Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mitos atau Fakta, Terlalu Banyak Makan Daging Merah Bisa Sebabkan Kanker Payudara?

Kompas.com, 8 November 2025, 21:56 WIB
Aliyah Shifa Rifai,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tak sedikit perempuan yang meyakini, terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan daging olahan seperti sosis, bisa meningkatkan risiko kanker payudara.

Namun, menurut General Practitioner Breast Cancer Care Alliance MRCCC Siloam, dr. Rosary, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Konsumsi daging tidak secara langsung menyebabkan kanker payudara, tetapi berhubungan dengan faktor risiko lain, seperti obesitas dan ketidakseimbangan hormon.

Baca juga: 5 Faktor Risiko Kanker Payudara yang Perlu Diwaspadai Sejak Dini

“Mungkin kalau daging itu kaitannya dengan obesitas. Jadi apakah itu akan langsung berpengaruh ke terjadinya suatu kanker, itu tidak berhubungan langsung.”

Hal itu diungkapkan dr. Rosary dalam acara Health Talk Langkah Nyata Lawan Kanker Payudara: Dari Edukasi ke Aksi yang diadakan oleh Siloam Hospitals melalui Zoom, Kamis (6/11/2025).

Bukan dagingnya, tapi risiko obesitas yang meningkat

Dalam penjelasannya, dr. Rosary mengatakan hubungan antara konsumsi daging dan kanker payudara lebih mengarah pada pengaruhnya terhadap berat badan.

Konsumsi daging berlemak tinggi secara berlebihan tentu dapat memicu obesitas, yang diketahui menjadi salah satu faktor risiko utama kanker payudara.

“Namun, bukan cuma konsumsi daging, tapi obesitas. Balik lagi ke obesitas, karena enam puluh persen kanker payudara pada perempuan itu berhubungan erat dengan hormonal estrogen dan progesteron,” ujar dr. Rosary.

Saat seseorang mengalami kelebihan berat badan, jumlah lemak tubuh meningkat dan menyebabkan produksi estrogen berlebih.

Hormon estrogen inilah yang berperan dalam pertumbuhan sel payudara.

Hubungan antara lemak tubuh dan hormon estrogen

Berdasarkan paparannya, dr. Rosary menyebut bahwa hormon estrogen tidak hanya dihasilkan oleh indung telur, tetapi juga oleh sel-sel lemak di tubuh.

Semakin banyak lemak tubuh seseorang, semakin tinggi pula kadar estrogen yang dihasilkan. Kondisi inilah yang dapat meningkatkan risiko pertumbuhan sel lain di jaringan payudara.

Baca juga: Dokter Jelaskan 4 Cara Mendeteksi Kanker Payudara Secara Mandiri

“Sedangkan obesitas itu sel lemak. Sel lemak kita selain dari indung telur yang menghasilkan estrogen, sel lemak tubuh itu juga menghasilkan estrogen,” terangnya.

Dengan demikian, pola makan tinggi lemak dan kalori, termasuk konsumsi daging secara berlebihan, bisa berkontribusi terhadap peningkatan kadar hormon estrogen yang berkaitan dengan kanker payudara.

Hindari makanan berpengawet

Selain kandungan lemaknya, dr. Rosary juga menyoroti kandungan yang ada di dalam daging olahan dan makanan berpengawet.

Kandungan pengawet dan bahan kimia dalam makanan olahan dapat menimbulkan efek oksidasi di dalam tubuh, yang berpotensi merusak sel dan memicu perubahan genetik dalam jangka panjang.

“Sehingga mungkin kaitannya adalah pemakan daging kemudian pengawet, karena pengawet oksidannya tinggi, artinya dia bisa menyebabkan mutasi sel secara tidak langsung,” katanya.

Oksidasi yang terus-menerus dapat memicu mutasi sel, yang dalam beberapa kasus bisa berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu, konsumsi makanan berpengawet sebaiknya dibatasi.

Baca juga: Menemukan Kanker Payudara di Stadium Dini Jadi Kunci Kesembuhan

Faktor pola hidup sehat membantu cegah kanker payudara

Lebih dari itu, dr. Rosary menekankan bahwa risiko kanker payudara tidak ditentukan oleh satu jenis makanan tertentu, tetapi berdasarkan pola hidup secara keseluruhan.

Konsumsi daging sesekali dalam porsi wajar tidak berbahaya, selama diimbangi dengan gaya hidup sehat dan berat badan ideal.

“Kalau daging, makan makanan tidak bergizi, pola hidup tidak sehat itu akan memengaruhi obesitas. Kaitannya dari obesitas,” tuturnya.

Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik rutin, menghindari stres berlebih, dan pemeriksaan payudara secara berkala juga penting dilakukan sebagai bentuk pencegahan.

Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makan daging merah dapat menyebabkan kanker payudara secara langsung.

Namun, kebiasaan makan berlebihan, terutama makanan berlemak dan berpengawet, dapat memicu obesitas yang meningkatkan kadar hormon estrogen dalam tubuh. Hal inilah yang berhubungan erat dengan risiko kanker payudara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau