Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin lekat dengan keseharian pekerja muda.
Bagi generasi milenial dan Gen Z, AI bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari cara mereka bekerja, belajar, hingga mengelola tekanan pekerjaan.
Laporan Deloitte bertajuk 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, penggunaan AI di kalangan pekerja muda meningkat tajam dalam setahun terakhir.
Baca juga: Rekrutmen Berbasis AI Makin Ketat, 80 Persen CV Gugur di Awal
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sekitar 74 persen Gen Z dan 74 persen milenial mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Angka itu melonjak dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 57 persen untuk Gen Z dan 56 persen untuk milenial.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 22.500 responden Gen Z dan milenial dari 44 negara. Deloitte mendefinisikan Gen Z sebagai mereka yang lahir pada 1995–2007, sedangkan milenial lahir pada 1983–1994.
Dalam laporan itu, Deloitte menyebut AI dipandang sebagai “akselerator”, bukan ancaman.
Generasi muda melihat AI mampu membebaskan waktu kerja, meningkatkan hasil pekerjaan, membuka peluang pengembangan karier, hingga menciptakan kesempatan baru bagi pekerja level awal.
Baca juga: Poin-Poin Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Bahas Minyak hingga AI
Penggunaan AI di kalangan pekerja muda ternyata tidak terbatas untuk urusan teknis pekerjaan. Banyak responden mengaku menggunakan AI untuk membantu pengembangan diri dan menjaga keseimbangan hidup.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin lekat dengan keseharian pekerja muda.
Sebanyak 79 persen Gen Z dan milenial menggunakan AI untuk mencari peluang belajar dan pengembangan diri. Selain itu, 72 persen Gen Z dan 69 persen milenial memakai AI untuk mencari saran karier.
Bahkan, 67 persen Gen Z dan 65 persen milenial memanfaatkan AI untuk membantu mengatasi stres terkait pekerjaan.
“Dalam konteks ini, AI semakin digunakan sebagai pelatih karier, mendukung pertumbuhan, pengambilan keputusan, dan ketahanan diri, bukan sekadar membantu menyelesaikan tugas,” tulis Deloitte dalam laporannya.
Baca juga: ASSI: Integrasi AI hingga Satelit Jadi Kunci Ekosistem Digital Indonesia
Mayoritas responden juga merasa AI memberi dampak positif terhadap kehidupan pribadi maupun pekerjaan mereka. Sebanyak 83 persen Gen Z dan 82 persen milenial mengatakan AI berdampak positif bagi kehidupan personal mereka.
Sementara itu, 80 persen Gen Z dan 79 persen milenial menyebut AI berdampak positif pada kehidupan kerja mereka.
Dalam konteks pekerjaan, 68 persen Gen Z dan 69 persen milenial merasa AI meningkatkan kualitas hasil kerja mereka.
Selain itu, 69 persen responden dari kedua generasi mengatakan AI membantu menghemat waktu dan memperbaiki keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).
Baca juga: Investor Legendaris Michael Burry Sebut Pasar AI Terlalu Panas, Mirip Dot-com Bubble
Jenis penggunaan AI pun semakin luas. Sebanyak 50 persen Gen Z dan 53 persen milenial menggunakan AI untuk analisis data, termasuk visualisasi data dan peramalan.
Kemudian, 42 persen Gen Z dan 46 persen milenial memakai AI untuk pembuatan konten seperti artikel, unggahan media sosial, hingga naskah video.
Di bidang desain dan kreativitas, AI digunakan oleh 42 persen Gen Z dan 43 persen milenial.
Adapun 37 persen Gen Z dan 39 persen milenial menggunakan AI untuk manajemen proyek, sedangkan 38 persen dari kedua generasi memanfaatkan AI untuk kebutuhan strategi bisnis dan penilaian risiko.
Baca juga: Manus AI, Meta dan Nasib Platform Digital Indonesia
Ilustrasi Gen Z Deloitte menilai kemampuan beradaptasi kini menjadi strategi karier utama bagi Gen Z dan milenial.