Penulis
KOMPAS.com - Banyak orangtua menilai kesehatan anak dari berat badan saja, padahal gangguan tumbuh kembang bisa terjadi tanpa terlihat jelas.
Dokter anak mengingatkan bahwa pemantauan pertumbuhan dan pola makan memiliki peran penting dalam mendeteksi masalah sejak dini.
Sejumlah temuan ini disampaikan para ahli dalam laporan Antara (14/4/2026). Informasi ini penting dipahami karena kebiasaan sehari-hari anak dapat berdampak langsung pada kesehatan jangka panjang.
Baca juga: Anak Meisya Siregar Alami ITP, Kenali Ciri-Ciri dan Gejalanya pada Anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa kurva pertumbuhan menjadi alat utama untuk memantau tumbuh kembang anak.
Dokter spesialis anak Prof. dr. Jose R.L. Batubara menjelaskan bahwa kurva ini menunjukkan pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.
“Kalau sudah diukur tingginya, kita belum bisa interpretasi. Harus diplot dulu ke kurva pertumbuhan,” kata dr. Jose.
Hasil pengukuran tersebut membantu tenaga kesehatan menilai apakah pertumbuhan anak normal atau perlu intervensi.
Pemantauan perlu dilakukan minimal dua kali dalam rentang tiga hingga enam bulan agar terlihat tren pertumbuhan.
Baca juga: Anak Meisya Siregar Tiba-tiba Memar Tanpa Sebab, Ini Penjelasan Medisnya
Ilustrasi tinggi anak. Banyak orangtua tidak sadar, kebiasaan sederhana seperti pola minum susu hingga cara memantau pertumbuhan bisa memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.Jose menjelaskan bahwa tinggi badan anak tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan. Nutrisi, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga berperan penting dalam proses pertumbuhan.
“Bukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek,” ujarnya.
Asupan protein hewani, kalsium, dan vitamin D penting untuk mendukung pertumbuhan tulang.
Tidur yang cukup juga berperan karena hormon pertumbuhan bekerja optimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.
Baca juga: Anak Meisya Siregar Alami ITP, Ini Penyakit Langka yang Bikin Tubuh Mudah Memar
Pola konsumsi yang kurang tepat juga dapat memengaruhi kesehatan anak.
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria mengatakan konsumsi susu berlebihan dapat mengganggu penyerapan zat besi.
“Yang bermasalah itu adalah kalsiumnya karena bisa jadi kompetitif dengan penyerapan zat besinya,” kata dr. Lucky.
Ia menyarankan konsumsi susu maksimal 500 mililiter per hari dan diberikan sebagai selingan. Jeda waktu sekitar dua jam dari makan utama membantu penyerapan zat besi tetap optimal.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, gangguan perkembangan otak, hingga penurunan kemampuan kognitif.
Kondisi cuaca ekstrem seperti El Nino juga meningkatkan risiko penyakit pada anak, terutama batuk pilek.
Lucky menjelaskan bahwa daya tahan tubuh anak sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi dan istirahat.
“Sebenarnya yang utama itu anak istirahat yang cukup dan mendapatkan nutrisi seperti vitamin D, vitamin C, Zink,” ujarnya.
Asupan dari buah, sayur, dan protein hewani membantu memperkuat sistem imun. Ia menambahkan bahwa sebagian besar batuk pilek disebabkan virus dan dapat pulih jika imunitas anak baik.
Baca juga: Obat Herbal Tidak Bisa Sembuhkan TBC, Dokter Anak Jelaskan Penyebabnya
Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa kesehatan anak tidak bergantung pada satu aspek saja.
Orangtua perlu memantau pertumbuhan anak secara rutin dan memastikan pola makan serta gaya hidup tetap seimbang.
IDAI juga mengingatkan pentingnya penggunaan kurva pertumbuhan yang sesuai agar tidak terjadi salah interpretasi.
“Kalau kita pakai kurva yang tidak sesuai, anak bisa terlihat pendek padahal sebenarnya normal,” kata dr. Jose.
Pemantauan yang konsisten membantu anak tumbuh optimal dan terhindar dari gangguan kesehatan sejak dini.
Baca juga: TBC Bisa Disembuhkan, Dokter Anak Minta Pengobatan Dijalani Sampai Tuntas
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang