JAKARTA, KOMPAS.com – Ryan Aprianno (32) masih mengingat momen ketika putra pertamanya mulai aktif berjalan dan mengeksplorasi seluruh sudut rumah.
Anak yang baru berusia dua tahun itu sering membuka laci, menyentuh dinding, bahkan penasaran dengan benda-benda kecil di sekitarnya.
Bagi dosen program studi musik yang baru saja menempati rumah baru di kawasan Kranggan, Bekasi, Jawa Barat, itu kondisi tersebut membuatnya memandang rumah dengan cara berbeda.
Baginya, rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal yang nyaman, melainkan juga ruang yang harus benar-benar aman bagi seluruh anggota keluarga. Setelah punya anak, ia menyadari, ada banyak detail kecil yang ternyata penting, termasuk soal kelistrikan.
Ryan mengaku, sejak awal pembangunan rumah, ia cukup detail memperhatikan instalasi listrik. Ia tidak ingin rumah yang sudah dibangun dengan susah payah justru menyimpan risiko korsleting atau sengatan listrik yang membahayakan si kecil.
“Anak saya lagi aktif-aktifnya eksplorasi. Kadang colokan mau disentuh, kabel ditarik-tarik. Jadi, saya wajib memastikan rumah estetik saya tetap aman dari kebakaran dan aman bagi keselamatan keluarga,” tutur Ryan saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).
Kekhawatiran Ryan bukan tanpa alasan. Di Indonesia, kebakaran akibat korsleting listrik masih menjadi ancaman yang kerap terjadi di kawasan permukiman, termasuk di Jakarta.
Baca juga: Jangan Sepelekan Korsleting Listrik di Rumah, Bisa Sebabkan Kebakaran
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menunjukkan, pada April 2026 tercatat 62 kejadian kebakaran, sedangkan pohon tumbang 24 kejadian dan banjir 9 kejadian.
Pada Maret 2026, kebakaran terjadi 66 kali, sedangkan pohon tumbang 14 kejadian dan banjir enam kejadian. Adapun pada Februari 2026, kebakaran tercatat 52 kejadian, pohon tumbang 18 kejadian, dan banjir empat kejadian.
Lebih jauh, data resmi Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta, menunjukkan korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran di Ibu Kota sepanjang 2025.
Dari seluruh kasus kebakaran yang terjadi sejak Januari 2025, sekitar 66,7 persen dipicu korsleting listrik. Penyebab lainnya berasal dari kebocoran gas, lilin, dan bara rokok.
Ancaman yang sering dianggap sepele
Dosen Departemen Teknik Elektro sekaligus Direktur Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) Universitas Indonesia (UI), Chairul Hudaya, mengatakan bahwa masyarakat masih sering memandang perangkat kelistrikan sebagai aspek sekunder dalam rumah.
Padahal, menurut dia, risiko yang ditimbulkan sangat besar.Kelalaian pada aspek kelistrikan dapat memicu korsleting yang berujung kebakaran.
“Kebakaran bukan hanya menyebabkan kerugian material, melainkan juga mengancam nyawa,” ujar Chairul lewat sambungan telepon.
Chairul menjelaskan, korsleting listrik umumnya dipicu penggunaan komponen yang tidak sesuai standar, mulai dari kabel, stop kontak, tusuk kontak, hingga instalasi yang dikerjakan tanpa perhitungan keamanan memadai.
Menurut dia, ada dua ancaman utama dari instalasi listrik yang buruk, yakni kebakaran dan sengatan listrik.
Kebakaran terjadi ketika percikan api akibat korsleting bertemu material mudah terbakar. Sementara itu, sengatan listrik dapat terjadi akibat instalasi tidak aman atau perangkat yang tidak memiliki perlindungan memadai. Risiko tersebut semakin penting diperhatikan pada rumah yang dihuni anak kecil.
Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih cermat memilih perangkat listrik yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menggunakan instalator tersertifikasi saat membangun ataupun merenovasi rumah.
“Instalasi listrik rumah digunakan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Jadi, jangan hanya berpikir fungsionalitas sesaat, tetapi juga (perhatikan) keamanan jangka panjang,” tegas Chairul.
Di sisi lain, tren hunian modern juga mengalami perubahan. Rumah kini tidak lagi hanya dinilai dari ukuran atau kemewahan. Kenyamanan, keamanan, sekaligus kualitas pengalaman hidup yang diberikan kepada penghuninya juga menjadi aspek yang diperhatikan.
Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta, Ariya Sradha, mengatakan bahwa aspek kelistrikan seharusnya sudah dipikirkan sejak tahap awal desain interior.
“Walaupun tidak terlihat, kelistrikan adalah salah satu elemen wajib di sebuah bangunan. Semua benda elektronik di rumah bergantung pada fungsi elektrikal, mulai dari AC, lampu, televisi, sampai charger,” ujarnya.
Baca juga: Hati-Hati! Ini Tanda-tanda Instalasi Listrik di Rumah Bermasalah
Menurut Ariya, banyak orang baru menyadari pentingnya instalasi listrik setelah rumah selesai dibangun. Padahal titik-titik kelistrikan harus dirancang sejak awal sebelum dinding ditutup rapi.
“Harus dipikirkan total dayanya, kebutuhan tiap ruang, sampai lokasi titik elektrikalnya. Semua itu harus disiapkan lebih dulu sebelum finishing,” katanya.
Ariya menambahkan, kesalahan paling umum di rumah keluarga muda adalah penempatan stop kontak yang terlalu rendah dan mudah dijangkau anak-anak.