Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makan Malam Terlalu Larut Ternyata Mengganggu Kerja Hormon Insulin dalam Tubuh

Kompas.com, 1 Mei 2026, 18:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Kebiasaan makan larut malam terbukti dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis karena tubuh manusia mengalami penurunan sensitivitas terhadap insulin saat hari mulai gelap.

Melansir Eating Well (28/4/2026), mengungkapkan bahwa proses metabolisme glukosa menjadi jauh lebih lambat di malam hari dibandingkan saat siang hari.

Kondisi ini terjadi akibat interaksi antara hormon tidur melatonin yang secara alami menghambat kerja pankreas dalam memproduksi insulin untuk mengolah asupan makanan.

Para ahli gizi memperingatkan bahwa mengonsumsi camilan tinggi karbohidrat menjelang waktu istirahat memaksa organ pencernaan bekerja di luar ritme biologisnya sehingga berisiko mengganggu stabilitas gula darah dalam jangka panjang.

Baca juga: Studi Ungkap Jenis Olahraga yang Tepat untuk Kontrol Gula Darah

Penurunan respons sel tubuh pada malam hari

Proses pengolahan energi dalam tubuh berubah secara signifikan ketika matahari terbenam dan tubuh mulai bersiap untuk beristirahat.

Saat Anda mengonsumsi karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi glukosa yang kemudian diantar oleh hormon insulin menuju sel-sel untuk digunakan sebagai bahan bakar.

"Ketika kita ngemil larut malam, terutama pilihan yang tinggi karbohidrat olahan, terjadi lonjakan cepat dan penurunan drastis kadar gula darah," ujar ahli diet Christina Manian.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan tubuh dalam melepaskan insulin dan toleransi glukosa menurun seiring berjalannya hari menuju malam.

Hal ini menyebabkan camilan yang sama jika dimakan pada siang hari tidak memberikan dampak buruk, namun bisa memicu lonjakan gula darah yang berbahaya jika dikonsumsi sebelum tidur.

Baca juga: Waspada Risiko Hipoglikemia Saat Anak Puasa, Ini Pertolongan Pertama Meningkatkan Gula Darah

Pengaruh hormon tidur terhadap metabolisme

Ilustrasi makan malam. Kebiasaan mengonsumsi camilan di malam hari ternyata dapat mengacaukan sistem metabolisme dan memicu lonjakan gula darah.SHUTTERSTOCK Ilustrasi makan malam. Kebiasaan mengonsumsi camilan di malam hari ternyata dapat mengacaukan sistem metabolisme dan memicu lonjakan gula darah.

Produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur siklus tidur ternyata memberikan pengaruh langsung terhadap kemampuan tubuh mengolah gula.

Peningkatan kadar melatonin di malam hari dapat menurunkan sekresi insulin atau membuat tubuh menjadi kurang sensitif terhadap hormon pengatur gula darah tersebut.

Data penelitian menunjukkan kadar melatonin bisa meningkat hingga 3,5 kali lipat lebih tinggi jika seseorang makan sesaat sebelum tidur dibandingkan dengan makan di awal malam.

Kondisi tersebut menyebabkan kelompok orang yang makan larut malam memiliki kadar insulin yang lebih rendah namun kadar gula darah yang justru melonjak tinggi.

Efek ini ditemukan sangat kuat pada hampir separuh populasi yang memiliki varian genetik tertentu yang berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2.

Baca juga: 11 Tanda Gula Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai, dari Sering BAK hingga Napas Beraroma Buah

Kekacauan jam biologis organ pencernaan

Makan di malam hari memaksa sistem pencernaan untuk bekerja aktif di saat jam biologis tubuh atau ritme sirkadian memerintahkannya untuk beristirahat.

Organ pencernaan yang menerima asupan nutrisi saat malam hari akan mengalami konflik sinyal dengan jam pusat di otak yang sedang mempersiapkan fase pemulihan.

Sebuah studi terkendali selama 14 hari menemukan bahwa orang yang makan pada jam malam menunjukkan gejala intoleransi glukosa yang terukur secara nyata.

Sementara itu, orang yang tetap menjaga jadwal makan hanya pada siang hari mampu mempertahankan kontrol gula darah yang stabil meskipun jadwal tidurnya terganggu.

Ketidakteraturan ini jika dilakukan terus-menerus dapat merusak sistem metabolisme karena tubuh kehilangan waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk regenerasi sel.

Baca juga: Cara Cepat Menurunkan Gula Darah, Ini Saran Dokter

Cara aman mengatur camilan malam

Pakar gizi memberikan beberapa panduan praktis bagi Anda yang tetap membutuhkan asupan makanan sebelum tidur agar tetap aman bagi kadar gula darah.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk meminimalkan lonjakan glukosa di malam hari:

Menambahkan sumber protein seperti yogurt atau telur rebus untuk memperlambat proses pencernaan karbohidrat dalam tubuh.

Memilih jenis karbohidrat kompleks seperti gandum utuh atau buah-buahan yang meningkatkan gula darah secara perlahan dan bertahap.

Mengombinasikan makanan dengan lemak sehat seperti alpukat atau kacang-kacangan guna meredam respon glukosa yang berlebihan.

Menjaga porsi makanan agar tetap ringan dan tidak berubah menjadi porsi makan besar yang membebani kerja lambung.

Memberikan jeda waktu setidaknya beberapa jam antara waktu makan terakhir dengan waktu tidur untuk mendukung regulasi gula darah yang lebih baik.

"Pilihan kecil yang dilakukan secara sadar di malam hari dapat sangat membantu dalam mendukung kesehatan metabolisme Anda," ungkap pakar gizi Jill McNutt.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif berdasarkan laporan kesehatan dan bukan merupakan saran medis profesional atau diagnosis. Selalu konsultasikan pola makan Anda dengan dokter atau ahli gizi, terutama jika Anda memiliki riwayat diabetes atau masalah gula darah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau