Editor
Menurut Itno, peredaran satwa liar tanpa dokumen resmi masih menjadi ancaman serius terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.
Baca juga: Penyelundupan 1.756 Burung Kicau Digagalkan di Pelabuhan Padangbai Bali, Disembunyikan dalam Boks
"Peredaran satwa liar tanpa dokumen yang sah masih menjadi ancaman serius terhadap kelestarian keanekaragaman hayati. Kami mengapresiasi dukungan masyarakat yang telah memberikan informasi sehingga upaya penindakan dapat dilakukan dengan cepat," katanya.
Faktor ekonomi dan tingginya permintaan pasar menjadi salah satu penyebab utama maraknya perdagangan satwa liar.
Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, menegaskan komitmen pihaknya untuk meningkatkan pengawasan terhadap jalur distribusi yang rawan dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal.
"Kami berkomitmen memperkuat koordinasi lintas instansi dalam upaya pencegahan dan penindakan perdagangan satwa liar ilegal. Satwa merupakan bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga bersama," ujarnya.
Baca juga: Penyelundupan 16 Burung Maleo dan 6 Rangkong Asal Makassar Digagalkan, Disembunyikan di Kabin Truk
Selain itu, sinergi antarinstansi dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mengungkap kasus-kasus serupa.
Direktur Eksekutif FLIGHT, Marison Guciano, juga mengapresiasi kerja sama antara BKSDA, Karantina, Polda Lampung, dan TNI AL.
"Kemampuan aparat dalam mendeteksi penyelundupan satwa liar terus meningkat sehingga berdampak pada penurunan angka perdagangan ilegal serta meningkatnya perlindungan terhadap populasi burung di habitat alaminya," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang