JAKARTA, KOMPAS.com - Tren pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS memberikan dampak langsung pada emiten kesehatan dan properti.
Dua sektor ini menjadi entitas yang sensitif mengalami tekanan ketika rupiah terus melemah terhadap dollar AS.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 11.45 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.885 per dollar AS, atau melemah 40,50 poin setara 0,23 persen dibandingkan level pembukaannya.
Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Kesalahan Investor Ritel Saat Beli Saham
Ilustrasi saham.Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi menekan emiten kesehatan karena sebagian besar bahan baku obat, alat kesehatan, hingga peralatan medis masih bergantung pada impor dan berbasis dollar AS.
"Akibatnya biaya operasional meningkat dan margin laba dapat tergerus jika kenaikan biaya tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke konsumen," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Ia menambahkan, emiten sektor kesehatan berpotensi merasakan tekanan tersebut.
Namun, prospek jangka panjang sektor kesehatan masih relatif baik karena didukung kebutuhan layanan kesehatan yang bersifat defensif.
Baca juga: Rupiah Masih Melemah, Bank Patok Dollar AS hingga Rp 18.000
Sementara itu, Reydi menjelaskan, pelemahan rupiah dapat berdampak tidak langsung terhadap sektor properti melalui potensi kenaikan suku bunga dan melemahnya daya beli masyarakat.
Ketika suku bunga tetap tinggi, bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR) cenderung ikut meningkat sehingga keputusan pembelian properti bisa tertunda.
Emiten yang lebih sensitif adalah pengembang yang mengandalkan penjualan rumah tapak segmen menengah serta memiliki utang berbasis dollar AS yang tinggi.
Ilustrasi saham."Sebaliknya, pengembang dengan neraca kuat dan recurring income besar relatif lebih tahan menghadapi tekanan tersebut," ungkap dia.
Baca juga: Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo
Reydi berpandangan, meskipun mengalami tekanan karena adanya pelemahan rupiah, emiten di sektor kesehatan dan properti masih menarik untuk dikoleksi.
Untuk emiten sektor kesehatan misalnya, investor dapat fokus pada emiten dengan pangsa pasar kuat, kemampuan menjaga margin, dan neraca sehat.
Sementara untuk emiten di sektor properti, investor dapat memilih emiten yang memiliki kas kuat, utang terkendali.
"Dalam kondisi rupiah yang masih berfluktuasi, investor sebaiknya lebih mengutamakan kualitas fundamental dibanding mengejar saham yang hanya bergerak karena sentimen jangka pendek," tutup dia.
Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah