Editor
LUMAJANG, KOMPAS.com - Badan Gizi Nasional (BGN) menutup sementara enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Satu dari enam SPPG yang dihentikan sementara itu adalah SPPG Pasirian Madurejo milik Yayasan Almulk Mustofa Barokah.
SPPG tersebut sebelumnya sempat viral di media sosial setelah menu MBG yang disajikan kepada siswa SDN 02 Madurejo diduga terdapat ulat.
Baca juga: 372 SPPG di Jatim Ditutup, Emil Dardak Ungkap Penyebabnya
Kepala Satuan Pelaksana SPPG Lumajang Della Ayu Faradhika membenarkan bahwa SPPG Pasirian Madurejo termasuk dalam daftar dapur MBG yang disuspend.
"Iya benar, SPPG Lumajang Pasiran Madurejo salah satunya," ujarnya melalui pesan WhatsApp, Senin (1/6/2026).
Sebelumnya, SPPG Pasirian Madurejo menjadi sorotan setelah menu MBG yang disajikan kepada siswa SDN 02 Madurejo pada Kamis (7/5/2026) diduga terdapat ulat.
Saat itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati sempat memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Indah mengatakan, ulat ditemukan pada satu ompreng makanan ketika siswa makan di luar ruangan, tepatnya di bawah pohon.
"Iya itu terdapat dalam satu ompreng, kebetulan anaknya makan di luar di bawah pohon," kata perempuan yang akrab disapa Bunda Indah saat diwawancarai di Pendapa Arya Wiraraja Lumajang, Sabtu (9/5/2026).
Indah kemudian meminta pihak sekolah memastikan siswa mengonsumsi MBG secara tertib dan di dalam kelas.
"Makanya saya minta pihak sekolah, kalau makan itu dalam kondisi bersama-sama, tertib, dan di dalam kelas. Jangan di luar, kemana-mana," ucapnya.
Hingga Senin, Indah belum memberikan respons saat dikonfirmasi terkait penutupan sementara enam SPPG di Lumajang, termasuk SPPG yang pernah viral karena menu MBG diduga berulat.
ilustrasi dapur SPPG di Lumajang menyiapkan menu MBGSelain SPPG Pasirian Madurejo, BGN juga menghentikan sementara operasional SPPG lain milik Yayasan Almulk Mustofa Barokah di Kecamatan Padang dan Tempursari.
SPPG lain yang disuspend adalah milik Yayasan Berlian Berkah Jaya di Kecamatan Tempeh, SPPG Yayasan Arrohmah di Kecamatan Pasirian, dan SPPG Yayasan Sahabat Insan Quran di Kecamatan Sukodono.
Penghentian sementara tersebut membuat sejumlah dapur MBG di Lumajang harus berhenti beroperasi sampai memenuhi ketentuan yang ditetapkan.
Namun, belum ada penjelasan rinci dari BGN terkait setiap temuan pada masing-masing SPPG yang masuk daftar penghentian sementara.
Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Lumajang Agus Triyono menduga penutupan sementara tersebut berkaitan dengan pengelolaan limbah.
"Dugaan saya kemungkinan karena pengelolaan limbah yang belum sesuai kemampuan," kata Agus Triyono.
Menurut Agus, sejumlah mitra pengelola SPPG kerap mengabaikan rekomendasi teknis dari beberapa instansi terkait.
Rekomendasi itu berasal dari Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Lumajang.
Baca juga: BGN Minta SPPG Serap Hasil Panen Petani, Terutama Saat Harga Anjlok
Agus mengatakan, rekomendasi tersebut menjadi bagian dari persyaratan penerbitan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
"Ada sebagian mitra pengelola dapur yang mengabaikan rekomendasi dari Tim Dinkes, DLH, DPKP, terkait persyaratan SLHS," kata Agus.
Penghentian sementara enam SPPG itu menjadi sorotan karena berkaitan dengan layanan makan bergizi gratis bagi penerima manfaat di Lumajang.
Pemerintah daerah dan pengelola SPPG diharapkan memastikan standar higiene, sanitasi, dan pengelolaan limbah terpenuhi sebelum operasional dapur MBG kembali berjalan.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul "SPPG di Lumajang Ditutup Sementara BGN setelah sempat Viral di Menu MBG Diduga Ada Ulatnya".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang