Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

12 Sekolah di Aceh Tengah Masih Belajar di Tenda Darurat Pascabencana November 2025

Kompas.com, 31 Mei 2026, 05:51 WIB
Wahyu Wachid Anshory

Editor

ACEH TENGAH, KOMPAS.com - Sebanyak 12 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah masih menjalankan proses belajar mengajar di tenda darurat pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berdampak langsung pada kenyamanan dan keselamatan siswa.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, menyampaikan bahwa hingga saat ini sejumlah sekolah belum dapat digunakan kembali secara normal.

"Saat ini ada beberapa sekolah masih belajar di tenda darurat, yaitu sekitar 12 sekolah," kata Salimsyah di Aceh Tengah, Sabtu (30/5/2026) dikutip dari Antara.

Baca juga: Helikopter Water Bombing Padamkan Api di Tumpukan Kayu Sisa Banjir di Aceh Utara

Lantas, bagaimana kondisi sekolah-sekolah tersebut dan apa langkah yang diambil pemerintah?

Bagaimana Kondisi Sekolah Pascabencana?

Ke-12 sekolah yang terdampak tersebar di Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge. Kondisi masing-masing sekolah bervariasi, mulai dari kerusakan ringan hingga tidak dapat digunakan sama sekali.

Beberapa kendala utama yang dihadapi antara lain:

  • Bangunan sekolah rusak akibat banjir dan longsor
  • Lokasi sekolah terpisah oleh aliran sungai yang melebar
  • Akses menuju sekolah menjadi berbahaya bagi siswa.

Salimsyah menjelaskan bahwa perubahan kondisi geografis pascabencana menjadi tantangan tersendiri.

"Rata-rata sekolah di Aceh Tengah terdapat pembatas sungai yang melebar pascabencana, sehingga ada kekhawatiran dari anak-anak jika melintasi sungai. Keselamatan mereka tidak terjamin, sehingga terpaksa dibuat sekolah darurat sementara," ujarnya.

Baca juga: Kebakaran Kayu Sisa Banjir di Aceh Utara Meluas, Warga Minta Excavator untuk Putus Sebaran Api

Kondisi tersebut memaksa pemerintah daerah mengambil langkah darurat dengan menyediakan tenda sebagai ruang belajar sementara.

Apa Upaya Pemerintah Daerah Mengatasi Hal Ini?

Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah daerah berupaya menyediakan ruang belajar darurat yang lebih layak dibandingkan tenda.

"Sehingga ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama sekolah asal, kedua ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu, Ketol, Bintang, dan Linge," kata Salimsyah.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan fasilitas yang masih memungkinkan digunakan, seperti rumah warga atau bangunan di sekitar sekolah.

"Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita," katanya.

Baca juga: Kebakaran Kayu Sisa Banjir di Aceh Utara Belum Padam, BNPB Kirim Helikopter Water Bombing

Apa Kendala dalam Pembangunan Sekolah Baru?

Dalam upaya relokasi dan pembangunan sekolah permanen, pemerintah daerah menghadapi sejumlah kendala administratif. Salah satu yang paling utama adalah persoalan legalitas lahan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sempat Ditangkap Warga, Dua Pencuri Sawit di Bangka Barat Dibebaskan Polisi
Sempat Ditangkap Warga, Dua Pencuri Sawit di Bangka Barat Dibebaskan Polisi
Regional
Gudang Penimbunan BBM Subsidi di Padang Terbongkar, 10 Ton Solar Subsidi Disita
Gudang Penimbunan BBM Subsidi di Padang Terbongkar, 10 Ton Solar Subsidi Disita
Regional
Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem dari Tanah Karang
Memutus Rantai Kemiskinan Ekstrem dari Tanah Karang
Regional
Karhutla 60 Hektar di Pelalawan, Petugas Berjibaku Hadapi Angin Kencang
Karhutla 60 Hektar di Pelalawan, Petugas Berjibaku Hadapi Angin Kencang
Regional
Update Korban Ledakan Bom di Biak: 3 Orang Hilang, 18 Terluka, 56 Warga Mengungsi
Update Korban Ledakan Bom di Biak: 3 Orang Hilang, 18 Terluka, 56 Warga Mengungsi
Regional
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Regional
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Regional
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Regional
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Regional
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
Regional
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Regional
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
Regional
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Regional
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Regional
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
12 Sekolah di Aceh Tengah Masih Belajar di Tenda Darurat Pascabencana November 2025
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat