Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diabetes Pasti Berujung Penyakit Jantung, Benarkah? Simak Penjelasan Dokter

Kompas.com, 14 April 2026, 19:15 WIB
Devi Pattricia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Diabetes kerap dikaitkan dengan berbagai komplikasi serius, termasuk penyakit jantung. 

Tak sedikit anggapan di masyarakat yang menyebut bahwa pengidap diabetes pasti akan mengalami gangguan jantung. Namun, apakah benar demikian?

Benarkah penderita diabetes pasti terkena penyakit jantung?

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP menjelaskan, diabetes memang memiliki dampak luas terhadap kondisi pembuluh darah di dalam tubuh. 

Baca juga: Golongan Darah B Lebih Rentan Diabetes, Ini Penjelasannya

Dampak inilah yang kemudian meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk yang berkaitan dengan jantung.

“Diabetes itu merusak pembuluh darah mau besar mau kecil yang ada di tubuh manusia. Pembuluh darah kecil itu adanya di mata, dia mikrovaskular, kecil banget,” jelas dr. Gio dalam Media Gathering & Insight Kesehatan Jantung Terkini RS Siloam Heart Hospital, di Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).

Diabetes dan kerusakan pembuluh darah

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP dalam Media Gathering & Insight Kesehatan Jantung Terkini RS Siloam Heart Hospital, di Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).KOMAPAS.com/DEVI PATTRICIA Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP dalam Media Gathering & Insight Kesehatan Jantung Terkini RS Siloam Heart Hospital, di Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).

Menurut dr. Gio, salah satu dampak utama diabetes adalah kerusakan pada pembuluh darah, baik yang berukuran kecil (mikrovaskular) maupun besar (makrovaskular). 

Kerusakan ini terjadi secara bertahap, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka waktu lama.

Baca juga: Benarkah Diare Bisa Jadi Gejala Awal Penyakit Jantung? Ini Kata Dokter

Pembuluh darah kecil, misalnya, dapat ditemukan di berbagai organ vital seperti mata. Ketika pembuluh ini rusak, gejala yang muncul sering kali tidak disadari sejak awal oleh penderitanya.

“Terkadang orang yang sudah diabetes lama dan tidak terkontrol tiba-tiba merasa ada gangguan mata. Biasanya nggak pakai kacamata, tiba-tiba rabun,” ujar dr. Gio.

Gejala tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kerusakan sudah mulai terjadi pada pembuluh darah kecil, meskipun sering kali dianggap sebagai masalah penglihatan biasa.

Retinopati diabetik sebagai tanda awal

Lebih lanjut, dr. Gio menjelaskan, gangguan penglihatan pada penderita diabetes bisa menjadi indikasi adanya kondisi yang disebut retinopati diabetik. 

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah kecil di mata mengalami kerusakan hingga pecah.

“Ketika diperiksa pakai alat khusus, sudah ada bercak di pembuluh darah yang tandanya sudah pecah di area mata. Kondisi ini namanya retinopati diabetik," jelasnya.

Retinopati diabetik menjadi salah satu komplikasi yang cukup sering ditemukan pada penderita diabetes yang tidak terkontrol. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah telah terjadi dan berpotensi juga terjadi di organ lain.

Risiko pada pembuluh darah besar

Selain pembuluh darah kecil, diabetes juga berdampak pada pembuluh darah besar yang terdapat di organ penting seperti jantung, ginjal, dan otak. 

Kerusakan pada pembuluh darah besar inilah yang meningkatkan risiko penyakit serius seperti serangan jantung dan stroke.

“Sementara itu, pembuluh darah besar ada di jantung, ginjal, dan otak. Jadi potensi untuk stroke dan serangan jantung ada, karena beberapa organ punya pembuluh darah mikro dan makro sekaligus,” ungkap dr. Gio.

Hal ini menjelaskan mengapa penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan individu tanpa diabetes.

Tidak semua penderita diabetes pasti mengalami penyakit jantung

Meski risiko meningkat, dr. Gio menegaskan, tidak semua pengidap diabetes pasti akan mengalami penyakit jantung. 

Risiko tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kontrol gula darah, gaya hidup, serta penanganan medis yang tepat.

Dengan pengelolaan yang baik, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengikuti anjuran dokter, risiko komplikasi dapat ditekan secara signifikan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kadar gula darah tetap stabil menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan pembuluh darah. 

Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting untuk mendeteksi dini potensi komplikasi, baik pada pembuluh darah kecil maupun besar.

Baca juga: Vaksin Flu Bisa Kurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Ini Temuannya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau