaringan lemak itu juga mengeluarkan yang namanya cytokine," jelas Prof. Dante di sela acara Primaya Fair 2025, Rabu (15/10/2025).
Baca juga: Pekerja Informal Rentan Kena Penyakit Tidak Menular
"Cytokine ini adalah zat yang berbahaya untuk beberapa hal yang bisa menyebabkan pembuluh darah, jantung, dan kelahiran metabolismenya itu lebih cepat," lanjutnya.
Menurutnya, ketika metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat akibat cytokine yang dilepaskan oleh sel-sel lemak, risiko berbagai penyakit pun meningkat.
"Dengan kelahiran metabolismenya lebih cepat tersebut, maka banyak anak muda yang sekarang obesitas sehingga banyak yang kena stroke, sakit jantung, diabetes, hipertensi," tambahnya.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof.dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD.,Ph.D., dalam acara Primaya Fair 2025, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (15/10/2025).Meski pemerintah tengah membahas berbagai kebijakan, seperti penerapan cukai pada makanan dan minuman tinggi gula serta label gizi (Nutri Level), Prof. Dante menegaskan bahwa kunci utama penanganan tetap ada pada edukasi masyarakat.
“Cukainya kita naikkan, kalau edukasinya tidak masif juga tidak akan berhasil. Jadi edukasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Baca juga: Manfaatkan Platform Digital untuk Kendalikan Penyakit Tidak Menular
Ia menilai, perubahan perilaku hanya bisa terjadi bila masyarakat paham dampak konsumsi berlebihan terhadap tubuh.
"Kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi potensi obesitas, tinggal mengurangi makanan bergula, tinggi kalori, dan sebagainya," tuturnya.
Untuk memperkuat edukasi masyarakat, Kemenkes sedang menyiapkan Nutri Level, sistem pelabelan dalam kemasan terkait kandungan gula, garam, dan lemak (GGL).
Baca juga: 5 Penyakit Tidak Menular yang Jadi Momok Bagi Para Wanita
“Nutri Level akan kita buatkan untuk memberikan kesadaran ke masyarakat bahwa makanan yang dikonsumsi itu mengandung kalori, lemak, gula, dan garam dalam jumlah spesifik,” ucapnya.
Label tersebut dirancang seperti lampu lalu lintas, yakni hijau, kuning, dan merah.
“Nanti dengan Nutri Level itu kita bisa lihat semua makanan dalam kemasan. Ada bulatnya, ada warna hijau, kuning, atau merah,” ujarnya.
Mengenai waktunya, Dante menyebut kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian Keuangan.
“Sedang kita bahas dengan Kementerian Keuangan,” tambahnya.
Baca juga: 5 Penyakit Tidak Menular yang Paling Banyak Diderita Orang Indonesia
Lonjakan kasus PTM di usia muda menjadi pengingat penting bahwa pola makan dan aktivitas harian sangat menentukan kesehatan masa depan.
Dengan rutinitas modern yang serba cepat, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak sering tak disadari menumpuk risiko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya