Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenali Manfaat Pemindaian MRI untuk Deteksi Penyakit

Kompas.com, 28 Februari 2025, 13:19 WIB
Lusia Kus Anna

Editor

KOMPAS.com - Kita mungkin sudah pernah mendengar pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mendiagnosis kondisi medis tertentu yang butuh pencitraan detil. Kenali kapan pemeriksaan ini dibutuhkan dan apa saja kelebihannya.

MRI adalah tes pencitraan medis yang menghasilkan gambar terperinci dari struktur internal dalam tubuh manusia, termasuk otak, jantung, organ perut, otot, pembuluh darah, ligamen, dan tulang. Pemindai MRI menghasilkan gambar-gambar ini menggunakan alat yang agak mengejutkan: gelombang radio dan magnet yang kuat.

MRI pada dasarnya digunakan untuk mendiagnosis dan mengkarakterisasi penyakit setelah tanda dan gejala lain muncul, namun dokter membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis.

Penerapan teknologi ini dalam dunia medis sudah dimulai sejak tahun 1970-an, setelah peneliti medis asal Amerika Serikat, Dr.Raymond Damian menemukan bahwa jaringan kanker dan jaringan sehat memberikan sinyal yang berbeda dalam pencitraan resonansi magnetik nuklir.

Baca juga: Aplikasi Kesehatan Berbasis AI Dukung Penentuan Diagnosis dan Pemerataan Pelayanan

Pada tahun 1977, Damadian berhasil melakukan pemindaian MRI pertama kali pada manusia, dan pada awal 1980-an, MRI mulai digunakan secara luas dalam dunia medis. Sejak saat itu, teknologi ini terus berkembang dengan resolusi gambar yang lebih baik, waktu pemindaian yang lebih cepat, dan aplikasi yang semakin luas dalam diagnosis penyakit.

MRI digunakan untuk mendeteksi berbagai kondisi medis yang tidak dapat terlihat dengan jelas melalui pemeriksaan lain seperti rontgen atau CT scan.

Beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan MRI termasuk gangguan pada otak dan saraf, masalah pada tulang belakang (termasuk saraf kejepit), gangguan jantung dan pembuluh darah, deteksi dan pemantauan kanker, hingga pemeriksaan organ internal, termasuk gangguan organ reproduksi seperti endometriosis dan miom.

Dr.dr.Wawan Mulyawan Sp.BS dari RS Jakarta.Dok RS Jakarta Dr.dr.Wawan Mulyawan Sp.BS dari RS Jakarta.

Generasi terbaru alat MRI

MRI 1,5 Tesla merupakan teknologi pencitraan medis terbaru yang memberikan gambaran yang lebih detail dan akurat mengenai kondisi tubuh pasien.

Dengan kekuatan magnet 1,5 Tesla, alat ini mampu menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi yang mampu mendiagnosis berbagai kondisi medis seperti saraf kejepit (HNP), robekan ligamen, bahkan organ dalam seperti sistem reredaran darah pada otak, sistem saluran empedu, dan organ dalam yang penting lainnya.

Baca juga: Mengapa Makin Tua Makin Gampang Nyeri Punggung

Alat MRI 1,5 Tesla ini juga dilengkapi dengan fitur canggih yang mampu meminimalkan ketidaknyamanan bagi pasien selama proses pemindaian. Proses pemeriksaan relatif lebih cepat dengan design alat dan ruangan yang nyaman, sehingga pasien juga dapat merasakan kenyamanan selama prosedur pemeriksaan berlangsung.

Alat MRI tersebut kini telah hadir di Rumah Sakit Jakarta yang berada di kawasan Sudirman Jakarta.

“Dengan hadirnya alat MRI 1,5 Tesla ini, kami berharap dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien dalam mendapatkan diagnosis yang tepat dan cepat. Teknologi ini adalah langkah besar dalam memperbarui sistem diagnostik yang kami miliki dan memastikan pelayanan medis yang lebih akurat dan efisien," kata dokter spesialis bedah saraf Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS dalam acara talkshow yang diadakan RS Jakarta (27/2).

Baca juga: Jenis Pemeriksaan Kesehatan untuk Usia 30 Tahun ke Atas

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau