,
KOMPAS.com - Paparan rokok pada ibu hamil tidak hanya menimbulkan gangguan seperti mual dan sesak, tetapi juga dapat menyebabkan preeklampsia, sebuah komplikasi yang kerap berakhir pada persalinan prematur.
Dalam pemaparannya, dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, SpOG., IBCLC., menyebutkan bahwa bahaya rokok tetap dapat terjadi, meski ibu hamil tidak merokok secara langsung.
“Kalau rokok itu kan dia akan terserap pada ibu ya, dan bahkan di permukaan-permukaan yang keras. Yang merokok sudah pergi, tapi kayak di permukaan keras, (sisa asap rokok) bisa (menempel) tujuh hari,” ucap dr. Nisa dalam acara Sahabat Peduli Journalist Club Edisi 2 dari Pfizer Indonesia, di Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Paparan Rokok Ganggu Nutrisi Ibu Hamil dan Janin, Picu Risiko Stunting
Rokok mengandung berbagai zat yang dapat memengaruhi fungsi pembuluh darah. Paparan ini tidak hanya terjadi pada perokok aktif, tetapi juga perokok pasif dari residu asap rokok yang menempel pada baju, rambut, kulit, hingga furnitur.
“Kalau misalkan terakumulasi, rokok itu bisa meningkatkan tekanan darah ibu juga,” tutur dr. Nisa.
Kenaikan tekanan darah merupakan pemicu preeklampsia, yaitu kondisi yang ditandai oleh hipertensi, serta dapat membahayakan ibu dan janin bila tidak ditangani segera.
Baca juga: Polusi dan Asap Rokok Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter Anak
Menurut dr. Nisa, zat-zat dalam rokok juga dapat mengganggu proses plasentasi, yaitu pembentukan dan perkembangan plasenta yang berfungsi menyalurkan oksigen serta nutrisi ke janin.
Jika proses ini terganggu, suplai darah ke janin menjadi tidak maksimal.
“Rokok itu toksinnya bukan cuma satu, enggak cuma nikotin. Sebenarnya kalau dikupas, rokok itu sangat enggak baik,” ucap dr. Nisa.
“Bisa juga ke plasentasinya, jadi meningkatkan dari faktor resikonya” tegasnya.
Baca juga: 5 Efek Negatif Rokok terhadap Penampilan, Apa Saja?
Gangguan plasenta membuat janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, sehingga pertumbuhan janin berisiko terhambat.
Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut juga dapat memicu preeklampsia, karena tubuh ibu berusaha meningkatkan tekanan darah untuk mencukupi kebutuhan janin.
Preeklampsia sering kali membuat dokter harus melakukan persalinan lebih cepat demi keselamatan ibu maupun janin.
“Padahal kalau kita lagi hamil kita harus menjaga. Perokok pasif saja bisa berefek prematuritas pada bayi, bisa meningkatkan risiko preeklampsia,” terang dr. Nisa.
Jika tekanan darah terus meningkat, risiko kejang atau eklampsia, kerusakan organ, hingga kondisi gawat darurat dapat terjadi. Dalam situasi ini, persalinan dini sering menjadi satu-satunya pilihan.
Hal ini menjadikan paparan rokok sebagai salah satu faktor yang mendorong terjadinya kelahiran prematur.
Baca juga: Waspadai Asap Rokok Tersisa di Baju, Dokter Paru Ingatkan Dampaknya untuk Bayi
Salah satu poin penting yang ditegaskan berulang oleh dr. Nisa adalah paparan rokok bukan hanya berasal dari asap yang dihirup langsung.
Sisa asap rokok dapat menempel pada pakaian, kulit, dinding, sofa, dan permukaan rumah lainnya, serta bertahan hingga beberapa hari.
Sebagian orang menganggap residu dari rokok dapat seketika hilang dengan bersih-bersih atau pun cuci tangan, padahal itu tidak cukup.
“Enggak semudah itu. Benar-benar menempel banget,” ungkap dr. Nisa.
Ia mencontohkan situasi sehari-hari dalam rumah tangga, yaitu ketika suami merokok, keluar ruangan sebentar, lalu kembali menemui dan mencium istrinya.
Meski tanpa asap yang terlihat, paparan zat berbahaya tetap dapat berpindah melalui baju, kulit, atau rambut yang terkontaminasi.
Menurut dr. Nisa, bahaya ini tidak hanya mengancam ibu hamil dan janin, tetapi juga anak kecil dan orang lain yang berada di lingkungan yang sama.
Baca juga: Kena Asap Rokok Bisa Bikin Kulit Bayi Iritasi
Menghindari rokok selama kehamilan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu hamil.
Lingkungan terdekat, terutama pasangan dan keluarga, memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.
“Dengan support system yang baik, keluarga, pasangan, orangtua, itu juga harus mengerti. Ibu hamil juga harus sadar menghindari paparannya,” ujar dr. Nisa.
Dengan demikian, menahan diri untuk berhenti merokok sesaat atau menjaga rumah tetap bebas dari residu rokok adalah bentuk dukungan nyata terhadap kehamilan yang sehat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang