Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo

Kompas.com, 29 Mei 2026, 11:33 WIB
Suparjo Ramalan ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat (AS). Anjloknya mata uang Garuda dinilai semakin menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.864 per dollar AS.

Data ini tercatat pada pukul 09.57 WIB atau tak berselang lama pasar dibuka, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Adapun pada pukul 11.26 WIB, kurs rupiah kembali melemah ke level Rp 17.881 per dollar AS.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) diyakini menjadi sumber tekanan utama bagi indeks.

Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memang berpotensi menjadi penekan utama IHSG ketika rupiah mengalami pelemahan ekstrem.

Alasannya, keempat saham tersebut merupakan saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi porsi utama dalam portofolio banyak manajer investasi maupun investor institusi.

Baca juga: Rupiah Lampaui Rp 17.860 per Dollar AS, Pasar Tunggu Langkah BI

“Tentu (bank jadi penekan), karena memang dari portofolio manajer investasi saham tersebut adalah yang paling likuid,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat pagi.

Sebagai gambaran, dalam kondisi pasar yang diliputi ketidakpastian, investor biasanya lebih memilih melepas saham yang likuid karena lebih mudah dijual dalam jumlah besar tanpa mengalami kesulitan mencari pembeli.

Akibatnya, ketika terjadi aksi jual oleh investor domestik maupun asing, tekanan pertama umumnya akan terlihat pada saham-saham bank besar tersebut.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/MAHARDIKA ARGHA Ilustrasi saham.

Selain memiliki tingkat likuiditas tinggi, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga memiliki bobot yang besar dalam perhitungan IHSG.

Baca juga: Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...

Oleh karena itu, penurunan harga saham-saham tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Bahkan, meskipun sebagian besar saham lain bergerak stabil, koreksi pada saham bank jumbo tetap dapat menyeret IHSG ke zona merah.

Berdasarkan data BEI, saham BBCA menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,51 persen ke level 5.825 per pukul 10.45 WIB.

Di awal perdagangan Jumat ini, BBCA bergerak dalam rentang 5.750 hingga 5.975.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau