Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Terlihat Sehat Belum Tentu Aman, Dokter Ungkap Kesalahan Umum Orangtua

Kompas.com, 14 April 2026, 21:31 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Banyak orangtua menilai kesehatan anak dari berat badan saja, padahal gangguan tumbuh kembang bisa terjadi tanpa terlihat jelas.

Dokter anak mengingatkan bahwa pemantauan pertumbuhan dan pola makan memiliki peran penting dalam mendeteksi masalah sejak dini.

Sejumlah temuan ini disampaikan para ahli dalam laporan Antara (14/4/2026). Informasi ini penting dipahami karena kebiasaan sehari-hari anak dapat berdampak langsung pada kesehatan jangka panjang.

Baca juga: Anak Meisya Siregar Alami ITP, Kenali Ciri-Ciri dan Gejalanya pada Anak

Kurva pertumbuhan bantu deteksi dini

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa kurva pertumbuhan menjadi alat utama untuk memantau tumbuh kembang anak.

Dokter spesialis anak Prof. dr. Jose R.L. Batubara menjelaskan bahwa kurva ini menunjukkan pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

“Kalau sudah diukur tingginya, kita belum bisa interpretasi. Harus diplot dulu ke kurva pertumbuhan,” kata dr. Jose.

Hasil pengukuran tersebut membantu tenaga kesehatan menilai apakah pertumbuhan anak normal atau perlu intervensi.

Pemantauan perlu dilakukan minimal dua kali dalam rentang tiga hingga enam bulan agar terlihat tren pertumbuhan.

Baca juga: Anak Meisya Siregar Tiba-tiba Memar Tanpa Sebab, Ini Penjelasan Medisnya

Faktor tinggi badan tidak hanya genetik

Ilustrasi tinggi anak. Banyak orangtua tidak sadar, kebiasaan sederhana seperti pola minum susu hingga cara memantau pertumbuhan bisa memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.Freepik/jcomp Ilustrasi tinggi anak. Banyak orangtua tidak sadar, kebiasaan sederhana seperti pola minum susu hingga cara memantau pertumbuhan bisa memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Jose menjelaskan bahwa tinggi badan anak tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan. Nutrisi, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga berperan penting dalam proses pertumbuhan.

“Bukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek,” ujarnya.

Asupan protein hewani, kalsium, dan vitamin D penting untuk mendukung pertumbuhan tulang.

Tidur yang cukup juga berperan karena hormon pertumbuhan bekerja optimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.

Baca juga: Anak Meisya Siregar Alami ITP, Ini Penyakit Langka yang Bikin Tubuh Mudah Memar

Konsumsi susu berlebihan bisa berdampak

Pola konsumsi yang kurang tepat juga dapat memengaruhi kesehatan anak.

Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria mengatakan konsumsi susu berlebihan dapat mengganggu penyerapan zat besi.

“Yang bermasalah itu adalah kalsiumnya karena bisa jadi kompetitif dengan penyerapan zat besinya,” kata dr. Lucky.

Ia menyarankan konsumsi susu maksimal 500 mililiter per hari dan diberikan sebagai selingan. Jeda waktu sekitar dua jam dari makan utama membantu penyerapan zat besi tetap optimal.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, gangguan perkembangan otak, hingga penurunan kemampuan kognitif.

Gizi seimbang jaga daya tahan tubuh anak

Kondisi cuaca ekstrem seperti El Nino juga meningkatkan risiko penyakit pada anak, terutama batuk pilek.

Lucky menjelaskan bahwa daya tahan tubuh anak sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi dan istirahat.

“Sebenarnya yang utama itu anak istirahat yang cukup dan mendapatkan nutrisi seperti vitamin D, vitamin C, Zink,” ujarnya.

Asupan dari buah, sayur, dan protein hewani membantu memperkuat sistem imun. Ia menambahkan bahwa sebagian besar batuk pilek disebabkan virus dan dapat pulih jika imunitas anak baik.

Baca juga: Obat Herbal Tidak Bisa Sembuhkan TBC, Dokter Anak Jelaskan Penyebabnya

Peran orangtua jadi penentu

Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa kesehatan anak tidak bergantung pada satu aspek saja.

Orangtua perlu memantau pertumbuhan anak secara rutin dan memastikan pola makan serta gaya hidup tetap seimbang.

IDAI juga mengingatkan pentingnya penggunaan kurva pertumbuhan yang sesuai agar tidak terjadi salah interpretasi.

“Kalau kita pakai kurva yang tidak sesuai, anak bisa terlihat pendek padahal sebenarnya normal,” kata dr. Jose.

Pemantauan yang konsisten membantu anak tumbuh optimal dan terhindar dari gangguan kesehatan sejak dini.

Baca juga: TBC Bisa Disembuhkan, Dokter Anak Minta Pengobatan Dijalani Sampai Tuntas

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau