Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan media sosial tidak hanya mengubah cara generasi muda berinteraksi, tetapi juga memengaruhi cara mereka memandang karier.
Platform yang sebelumnya didominasi unggahan kehidupan personal kini dipenuhi pencapaian profesional, mulai dari promosi jabatan, sertifikasi, hingga pencapaian proyek.
Pergeseran ini melahirkan fenomena baru yang dikenal sebagai career FOMO (fear of missing out dalam karier), yang banyak dialami Gen Z.
Baca juga: Survei: 29 Persen Gen Z Minta Bantuan Orangtua untuk Negosiasi Gaji
Ilustrasi karyawan. Fenomena ini menjadi perhatian karena berdampak langsung pada pola pikir, keputusan karier, hingga kesehatan mental generasi muda yang sedang memasuki dunia kerja.
Career FOMO merujuk pada kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dalam perjalanan kariernya dibandingkan orang lain.
Dalam laporan India Today, dikutip pada Senin (20/4/2026), fenomena ini dijelaskan sebagai ketakutan tertinggal dalam perjalanan profesional, yang muncul akibat paparan terus-menerus terhadap pencapaian orang lain di media sosial.
Media sosial, yang awalnya menjadi ruang untuk berbagi kehidupan pribadi, kini telah berkembang menjadi panggung profesional.
Baca juga: Tren Liburan Lintas Generasi, Gen Z Utamakan Berburu Kuliner dan Tempat Ramah Lingkungan
Linimasa dipenuhi pengumuman pekerjaan baru, pencapaian akademik, hingga penghargaan karier.
Kondisi ini membuat keberhasilan tidak hanya diraih, tetapi juga terus dipamerkan.
Akibatnya, banyak individu, terutama Gen Z, mengalami tekanan untuk terus “mengejar” standar yang terlihat di layar mereka.
Career FOMO merujuk pada kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dalam perjalanan kariernya dibandingkan orang lain.
Career FOMO, menurut laporan tersebut, merupakan respons psikologis dari kebiasaan melihat pencapaian orang lain secara berulang.
Baca juga: Studi PwC: Gen Z Tekan Belanja, Tapi Tuntut Nilai Lebih
Dampaknya bukan sekadar perasaan iri, tetapi juga memicu perbandingan diri, keraguan, dan dorongan untuk terus mengejar sesuatu tanpa arah yang jelas.
Paparan konstan terhadap informasi di media sosial menjadi faktor utama yang memperkuat fenomena ini.
Gen Z merupakan generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, sehingga interaksi mereka dengan media sosial jauh lebih intens dibanding generasi sebelumnya.