Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketahui Bahaya Polusi Udara dari Kandungan dan Efeknya

Kompas.com, 16 April 2025, 20:00 WIB
dr. Santi,
Shintaloka Pradita Sicca

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Polusi udara masih menjadi masalah serius di dunia, termasuk Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2013 menetapkan polusi udara sebagai karsinogenik (pemicu kanker).

Namun, polusi udara tidak hanya menyebabkan kanker. Polusi luar ruangan diperkirakan menyebabkan 4,2 juta kematian dini di seluruh dunia pada 2019.

Dari angka kematian tersebut, beberapa penyakit mematikan yang berkembang terkait polusi udara meliputi:

  • 37 persen penyakit jantung iskemik dan stroke
  • 23 persen infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah
  • 18 persen penyakit paru obstruktif kronik
  • 11 persen kanker pada saluran napas.

Baca juga: 6M dan 1S untuk Cegah Dampak Polusi Udara

Apa yang ada dalam polusi udara?

Polusi udara terdiri dari polutan yang meliputi:

  • Berbagai gas, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida
  • Kabut asap fotokimia (photochemical smog), yaitu kabut berwarna abu-abu kecoklatan yang terjadi akibat radiasi ultraviolet matahari pada atmosfer, yang tercemar hidrokarbon dan nitrogen oksida dengan kandungan utama ozon (berbeda dengan lapisan ozon yang di atmosfer), asam nitrat, dan senyawa organik yang berada di area dekat tanah
  • Senyawa organik yang mudah menguap
  • Hidrokarbon aromatik polisiklik, yaitu senyawa organik yang mengandung hidrogen dan karbon
  • Materi partikulat atau particulate matter (PM)

Baca juga: Salt Therapy, Efektifkah untuk Mencegah Dampak Polusi Udara?

Apa itu particulate matter (PM)?

Berbagai polutan yang berbentuk benda padat dan cair, seperti partikel halus karbon, logam berat, mineral, dan lainnya dikenal sebagai particulate matter atau PM.

Jika ukurannya cukup besar, akan terlihat seperti butiran pasir, tapi yang berukuran super kecil hanya tampak dengan bantuan mikroskop elektron.
Ada 2 jenis PM yang umum dikenal:

  • PM10: partikel berukuran kurang dari sama dengan 10 mikrometer
  • PM2,5: partikel dengan ukuran lebih kecil kurang dari sama dengan 2,5 mikrometer.

Ukuran 2,5 mikrometer itu kurang lebih seperti 1/30 dari sehelai rambut manusia.

Bahaya polusi udara dari polutan PM2,5 bagi manusia

  • Tubuh manusia memiliki berbagai mekanisme untuk melindungi diri secara alami.
  • Mekanisme terdepan pelindung saluran napas adalah bulu hidung dan selaput lendir hidung.
  • Partikel polutan berukuran besar dapat ditahan oleh keduanya.
  • Nantinta, partikel itu akan dikeluarkan dari tubuh dengan cara bersin atau batuk, dalam bentuk kotoran hidung (upil), atau tertelan ke dalam saluran pencernaan.
  • Jika partikel terlalu kecil, maka dapat lolos masuk sampai ke dalam paru-paru.
  • Bahkan, polutan bisa sampai masuk ke dalam darah dan ikut bersama dengan aliran darah ke seluruh tubuh kita.
  • Akibatnya timbul masalah kesehatan serius meliputi:
  • Gangguan di saluran napas, seperti asma, alergi, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta kanker
  • Gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung dan stroke
  • Gangguan tumbuh kembang anak
  • Gangguan kesehatan lain meliputi kerusakan tulang, fibrosis hati, Alzheimer, gangguan indung telur, gangguan hormon, dan sebagainya.

Baca juga: Anak-anak Akan Jadi Penerima Dampak Polusi Udara Paling Buruk

Bagaimana cara melindungi diri dari bahaya polusi udara?

Polusi udara yang sangat berbahaya adalah yang berbentuk PM2,5. Untuk mencegah efeknya terhadap kesehatan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. 

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Menghindari aktivitas luar ruang ketika kualitas udara buruk (biasakan untuk memeriksa kualitas udara melalui berbagai aplikasi)
  • Jika terpaksa harus berada di luar ruang, pilih waktu atau area yang paling rendah polusi udaranya. Hindari aktivitas yang menyebabkan kita terengah-engah atau membuka mulut agar tidak banyak polutan yang masuk ke dalam tubuh;
  • Kenakan masker N95 untuk menghadang PM2,5
  • Gunakan air purifier dengan filter HEPA
  • Tutup pintu dan jendela saat kualitas udara buruk
  • Rajin membersihkan rumah
  • Jaga kebersihan diri
  • Tanam pepohonan terutama di area yang berpolusi
  • Pelihara tanaman dalam rumah
  • Hemat listrik dan kurangi pemakaian kendaraan bermotor
  • Berhenti merokok
  • Jalankan gaya hidup sehat

Baca juga: Polusi Udara Perburuk Penyakit Pernapasan Kronis

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau