Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Dekati Rp 18.000, Bagaimana Nasib Emiten Kesehatan dan Properti?

Kompas.com, 29 Mei 2026, 12:18 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS memberikan dampak langsung pada emiten kesehatan dan properti.

Dua sektor ini menjadi entitas yang sensitif mengalami tekanan ketika rupiah terus melemah terhadap dollar AS.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 11.45 WIB, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.885 per dollar AS, atau melemah 40,50 poin setara 0,23 persen dibandingkan level pembukaannya.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Kesalahan Investor Ritel Saat Beli Saham

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi menekan emiten kesehatan karena sebagian besar bahan baku obat, alat kesehatan, hingga peralatan medis masih bergantung pada impor dan berbasis dollar AS.

"Akibatnya biaya operasional meningkat dan margin laba dapat tergerus jika kenaikan biaya tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke konsumen," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).

Ia menambahkan, emiten sektor kesehatan berpotensi merasakan tekanan tersebut.

Namun, prospek jangka panjang sektor kesehatan masih relatif baik karena didukung kebutuhan layanan kesehatan yang bersifat defensif.

Baca juga: Rupiah Masih Melemah, Bank Patok Dollar AS hingga Rp 18.000

Efek pelemahan rupiah ke emiten properti

Sementara itu, Reydi menjelaskan, pelemahan rupiah dapat berdampak tidak langsung terhadap sektor properti melalui potensi kenaikan suku bunga dan melemahnya daya beli masyarakat.

Ketika suku bunga tetap tinggi, bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR) cenderung ikut meningkat sehingga keputusan pembelian properti bisa tertunda.

Emiten yang lebih sensitif adalah pengembang yang mengandalkan penjualan rumah tapak segmen menengah serta memiliki utang berbasis dollar AS yang tinggi.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/MAHARDIKA ARGHA Ilustrasi saham.

"Sebaliknya, pengembang dengan neraca kuat dan recurring income besar relatif lebih tahan menghadapi tekanan tersebut," ungkap dia.

Baca juga: Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo

Reydi berpandangan, meskipun mengalami tekanan karena adanya pelemahan rupiah, emiten di sektor kesehatan dan properti masih menarik untuk dikoleksi.

Untuk emiten sektor kesehatan misalnya, investor dapat fokus pada emiten dengan pangsa pasar kuat, kemampuan menjaga margin, dan neraca sehat.

Sementara untuk emiten di sektor properti, investor dapat memilih emiten yang memiliki kas kuat, utang terkendali.

"Dalam kondisi rupiah yang masih berfluktuasi, investor sebaiknya lebih mengutamakan kualitas fundamental dibanding mengejar saham yang hanya bergerak karena sentimen jangka pendek," tutup dia.

Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau