Penulis
KOMPAS.com - Telur ayam menjadi salah satu sumber protein hewani yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau bagi masyarakat.
Dalam satu butir telur, terdapat protein, vitamin, mineral, lemak sehat, serta sejumlah mikronutrien yang dibutuhkan tubuh.
Kandungan gizi tersebut membuat telur kerap disebut sebagai bahan pangan sederhana dengan manfaat besar bagi kesehatan.
Baca juga: Benarkah Telur Infertil Tak Boleh Dikonsumsi dan Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar
Meski demikian, manfaat telur tetap bergantung pada jumlah konsumsi dan cara pengolahannya.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor mengatakan, konsumsi telur masih sering menjadi perdebatan karena kuning telur mengandung kolesterol cukup tinggi.
“Sebagai gambaran, satu butir telur dengan ukuran besar mengandung sekitar 212 miligram (mg) kolesterol atau sekitar 71 persen dari kebutuhan kolesterol harian yang direkomendasikan, yaitu 300 mg per hari,” ungkap Ronny dikutip dari laman IPB University (28/12/2024).
Namun, pandangan tentang kolesterol dalam telur mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Ronny menjelaskan, sejumlah otoritas kesehatan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, tidak lagi membatasi asupan kolesterol harian secara ketat seperti sebelumnya.
“Di berbagai negara seperti Amerika Serikat (AS), otoritas kesehatan di sana tidak lagi membatasi asupan kolesterol per hari,” ujar Ronny.
Menurut dia, pembatasan kolesterol harian selama ini dinilai tidak selalu sejalan dengan fakta mengenai dampak konsumsi telur.
Ronny juga menyebut, nilai gizi telur ayam tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh jenis ayam, pakan, dan manajemen pemeliharaan.
Hasil penelitian menunjukkan, ayam yang dipelihara secara organik dengan sistem umbaran dapat menghasilkan telur dengan nilai gizi lebih baik dibandingkan ayam yang dipelihara secara konvensional.
Baca juga: Telur Pucat, Berbintik, atau Mengilap Benarkah dari Ayam Tak Sehat? Ini Kata Dokter Hewan
“Ayam yang dipelihara dengan cara diumbar secara organik memiliki nilai gizi telur yang lebih baik dibandingkan dengan telur yang dihasilkan oleh ayam yang dipelihara secara konvensional,” kata Ronny.
Perkembangan sistem pemeliharaan ayam, seperti free range dan sistem pastura umbaran, juga dinilai dapat memengaruhi kualitas telur yang dihasilkan.
Telur dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus, digoreng, dipanggang, dibuat omelet, dimasak menjadi telur orak-arik, hingga dipanaskan menggunakan microwave.