JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan rupiah diperkirakan akan memberi tekanan besar terhadap sejumlah sektor ekonomi pada semester II-2026, terutama industri yang bergantung pada impor, memiliki utang valas, dan menggunakan energi dalam porsi besar pada biaya produksinya.
Guru Besar Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan sektor manufaktur berbahan baku impor menjadi salah satu yang paling rentan terdampak jika tekanan nilai tukar terus berlanjut.
“Sektor paling rentan pada semester II-2026 adalah sektor yang bergantung pada impor, memiliki utang valas, atau memakai energi dalam biaya produksi besar,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?
Menurut Syafruddin, tekanan rupiah akan langsung memukul margin usaha karena biaya impor bahan baku dan komponen produksi ikut meningkat. Kondisi itu diperkirakan akan dirasakan oleh industri farmasi, kimia, elektronik, hingga otomotif.
Selain sektor manufaktur, industri transportasi juga dinilai menghadapi tekanan cukup berat akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar dan komponen berbasis dollar AS.
“Maskapai, logistik, dan ritel barang impor akan menghadapi tekanan margin,” katanya.
Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Stimulus Ekonomi Dinilai Tak Cukup
Syafruddin menambahkan, sektor konstruksi juga menjadi salah satu sektor yang rawan terdampak pelemahan rupiah. Sebab, banyak kebutuhan bahan baku dan barang modal di industri tersebut masih mengikuti pergerakan kurs dolar AS.
Menurut dia, perusahaan yang memiliki pendapatan dalam rupiah tetapi kewajiban utang dalam dolar AS akan menghadapi tekanan arus kas paling besar apabila pelemahan rupiah terus terjadi.
“Perusahaan dengan pendapatan rupiah dan kewajiban dolar akan menghadapi tekanan arus kas paling berat,” ujarnya.
Dampak lanjutan juga berpotensi menjalar ke sektor perbankan. Syafruddin menilai risiko dapat meningkat apabila debitur dengan pinjaman valuta asing mulai kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran kredit.
“Perbankan ikut terdampak jika debitur valas mulai kesulitan membayar kredit,” katanya.
Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini