Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Asap Rokok pada Ibu Hamil, Tingkatkan Risiko Preeklampsia dan Kelahiran Prematur

Kompas.com, 20 November 2025, 16:36 WIB
Aliyah Shifa Rifai,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

,

KOMPAS.com - Paparan rokok pada ibu hamil tidak hanya menimbulkan gangguan seperti mual dan sesak, tetapi juga dapat menyebabkan preeklampsia, sebuah komplikasi yang kerap berakhir pada persalinan prematur.

Dalam pemaparannya, dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, SpOG., IBCLC., menyebutkan bahwa bahaya rokok tetap dapat terjadi, meski ibu hamil tidak merokok secara langsung.

“Kalau rokok itu kan dia akan terserap pada ibu ya, dan bahkan di permukaan-permukaan yang keras. Yang merokok sudah pergi, tapi kayak di permukaan keras, (sisa asap rokok) bisa (menempel) tujuh hari,” ucap dr. Nisa dalam acara Sahabat Peduli Journalist Club Edisi 2 dari Pfizer Indonesia, di Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).

Baca juga: Paparan Rokok Ganggu Nutrisi Ibu Hamil dan Janin, Picu Risiko Stunting

Rokok dapat meningkatkan tekanan darah ibu hamil

Rokok mengandung berbagai zat yang dapat memengaruhi fungsi pembuluh darah. Paparan ini tidak hanya terjadi pada perokok aktif, tetapi juga perokok pasif dari residu asap rokok yang menempel pada baju, rambut, kulit, hingga furnitur.

“Kalau misalkan terakumulasi, rokok itu bisa meningkatkan tekanan darah ibu juga,” tutur dr. Nisa.

Kenaikan tekanan darah merupakan pemicu preeklampsia, yaitu kondisi yang ditandai oleh hipertensi, serta dapat membahayakan ibu dan janin bila tidak ditangani segera.

Baca juga: Polusi dan Asap Rokok Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter Anak

Gangguan plasenta akibat paparan rokok

Menurut dr. Nisa, zat-zat dalam rokok juga dapat  mengganggu proses plasentasi, yaitu pembentukan dan perkembangan plasenta yang berfungsi menyalurkan oksigen serta nutrisi ke janin. 

Jika proses ini terganggu, suplai darah ke janin menjadi tidak maksimal.

“Rokok itu toksinnya bukan cuma satu, enggak cuma nikotin. Sebenarnya kalau dikupas, rokok itu sangat enggak baik,” ucap dr. Nisa.

“Bisa juga ke plasentasinya, jadi meningkatkan dari faktor resikonya” tegasnya.

Baca juga: 5 Efek Negatif Rokok terhadap Penampilan, Apa Saja?

Gangguan plasenta membuat janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, sehingga pertumbuhan janin berisiko terhambat.

Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut juga dapat memicu preeklampsia, karena tubuh ibu berusaha meningkatkan tekanan darah untuk mencukupi kebutuhan janin.

Paparan rokok bisa memicu kelahiran prematur

Preeklampsia sering kali membuat dokter harus melakukan persalinan lebih cepat demi keselamatan ibu maupun janin. 

“Padahal kalau kita lagi hamil kita harus menjaga. Perokok pasif saja bisa berefek prematuritas pada bayi, bisa meningkatkan risiko preeklampsia,” terang dr. Nisa.

Jika tekanan darah terus meningkat, risiko kejang atau eklampsia, kerusakan organ, hingga kondisi gawat darurat dapat terjadi. Dalam situasi ini, persalinan dini sering menjadi satu-satunya pilihan.

Hal ini menjadikan paparan rokok sebagai salah satu faktor yang mendorong terjadinya kelahiran prematur.

Baca juga: Waspadai Asap Rokok Tersisa di Baju, Dokter Paru Ingatkan Dampaknya untuk Bayi

Sisa asap rokok yang menempel, bahaya yang tidak terlihat

Salah satu poin penting yang ditegaskan berulang oleh dr. Nisa adalah paparan rokok bukan hanya berasal dari asap yang dihirup langsung. 

Sisa asap rokok dapat menempel pada pakaian, kulit, dinding, sofa, dan permukaan rumah lainnya, serta bertahan hingga beberapa hari.

Sebagian orang menganggap residu dari rokok dapat seketika hilang dengan bersih-bersih atau pun cuci tangan, padahal itu tidak cukup.

“Enggak semudah itu. Benar-benar menempel banget,” ungkap dr. Nisa.

Ia mencontohkan situasi sehari-hari dalam rumah tangga, yaitu ketika suami merokok, keluar ruangan sebentar, lalu kembali menemui dan mencium istrinya. 

Meski tanpa asap yang terlihat, paparan zat berbahaya tetap dapat berpindah melalui baju, kulit, atau rambut yang terkontaminasi.

Menurut dr. Nisa, bahaya ini tidak hanya mengancam ibu hamil dan janin, tetapi juga anak kecil dan orang lain yang berada di lingkungan yang sama.

Baca juga: Kena Asap Rokok Bisa Bikin Kulit Bayi Iritasi

Kesehatan ibu hamil tanggung jawab orang terdekat 

Menghindari rokok selama kehamilan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu hamil.

Lingkungan terdekat, terutama pasangan dan keluarga, memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.

“Dengan support system yang baik, keluarga, pasangan, orangtua, itu juga harus mengerti. Ibu hamil juga harus sadar menghindari paparannya,” ujar dr. Nisa.

Dengan demikian, menahan diri untuk berhenti merokok sesaat atau menjaga rumah tetap bebas dari residu rokok adalah bentuk dukungan nyata terhadap kehamilan yang sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau