Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemulihan Psikologis Dibutuhkan Anak Penyintas Kanker

Kompas.com, 25 September 2025, 19:55 WIB
Lusia Kus Anna

Penulis

KOMPAS.com - Perjalanan melawan kanker pada anak tidak berakhir ketika pengobatan medis selesai. Di balik keberhasilan melawan penyakit fisik, tersimpan hambatan mental berupa terputusnya kehidupan sosial dan rasa percaya diri yang terkikis. 

Menjalani rangkaian terapi pengobatan yang panjang di masa kanak-kanak telah menjauhkan mereka dari dunianya: belajar, bermain, dan bergaul dengan teman sebaya. 

Menurut psikolog senior Ninuk Widyantoro, banyak penyintas kanker anak merasa "berbeda" dan kesulitan untuk berintegrasi kembali. 

"Efek terapi kanker, kerap menyebabkan keterbatasan fisik. Hal ini membuat mereka merasa berbeda dibandingkan teman sebaya dan rasa percaya dirinya pun rendah, bahkan untuk hal sederhana seperti bergaul," jelas Ninuk. 

Inilah mengapa, lanjut Ninuk, pemulihan psikologis bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak agar mereka dapat kembali percaya diri dan meraih masa depannya.

Baca juga: YOAI Luncurkan Buku Panduan Kanker Anak Bagi Orangtua

Membangun konsep diri yang positif

Psikolog Intan K. Wardhani, M.Psi, menambahkan, penyintas kanker anak kerap mengalami kesulitan tentang konsep diri, pasca menjalani perawatan. 

"Konsep diri adalah gambaran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri, yang mencakup bagaimana ia melihat dirinya secara fisik, sosial-emosional, kognitif, dan perilaku," jelas Intan.

Konsep diri ini mulai berkembang sejak masa kanak-kanak dan dipengaruhi oleh pola asuh, interaksi sosial, budaya, dan pengalaman hidup.

"Anak dengan kanker punya pengalaman hidup yang tidak sama dengan anak sehat pada umumnya, karena mereka punya pengalaman menjalani pengobatan kanker, hilangnya kendali atas tubuh, stres akibat prosedur medis, dan semuanya berdampak pada rencana hidup yang tertunda dan hubungan sosial yang terputus," jelas Intan. 

Baca juga: Hari Kanker Anak Sedunia: Kemenkes Kenalkan Rencana Aksi Nasional Kanker Anak

Untuk membangun konsep diri yang positif, para penyintas kanker anak membutuhkan dukungan psikologis. Para penyintas kanker yang memiliki konsep diri positif cenderung mampu menerima dirinya sendiri, yang pada akhirnya membentuk harapan dan tercapainya kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

Pertemuan penyintas kanker anak yang diadakan di Magelang, Jawa Tengah, 19-21 September 2025Dok CBC Pertemuan penyintas kanker anak yang diadakan di Magelang, Jawa Tengah, 19-21 September 2025

Intan menjelaskan, ada lima cara membangun konsep diri yang positif. Pertama, membangun kesadaran diri sendiri, atau sadar siapa diri kita saat ini dan siapa yang kita ingin jadi (ideal self). 

Kedua, berhenti menghakimi diri sendiri, dengan cara menerima kelebihan dan kekurangan dan memaafkan masa lalu. Ketiga, mengganti ideal self yang tidak realistis yaitu tidak lagi terpaku pada standar sosial, namun sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi diri.

Keempat, melakukan upaya perubahan secara bertahap, dan kelima, fokus pada proses dan bukan kesempurnaan.

Baca juga: Kanker Tulang Tidak Selalu Harus Amputasi, Ini Penjelasan Dokter

"Contoh, saya memang lulus lebih lama dari mereka karena lama dirawat di rumah sakit, tapi itu tidak membuat saya gagal sebagai pribadi. Saya bisa mencari peluang untuk melanjutkan pendidikan dan berkarir," ujar Intan memberikan contoh afirmasi positif. 

Acara Cancer survivor's camp

Para penyintas kanker anak yang tergabung dalam komunitas Cancer Buster Community (CBC) kembali mengadakan Cancer Survivors's Camp (CSC) atau pertemuan penyintas kanker anak di tahun 2025 ini. 

Kegiatan CSC tahun ini dilakukan di Magelang, Jawa Tengah dan berlangsung selama 3 hari, 19-21 September 2025 dan diikuti 50 peserta. 

Ketua Cancer Buster Community, Saprita Tahir, mengatakan, acara tahun ini mengambil tema bertema "Inspiring Action: Toward a Better Future Childhood Cancer Survivors".

Baca juga: Area Tubuh yang Mengalami Perubahan Warna Kulit Saat Terapi Kanker

"Tujuan CSC ini adalah memberikan terapi psikologis berupa workshop kepada para penyintas kanker anak, pasca menjalani pengobatan medis kanker. Mereka juga diberi kesempatan untuk mengembangkan kemandirian belajar, pengetahuan baru, dan berinteraksi dengan teman-teman yang mempunya latar belakang perjuangan yang sama," katanya.

CBC telah melakukan program CSC ini sebanyak 12 kali yang diadakan di berbagai kota di Indonesia dan Singapura.

Selain workshop, acara CSC tahun ini juga diisi dengan sharing sessions, aktivitas bersama, dan juga tur ke Candi Borobudur dan Wisata Lava Tour Gunung Merapi.

Salah satu pendiri Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) yang menaungi CBC, Lastri Krisnarto, menyambut baik kegiatan ini.

"Mereka adalah pejuang yang tangguh. Untuk sampai pada titik ini, perjuangan mereka tidak mudah. Kami dari YOAI selalu memberikan

dukungan karena kami percaya, aktivitas para penyintas kanker anak di CBC ini akan menjadi motivasi bagi anak-anak penderita kanker lainnya, yang saat ini sedang berjuang menaklukkan penyakitnya," ujar Lastri.

Baca juga: Bisakah Ganja Menjadi Obat Kanker di Masa Depan? Begini Kata Sains

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Menggambar dan Mewarnai Penting bagi Tumbuh Kembang Anak, Ini Kata Dokter
Health
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Mengatasi Nyeri sebagai Prioritas Perawatan Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta dalam 10 Tahun
Health
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Pentingnya Perawatan Fisik dan Spiritual Pasien Kanker Stadium Lanjut
Health
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Health
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
3 Mitos tentang Lupus yang Banyak Dipercaya dan Bisa Berakibat Fatal
Health
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Tak Hanya Lelah, Ini Gejala Perubahan Hormon pada Pria Menurut Dokter
Health
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Kelelahan Terus-menerus pada Wanita Bisa Jadi Gejala Lupus, Jangan Abaikan
Health
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Kurang Tidur Dapat Tingkatkan Risiko Stroke Ringan, Ini Penjelasan Dokter
Health
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
6 Penyebab Sakit Kepala di Tengkuk, Termasuk Postur yang Buruk
Health
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Health
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Dokter Ungkap Makanan yang Bisa Tingkatkan Kualitas Embrio, Salah Satunya Daging Merah
Health
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
BPJS Kesehatan Tegaskan Iuran JKN Belum Naik, Ini Besaran yang Masih Berlaku
Health
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Orangtua Perlu Tahu, Ini Batas Aman Anak Makan Daging Kurban
Health
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Amankah Anak Makan Sate dan Gulai saat Idul Adha? Ini Penjelasan Dokter
Health
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau