Penulis
KOMPAS.com – Chief Executive Officer (CEO) Capital Group, Mike Gitlin, mengingatkan investor muda dari generasi Z (Gen Z) untuk tidak terjebak pada pola investasi sesaat atau sekadar mengikuti minat pribadi (hobby investing). Ia menekankan pentingnya membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Menurut Gitlin, investor muda seharusnya mulai memandang pasar keuangan sebagai sarana membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar ajang mencoba-coba atau mengikuti tren.
“Investor muda harus mendekati pasar dengan pola pikir membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar ‘hobby investing’,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (22/4/2026).
Baca juga: Tokenisasi Aset Keuangan Buka Akses Investasi Digital Baru untuk Masyarakat
Gitlin menyampaikan hal tersebut merespons pertanyaan seorang ayah yang mengaku anak-anak remajanya menolak rencananya memindahkan investasi dari emas ke minyak. Mereka menilai langkah itu sebagai upaya “mengambil keuntungan dari perang”.
Survei informal di sekolah anak tersebut bahkan menunjukkan sekitar 80 persen Gen Z memiliki pandangan serupa.
Menanggapi hal itu, Gitlin menilai baik emas maupun minyak bukanlah instrumen utama yang seharusnya menjadi fokus investor muda dalam merencanakan investasi jangka sangat panjang.
“Baik emas maupun minyak bukan tempat mereka seharusnya berpikir untuk menempatkan uang selama 75 tahun ke depan,” kata Gitlin.
Ia menambahkan, mencoba menebak waktu yang tepat untuk masuk dan keluar dari pasar komoditas sangat sulit, bahkan bagi investor profesional.
Baca juga: Korsel, China, dan Jepang Investasi ke Indonesia, Rosan: Target dapat Dicapai
“Menentukan waktu pasar komoditas itu sangat sulit, bahkan bagi profesional, apalagi untuk anak usia 13 tahun,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Gitlin menyarankan investor muda mulai membangun “paper portfolio” atau portofolio simulasi yang berisi sejumlah saham.
Ia juga mendorong mereka melakukan riset mendalam (due diligence), termasuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Fokus utama, kata dia, seharusnya pada fundamental perusahaan, bukan fluktuasi pasar jangka pendek.
“Buat mereka tertarik pada saham dan obligasi, kondisi makro yang lebih luas, serta apa yang sedang terjadi di dunia,” ucapnya.
Gen-Z diingatkan untuk tidak terjebak investasi sesaat yang mengikuti tren. Investor muda diminta mulai membangun strategi jangka panjang dengan fokus pada fundamental dan pertumbuhan kekayaan berkelanjutan.Baca juga: Tips Investasi Reksadana Bagi Pemula dari BRI, Simak Langkahnya
Pandangan Gitlin muncul di tengah tren menurunnya kepercayaan Gen Z terhadap institusi keuangan tradisional.
Berdasarkan laporan World Economic Forum bertajuk Global Retail Investor Outlook, kepercayaan generasi ini terhadap lembaga keuangan turun dalam dua tahun terakhir.