Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Sekadar Usir Kantuk, Kafein dalam Kopi Diduga Berperan Menekan Risiko Diabetes

Kompas.com, 1 Juni 2026, 07:00 WIB
Inten Esti Pratiwi

Penulis

KOMPAS.com - Efek kafein terhadap tubuh manusia ternyata menyimpan fakta medis yang jarang disadari. Sebuah studi global mengungkapkan bahwa kadar kafein dalam darah seseorang berpotensi memengaruhi jumlah lemak tubuh yang mereka miliki.

Secara tidak langsung, kadar zat tersebut juga dapat menentukan seberapa besar risiko seseorang untuk mengembangkan penyakit diabetes melitus tipe 2 serta gangguan kardiovaskular.

Temuan tersebut didasarkan pada studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Medicine.

Tim peneliti menggunakan penanda genetik untuk menetapkan hubungan yang lebih pasti antara kadar kafein, indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI), dan risiko penyakit diabetes tipe 2.

Riset kolaboratif ini digawangi oleh para ilmuwan dari institut ternama dunia, yaitu Karolinska Institute di Swedia, University of Bristol di Inggris, dan Imperial College London di Inggris.

Berdasarkan temuan tersebut, mereka menyarankan agar minuman berkafein bebas kalori dieksplorasi lebih lanjut sebagai sarana potensial untuk membantu menurunkan kadar lemak tubuh.

"Secara prediksi genetik, konsentrasi kafein plasma yang lebih tinggi dikaitkan dengan BMI dan massa lemak tubuh total yang lebih rendah," tulis para peneliti dalam makalah ilmiah mereka, dilansir dari Science Alert, Kamis (28/5/2026).

"Lebih lanjut, secara prediksi genetik, konsentrasi kafein plasma yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Sekitar setengah dari efek kafein terhadap risiko diabetes tipe 2 diperkirakan dimediasi melalui penurunan BMI," lanjut tim peneliti dalam laporannya.

Baca juga: Jangan Langsung Minum Kopi Saat Bangun Tidur, Ketahui Dampaknya

Analisis genetik terhadap 10.000 orang

Dalam menyusun penelitian ini, tim ahli melibatkan data dari hampir 10.000 orang yang dihimpun dari basis data genetik yang sudah ada.

Riset difokuskan pada variasi di dalam atau di dekat gen spesifik yang dikenal mengatur kecepatan tubuh dalam memecah kafein.

Secara umum, orang yang memiliki variasi genetik yang memengaruhi gen CYP1A2 dan gen pengaturnya yang disebut AHR, cenderung memecah kafein dengan lambat.

Kondisi ini membuat zat kafein bertahan di dalam darah untuk waktu yang lebih lama. Uniknya, orang dengan kondisi genetik ini justru cenderung mengonsumsi lebih sedikit kafein secara keseluruhan dalam keseharian mereka.

Untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang akurat, para peneliti menggunakan metode analisis yang disebut Mendelian randomization.

Pendekatan ini mengaitkan keberadaan variasi genetik tersebut dengan risiko penyakit seperti diabetes, massa tubuh, serta faktor gaya hidup.

Baca juga: Studi Baru: Rutin Minum Kopi dan Makan Buah Bantu Tubuh Menua Lebih Sehat

Lemak tubuh turun, bagaimana dengan kesehatan jantung?

Meskipun hasil studi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar kafein, penurunan BMI, dan penurunan risiko diabetes tipe 2, para peneliti menemukan hal lain terkait kesehatan jantung.

Halaman:


Terkini Lainnya
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Brasil Periksa 2 Pasien Suspek, Akankah Jadi Kasus Ebola Pertama di Luar Afrika?
Tren
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
2 Kelompok ASN yang Tak Akan Ditransfer Gaji Ke-13 Per 2 Juni 2026
Tren
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Iran Belum Mau Sepakati Perjanjian dengan AS, Washington Siap Tempur Lagi
Tren
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
RUU Hak Cipta dan Konteks Hak Moral Proporsional
Tren
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Niat Percantik Mata Berujung Petaka, Wanita di China Tak Bisa Merem 6 Tahun Usai Operasi
Tren
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Kisah Pilu Derce, WNI Ibu Tunggal di Malaysia Punya 6 Anak Tak Sekolah dan Bertahan Hidup dari Jual Kue
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau