Penulis
KOMPAS.com - Perjalanan melawan kanker pada anak tidak berakhir ketika pengobatan medis selesai. Di balik keberhasilan melawan penyakit fisik, tersimpan hambatan mental berupa terputusnya kehidupan sosial dan rasa percaya diri yang terkikis.
Menjalani rangkaian terapi pengobatan yang panjang di masa kanak-kanak telah menjauhkan mereka dari dunianya: belajar, bermain, dan bergaul dengan teman sebaya.
Menurut psikolog senior Ninuk Widyantoro, banyak penyintas kanker anak merasa "berbeda" dan kesulitan untuk berintegrasi kembali.
"Efek terapi kanker, kerap menyebabkan keterbatasan fisik. Hal ini membuat mereka merasa berbeda dibandingkan teman sebaya dan rasa percaya dirinya pun rendah, bahkan untuk hal sederhana seperti bergaul," jelas Ninuk.
Inilah mengapa, lanjut Ninuk, pemulihan psikologis bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak agar mereka dapat kembali percaya diri dan meraih masa depannya.
Baca juga: YOAI Luncurkan Buku Panduan Kanker Anak Bagi Orangtua
Psikolog Intan K. Wardhani, M.Psi, menambahkan, penyintas kanker anak kerap mengalami kesulitan tentang konsep diri, pasca menjalani perawatan.
"Konsep diri adalah gambaran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri, yang mencakup bagaimana ia melihat dirinya secara fisik, sosial-emosional, kognitif, dan perilaku," jelas Intan.
Konsep diri ini mulai berkembang sejak masa kanak-kanak dan dipengaruhi oleh pola asuh, interaksi sosial, budaya, dan pengalaman hidup.
"Anak dengan kanker punya pengalaman hidup yang tidak sama dengan anak sehat pada umumnya, karena mereka punya pengalaman menjalani pengobatan kanker, hilangnya kendali atas tubuh, stres akibat prosedur medis, dan semuanya berdampak pada rencana hidup yang tertunda dan hubungan sosial yang terputus," jelas Intan.
Baca juga: Hari Kanker Anak Sedunia: Kemenkes Kenalkan Rencana Aksi Nasional Kanker Anak
Untuk membangun konsep diri yang positif, para penyintas kanker anak membutuhkan dukungan psikologis. Para penyintas kanker yang memiliki konsep diri positif cenderung mampu menerima dirinya sendiri, yang pada akhirnya membentuk harapan dan tercapainya kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Pertemuan penyintas kanker anak yang diadakan di Magelang, Jawa Tengah, 19-21 September 2025Intan menjelaskan, ada lima cara membangun konsep diri yang positif. Pertama, membangun kesadaran diri sendiri, atau sadar siapa diri kita saat ini dan siapa yang kita ingin jadi (ideal self).
Kedua, berhenti menghakimi diri sendiri, dengan cara menerima kelebihan dan kekurangan dan memaafkan masa lalu. Ketiga, mengganti ideal self yang tidak realistis yaitu tidak lagi terpaku pada standar sosial, namun sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi diri.
Keempat, melakukan upaya perubahan secara bertahap, dan kelima, fokus pada proses dan bukan kesempurnaan.
Baca juga: Kanker Tulang Tidak Selalu Harus Amputasi, Ini Penjelasan Dokter
"Contoh, saya memang lulus lebih lama dari mereka karena lama dirawat di rumah sakit, tapi itu tidak membuat saya gagal sebagai pribadi. Saya bisa mencari peluang untuk melanjutkan pendidikan dan berkarir," ujar Intan memberikan contoh afirmasi positif.
Para penyintas kanker anak yang tergabung dalam komunitas Cancer Buster Community (CBC) kembali mengadakan Cancer Survivors's Camp (CSC) atau pertemuan penyintas kanker anak di tahun 2025 ini.
Kegiatan CSC tahun ini dilakukan di Magelang, Jawa Tengah dan berlangsung selama 3 hari, 19-21 September 2025 dan diikuti 50 peserta.
Ketua Cancer Buster Community, Saprita Tahir, mengatakan, acara tahun ini mengambil tema bertema "Inspiring Action: Toward a Better Future Childhood Cancer Survivors".
Baca juga: Area Tubuh yang Mengalami Perubahan Warna Kulit Saat Terapi Kanker
"Tujuan CSC ini adalah memberikan terapi psikologis berupa workshop kepada para penyintas kanker anak, pasca menjalani pengobatan medis kanker. Mereka juga diberi kesempatan untuk mengembangkan kemandirian belajar, pengetahuan baru, dan berinteraksi dengan teman-teman yang mempunya latar belakang perjuangan yang sama," katanya.
CBC telah melakukan program CSC ini sebanyak 12 kali yang diadakan di berbagai kota di Indonesia dan Singapura.
Selain workshop, acara CSC tahun ini juga diisi dengan sharing sessions, aktivitas bersama, dan juga tur ke Candi Borobudur dan Wisata Lava Tour Gunung Merapi.
Salah satu pendiri Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) yang menaungi CBC, Lastri Krisnarto, menyambut baik kegiatan ini.
"Mereka adalah pejuang yang tangguh. Untuk sampai pada titik ini, perjuangan mereka tidak mudah. Kami dari YOAI selalu memberikan
dukungan karena kami percaya, aktivitas para penyintas kanker anak di CBC ini akan menjadi motivasi bagi anak-anak penderita kanker lainnya, yang saat ini sedang berjuang menaklukkan penyakitnya," ujar Lastri.
Baca juga: Bisakah Ganja Menjadi Obat Kanker di Masa Depan? Begini Kata Sains
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang