JAKARTA, KOMPAS.com - Diabetes kerap dikaitkan dengan berbagai komplikasi serius, termasuk penyakit jantung.
Tak sedikit anggapan di masyarakat yang menyebut bahwa pengidap diabetes pasti akan mengalami gangguan jantung. Namun, apakah benar demikian?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP menjelaskan, diabetes memang memiliki dampak luas terhadap kondisi pembuluh darah di dalam tubuh.
Baca juga: Golongan Darah B Lebih Rentan Diabetes, Ini Penjelasannya
Dampak inilah yang kemudian meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk yang berkaitan dengan jantung.
“Diabetes itu merusak pembuluh darah mau besar mau kecil yang ada di tubuh manusia. Pembuluh darah kecil itu adanya di mata, dia mikrovaskular, kecil banget,” jelas dr. Gio dalam Media Gathering & Insight Kesehatan Jantung Terkini RS Siloam Heart Hospital, di Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, Sp.JP dalam Media Gathering & Insight Kesehatan Jantung Terkini RS Siloam Heart Hospital, di Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).Menurut dr. Gio, salah satu dampak utama diabetes adalah kerusakan pada pembuluh darah, baik yang berukuran kecil (mikrovaskular) maupun besar (makrovaskular).
Kerusakan ini terjadi secara bertahap, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka waktu lama.
Baca juga: Benarkah Diare Bisa Jadi Gejala Awal Penyakit Jantung? Ini Kata Dokter
Pembuluh darah kecil, misalnya, dapat ditemukan di berbagai organ vital seperti mata. Ketika pembuluh ini rusak, gejala yang muncul sering kali tidak disadari sejak awal oleh penderitanya.
“Terkadang orang yang sudah diabetes lama dan tidak terkontrol tiba-tiba merasa ada gangguan mata. Biasanya nggak pakai kacamata, tiba-tiba rabun,” ujar dr. Gio.
Gejala tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kerusakan sudah mulai terjadi pada pembuluh darah kecil, meskipun sering kali dianggap sebagai masalah penglihatan biasa.
Lebih lanjut, dr. Gio menjelaskan, gangguan penglihatan pada penderita diabetes bisa menjadi indikasi adanya kondisi yang disebut retinopati diabetik.
Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah kecil di mata mengalami kerusakan hingga pecah.
“Ketika diperiksa pakai alat khusus, sudah ada bercak di pembuluh darah yang tandanya sudah pecah di area mata. Kondisi ini namanya retinopati diabetik," jelasnya.
Retinopati diabetik menjadi salah satu komplikasi yang cukup sering ditemukan pada penderita diabetes yang tidak terkontrol.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah telah terjadi dan berpotensi juga terjadi di organ lain.
Selain pembuluh darah kecil, diabetes juga berdampak pada pembuluh darah besar yang terdapat di organ penting seperti jantung, ginjal, dan otak.
Kerusakan pada pembuluh darah besar inilah yang meningkatkan risiko penyakit serius seperti serangan jantung dan stroke.
“Sementara itu, pembuluh darah besar ada di jantung, ginjal, dan otak. Jadi potensi untuk stroke dan serangan jantung ada, karena beberapa organ punya pembuluh darah mikro dan makro sekaligus,” ungkap dr. Gio.
Hal ini menjelaskan mengapa penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan individu tanpa diabetes.
Meski risiko meningkat, dr. Gio menegaskan, tidak semua pengidap diabetes pasti akan mengalami penyakit jantung.
Risiko tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kontrol gula darah, gaya hidup, serta penanganan medis yang tepat.
Dengan pengelolaan yang baik, seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengikuti anjuran dokter, risiko komplikasi dapat ditekan secara signifikan.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kadar gula darah tetap stabil menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan pembuluh darah.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting untuk mendeteksi dini potensi komplikasi, baik pada pembuluh darah kecil maupun besar.
Baca juga: Vaksin Flu Bisa Kurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Ini Temuannya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang