Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Gen Z dan milenial semakin mengubah cara pandang dunia kerja.
Bagi dua generasi ini, lingkungan kerja ideal bukan lagi sekadar soal gaji tinggi atau jabatan prestisius, melainkan tempat kerja yang memberi fleksibilitas, mendukung kesehatan mental, memiliki tujuan yang jelas, dan memungkinkan keseimbangan hidup.
Temuan itu tergambar dalam Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
Baca juga: Survei Deloitte: Hampir 30 Persen Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda.Survei tersebut menunjukkan generasi muda kini memandang karier dengan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Deloitte mencatat, Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai ketidakpastian, mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya biaya hidup, perubahan teknologi yang cepat, hingga meningkatnya risiko burnout di dunia kerja. Situasi itu membentuk ekspektasi baru terhadap tempat kerja ideal.
Chief People & Purpose Officer Deloitte Global Elizabeth Faber mengatakan, Gen Z dan milenial kini memilih jalur karier yang dianggap lebih berkelanjutan dibanding sekadar mengejar ambisi tanpa batas.
“Mereka memilih apa yang berkelanjutan, bukan sekadar performatif, dan menyelaraskan pilihan hidup dengan kondisi realistis dibanding timeline tradisional,” ungkap Faber dalam laporan tersebut.
Baca juga: Survei Deloitte: AI Jadi “Teman Kerja” Baru Milenial dan Gen Z
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari cara Gen Z dan milenial memandang kesuksesan karier. Kenaikan jabatan cepat tidak lagi menjadi tujuan utama.
Dalam survei Deloitte, hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih perkembangan karier yang stabil dan seimbang.
Ilustrasi pekerja Gen Z, pekerja muda. Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih menyukai kemajuan karier yang stabil.
Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang memilih pertumbuhan cepat lewat promosi dan kenaikan jabatan.
Baca juga: Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan
Bahkan sekitar 20 persen responden mengaku bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi memperoleh pengalaman yang dianggap penting untuk kesuksesan jangka panjang.
Integrated Marketing and Communications Executive sekaligus Adjunct Professor untuk Texas Christian University dan University of Dallas Megan Korns Russell menilai generasi muda kini tidak ingin hidupnya hanya berpusat pada pekerjaan.
“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell.
Pandangan serupa juga muncul dari responden survei. Seorang responden Gen Z bernama Nita mengatakan dirinya ingin pekerjaan yang bermakna tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.
Baca juga: Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” tutur dia.
Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa banyak Gen Z dan milenial memandang posisi kepemimpinan identik dengan tekanan kerja berlebihan.
Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaSebanyak 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial menyebut stres dan burnout sebagai alasan utama mereka tidak memprioritaskan posisi kepemimpinan.
Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai tanggung jawab yang terlalu besar menjadi hambatan untuk mengejar posisi tersebut.
Baca juga: Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital