JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat (AS). Anjloknya mata uang Garuda dinilai semakin menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.864 per dollar AS.
Data ini tercatat pada pukul 09.57 WIB atau tak berselang lama pasar dibuka, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah
Ilustrasi pasar saham.Adapun pada pukul 11.26 WIB, kurs rupiah kembali melemah ke level Rp 17.881 per dollar AS.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) diyakini menjadi sumber tekanan utama bagi indeks.
Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memang berpotensi menjadi penekan utama IHSG ketika rupiah mengalami pelemahan ekstrem.
Alasannya, keempat saham tersebut merupakan saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi porsi utama dalam portofolio banyak manajer investasi maupun investor institusi.
Baca juga: Rupiah Lampaui Rp 17.860 per Dollar AS, Pasar Tunggu Langkah BI
“Tentu (bank jadi penekan), karena memang dari portofolio manajer investasi saham tersebut adalah yang paling likuid,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat pagi.
Sebagai gambaran, dalam kondisi pasar yang diliputi ketidakpastian, investor biasanya lebih memilih melepas saham yang likuid karena lebih mudah dijual dalam jumlah besar tanpa mengalami kesulitan mencari pembeli.
Akibatnya, ketika terjadi aksi jual oleh investor domestik maupun asing, tekanan pertama umumnya akan terlihat pada saham-saham bank besar tersebut.
Ilustrasi saham.Selain memiliki tingkat likuiditas tinggi, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga memiliki bobot yang besar dalam perhitungan IHSG.
Baca juga: Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...
Oleh karena itu, penurunan harga saham-saham tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Bahkan, meskipun sebagian besar saham lain bergerak stabil, koreksi pada saham bank jumbo tetap dapat menyeret IHSG ke zona merah.
Berdasarkan data BEI, saham BBCA menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,51 persen ke level 5.825 per pukul 10.45 WIB.
Di awal perdagangan Jumat ini, BBCA bergerak dalam rentang 5.750 hingga 5.975.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan