Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan

Kompas.com, 29 Mei 2026, 06:33 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah anjlok hingga menyentuh level psikologis di atas Rp 17.800 per dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah tidak hanya menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga membayangi kinerja saham-saham perbankan besar serta emiten yang memiliki utang dan biaya operasional berbasis dollar AS.

Kurs rupiah di pasar spot jebol 44,50 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.845 per dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026).

Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh area di atas Rp 17.800 per dollar AS masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Menurutnya, depresiasi rupiah memberikan tekanan terhadap IHSG, meski sifatnya lebih cenderung jangka pendek.

Namun demikian, tekanan yang muncul tetap berada pada area moderat hingga cukup besar sehingga membuat IHSG menjadi relatif fluktuatif. Kondisi tersebut juga diperparah oleh potensi arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar saham domestik.

“Jadi tentunya ini bisa menyebabkan terjadi tekanan terhadap IHSG, tapi sifatnya jangka pendek. Dan tekanan tersebut memang bisa cukup besar hingga moderat, di mana pergerakan indeks akan relatif fluktuatif. Belum lagi juga ada outflow sama asing,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam.

Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Impor hingga Perbankan Siap-siap Tertekan pada Semester II-2026

Pelemahan rupiah umumnya diikuti aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing. Di tengah ketidakpastian global, investor global cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen berbasis dollar AS sebagai sikap defensif untuk menghindari risiko kerugian akibat pelemahan nilai tukar atau currency risk.

“Karena kalau misalnya pelemahan nilai tukar rupiah biasanya diikuti oleh aksi jualan bersih pelaku investor asing. Belum lagi juga investor global itu cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen yang seperti dollar AS,” paparnya.

Selama rupiah belum menunjukkan tanda-tanda penguatan yang konsisten, maka IHSG masih akan dibayangi volatilitas tinggi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama di tengah derasnya arus keluar dana asing dari pasar domestik.

Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?

Fundamental ekonomi RI masih solid

Anjloknya mata uang Indonesia dipandang karena sentimen eksternal dan domestik, namun bukan karena fundamental makro ekonomi nasional yang rapuh. Nafan meyakini kondisi fundamental domestik masih relatif solid.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi penguatan indeks dollar AS yang terus berlanjut. Penguatan dollar AS didorong meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang diperkirakan bertahan lebih lama.

“Sebenarnya bukan karena fundamental makro ekonomi Indonesia yang rapuh itu bukan, sebenarnya saya yakin fundamental domestik kita masih solid. Kita lihat saja tren dollar mengalami penguatan, ini juga dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, Serta ekspektasi higher for longer dari Fed rate policy, seperti itu,” tukas dia.

Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dollar AS pada periode Mei 2026. Selama periode Mei biasanya menjadi puncak repatriasi dividen oleh perusahaan asing di Indonesia ke negara asalnya sehingga permintaan terhadap mata uang Paman Sam ikut meningkat.

Selain itu, kebutuhan valuta asing juga cenderung melonjak selama periode musim haji. Kondisi ini dinilai ikut menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah di tengah tingginya permintaan dollar AS.

Nafan menambahkan, pelaku pasar juga mencermati sejumlah kebijakan pemerintah yang berpotensi mempengaruhi sentimen terhadap pasar keuangan domestik.

Baca juga: Rupiah Nyaris Rp 18.000, Ekonom Soroti Dampak Investasi dari Kunjungan Luar Negeri

Beberapa di antaranya, kebijakan kenaikan royalti tambang hingga potensi pelebaran defisit fiskal atau risiko meningkatnya defisit anggaran negara. Faktor-faktor tersebut ikut mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pasar nasional ke depan.

Karena itu pasar kini menyoroti langkah lanjutan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah, baik melalui intervensi di pasar valuta asing maupun kemungkinan penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau