Penulis
KOMPAS.com - Istilah “USG mata” untuk mendeteksi preeklamsia pada ibu hamil ramai dibicarakan di sosial media, tetapi pemahaman ini perlu diluruskan.
Pemeriksaan yang dimaksud sebenarnya bukan USG mata seperti yang umum digunakan untuk diagnosis penyakit mata, melainkan USG Doppler yang menilai aliran darah di pembuluh sekitar mata.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSIA Anugerah Semarang, dr. Indra Adi Susianto, MSi.Med, SpOG, menjelaskan bahwa kondisi preeklamsia memang dapat berdampak pada organ penglihatan.
“Preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan dapat menyebabkan kerusakan pada retina dan koroid,” kata dr. Indra saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan, pemeriksaan menggunakan USG pada area mata bertujuan melihat perubahan yang terjadi akibat gangguan tekanan darah tersebut.
Baca juga: Deteksi Dini Preeklamsia Jadi Kunci Keselamatan Ibu dan Bayi
Dokter spesialis mata RS Mata JEC Candi Semarang, dr. Kartika Cindy Fibrian Sitorus, SpM, MKM, menegaskan bahwa USG yang digunakan dalam konteks ini berbeda dengan USG mata yang umum dilakukan di bidang oftalmologi.
“Pemeriksaan tersebut adalah USG Doppler untuk melihat kondisi pembuluh darah oftalmika, yang pada beberapa penelitian dapat menjadi penanda awal preeklamsia,” kata dr. Kartika saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, posisi pembuluh darah tersebut berada di belakang bola mata sehingga pemeriksaan dilakukan di area sekitar mata.
Namun, USG Doppler tidak sama dengan USG mata yang digunakan untuk mendeteksi kelainan seperti ablasio retina, tumor, atau perdarahan di dalam bola mata.
“USG mata menggunakan probe yang berbeda dan bertujuan melihat struktur bola mata, sedangkan USG Doppler untuk menilai aliran darah,” ujarnya.
Baca juga: Hipertensi pada Ibu Hamil: Risiko Preeklamsia yang Harus Diwaspadai
Ilustrasi USG. Istilah USG mata untuk mendeteksi preeklamsia ramai dibahas, tetapi dokter menegaskan bahwa pemeriksaan tersebut memiliki fungsi yang berbeda dari yang banyak dipahami masyarakat.Meski memiliki potensi sebagai penanda awal, penggunaan USG Doppler untuk deteksi preeklamsia belum menjadi prosedur rutin di Indonesia.
Kartika menyebut pemeriksaan ini masih terbatas dan belum digunakan secara luas dalam praktik klinis sehari-hari.
Sementara itu, Indra menekankan bahwa pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan pada ibu hamil dengan risiko tinggi.
“Pada kehamilan risiko tinggi memang dianjurkan skrining lebih detail, tetapi pemeriksaan seperti ini membutuhkan dokter yang kompeten dan biayanya tidak murah,” kata dr. Indra.
Baca juga: Siapa Saja Ibu Hamil yang Berisiko Tinggi Terkena Preeklamsia?
Dalam praktiknya, deteksi preeklamsia tidak hanya bergantung pada satu jenis pemeriksaan.
Indra menjelaskan bahwa diagnosis biasanya diawali dari pemeriksaan tekanan darah dan kadar protein dalam urine.
Jika ditemukan indikasi, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk USG untuk melihat aliran darah pada arteri uterina.
“Pemeriksaan resistensi arteri uterina dilakukan setelah ada konfirmasi tanda preeklamsia, bukan untuk kehamilan normal,” ujarnya.
Di sisi lain, dokter mata juga dapat mendeteksi dampak preeklamsia melalui pemeriksaan retina.
Kartika menyebut pemeriksaan funduskopi dapat menjadi langkah aman untuk melihat kondisi pembuluh darah mata pada ibu hamil.
“Funduskopi sangat disarankan pada ibu hamil dengan penurunan tajam penglihatan akibat peningkatan tekanan darah,” kata dr. Kartika.
Baca juga: 12 Gejala Preeklamsia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai
Baik USG mata maupun USG Doppler dinilai aman karena menggunakan gelombang suara.
Namun, kedua dokter menekankan bahwa hasil pemeriksaan sangat bergantung pada keahlian tenaga medis yang melakukan.
“USG merupakan pemeriksaan yang bergantung pada operator, sehingga sebaiknya dilakukan oleh dokter yang kompeten agar hasilnya akurat,” ujar dr. Kartika.
Kesimpulannya, istilah “USG mata untuk deteksi preeklamsia” tidak sepenuhnya tepat karena pemeriksaan yang digunakan berbeda fungsi dan tujuannya.
Pemahaman yang tepat penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan manfaat dan indikasi dari pemeriksaan tersebut.
Baca juga: Mengenal Gejala dan Komplikasi Preeklamsia
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang