Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Marak Teror Pocong di Jatim, Armuji: Lak Onok Pocong Tak Parani Temen

Kompas.com, 31 Mei 2026, 14:27 WIB
Azwa Safrina,
Sari Hardiyanto

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Fenomena teror pocong hingga begal pocong yang disebutkan terjadi di sejumlah daerah menjadi perhatian publik.

Aksi yang meresahkan warga tersebut dilaporkan juga muncul di Lamongan, Nganjuk, Kediri, hingga Sidoarjo, Jawa Timur.

Berbagai motif diduga melatarbelakangi kemunculan teror pocong tersebut, mulai dari sekadar prank untuk konten media sosial hingga tindak kejahatan.

Baca juga: Tangis Pecah, Pelaku Konten Pocong di Sragen Sungkem dan Minta Maaf kepada Orangtua

Beberapa waktu lalu, warga juga sempat digegerkan dengan kabar teror pocong di kawasan Mulyorejo, Surabaya.

Namun, informasi tersebut belakangan terkonfirmasi sebagai hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI).

Menanggapi fenomena itu, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji meminta masyarakat memastikan terlebih dahulu kebenaran informasi yang beredar.

Lak, onok pocong tak parani temen, Rek. Apik iki tambahan, cek viral (kalau ada pocong saya langsung datangi. Bagus malahan, biar viral). Tapi, pocong-pocong iku bener apa nggak (tapi, pocong-pocong itu benar atau tidak),” kata Cak Ji, sapaan akrabnya, Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Armuji: Masyarakat Berhak Memberi Masukan, Kita Tidak Boleh Baper dan Emosi

Hasil rekayasa AI

Wakil Wali kota Surabaya, Armuji saat ditemui awak media  di resepsi Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5/2026).KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Wakil Wali kota Surabaya, Armuji saat ditemui awak media di resepsi Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5/2026).

Menurut Armuji, apabila penampakan teror pocong tersebut hanya merupakan hasil rekayasa AI, maka masyarakat tidak perlu membesar-besarkannya.

“Teknologi itu jangan sampai menipu kita dan kita akhirnya terjebak dengan hal-hal semacam itu. Karena itu kan hal-hal yang hoaks. Jadi enggak perlu kita tanggapi secara serius,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terlalu panik menghadapi maraknya isu teror pocong.

“Enggak onok pocong. Lak onok, karo wong-wong iso diparani temen, iso dilebokno botol kok poconge (enggak ada pocong. Kalau ada, sama orang-orang bisa didatangi beneran, dimasukkan ke botol),” ucap Cak Ji sembari bergurau.

Baca juga: Teror Paket Isi Pocong Mini Gegerkan Warga Lendah Kulon Progo

Modus lama memanfaatkan ketakutan kultural

Jagat maya, khususnya grup aplikasi percakapan WhatsApp, digegerkan dengan sebaran foto yang mengeklaim adanya teror pocong di kawasan Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Dokumen dari Group WhastApp relawan bencana Jagat maya, khususnya grup aplikasi percakapan WhatsApp, digegerkan dengan sebaran foto yang mengeklaim adanya teror pocong di kawasan Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Sebelumnya, Guru Besar Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai fenomena tersebut merupakan modus lama yang memanfaatkan ketakutan kultural masyarakat terhadap sosok mistis.

“Ini adalah modus lama yang memanfaatkan ketakutan kultural masyarakat pada sosok pocong,” kata Bagong, Selasa (26/5/2026).

Halaman:


Terkini Lainnya
Pemkab Ponorogo Cairkan Gaji Ke-13 ASN Mulai 2 Juni 2026
Pemkab Ponorogo Cairkan Gaji Ke-13 ASN Mulai 2 Juni 2026
Surabaya
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Surabaya
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
Surabaya
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Surabaya
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Surabaya
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Surabaya
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
Surabaya
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Surabaya
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Surabaya
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Surabaya
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Surabaya
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Surabaya
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Surabaya
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Surabaya
Daop 8 Surabaya 'Blacklist' 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Daop 8 Surabaya "Blacklist" 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau