JAKARTA, KOMPAS.com - Stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah pada semester II-2026 dinilai hanya akan efektif dalam jangka pendek apabila tekanan terhadap rupiah dan kondisi global tidak semakin memburuk.
Guru Besar Departemen Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi, mengatakan paket stimulus seperti diskon transportasi, insentif pajak, hingga program vokasi memang dapat membantu menjaga konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Stimulus semester II-2026 seperti diskon transportasi, insentif pajak, dan program vokasi dapat membantu menjaga konsumsi, tetapi kekuatannya terbatas jika rupiah terus melemah dan tekanan global meningkat,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, diskon transportasi dapat meningkatkan mobilitas dan mendorong belanja masyarakat dalam jangka pendek. Sementara insentif pajak bisa memberi ruang napas bagi rumah tangga maupun dunia usaha.
Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini
Adapun program vokasi dinilai dapat membantu memperbaiki kualitas tenaga kerja, meski dampaknya tidak akan terlihat dalam waktu cepat.
Namun, Syafruddin mengingatkan pelemahan rupiah tetap menjadi ancaman utama karena dapat meningkatkan biaya impor, energi, bahan baku, hingga ekspektasi kenaikan harga.
“Stimulus konsumsi tidak akan cukup jika biaya produksi naik dan investor menahan ekspansi,” kata dia.
Karena itu, ia meminta pemerintah mengarahkan stimulus lebih banyak ke sektor produktif seperti pangan, energi, UMKM, dan kegiatan yang cepat menyerap tenaga kerja.
Baca juga: Rupiah Melemah, Biaya Impor dan Utang Industri Kian Berat
Selain stimulus ekonomi, pemerintah juga menggulirkan bantuan sosial dan insentif pajak untuk menjaga daya beli masyarakat. Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut disebut akan menurun apabila tekanan nilai tukar terus berlanjut.
“Bantuan sosial bekerja paling baik ketika tekanan harga bersifat sementara dan terkonsentrasi pada kelompok rentan,” ujar Syafruddin.
Ia menjelaskan, jika rupiah terus melemah, harga barang impor, energi, obat-obatan, hingga bahan baku akan ikut naik lebih luas. Dalam kondisi seperti itu, bantuan sosial hanya akan menjadi penahan sementara, bukan menyelesaikan akar masalah.
“Daya beli tidak akan kuat tanpa rupiah yang kredibel,” ucap dia.
Baca juga: Rupiah Nyaris Rp 18.000, Ekonom Soroti Dampak Investasi dari Kunjungan Luar Negeri
Menurut Syafruddin, optimisme pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi lewat stimulus dan konsumsi domestik masih realistis, tetapi hanya jika tekanan rupiah tidak semakin berat.
“Konsumsi rumah tangga memang menjadi bantalan utama ekonomi Indonesia. Bantuan sosial, diskon transportasi, dan insentif pajak dapat menjaga belanja masyarakat dalam jangka pendek,” katanya.
Namun, ia menilai optimisme tersebut bisa rapuh apabila rupiah terus melemah, inflasi meningkat, imbal hasil surat utang naik, dan dunia usaha mulai menahan investasi.