Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sopir Tewas dalam Ledakan Pabrik Baja di Sidoarjo, Manajemen Sebut SOP Sudah Diterapkan

Kompas.com, 7 April 2026, 10:33 WIB
Jack Robby Damarjati,
Andi Hartik

Tim Redaksi

SIDOARJO, KOMPAS.com - Ledakan di area pabrik PT Great Wall Steel (GWS) di Desa Janti, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (6/4/2026) siang menewaskan seorang sopir logistik pengangkut besi tua berinisial R yang tengah beristirahat di luar area pemotongan.

Semua pekerja di titik ledakan selamat, sementara dua karyawan hanya mengalami luka ringan.

Pihak manajemen menegaskan, kondisi ini menunjukkan efektivitas penerapan standar keselamatan kerja (K3), penggunaan alat pelindung diri (APD), serta kepatuhan ketat terhadap prosedur ISO.

Baca juga: Pabrik Baja di Sidoarjo Meledak saat Potong Besi Tua, 1 Tewas dan 2 Luka Berat

HRD General Affair PT Great Wall Steel, Heri Prasetyo, menyatakan, perusahaan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja secara disiplin, termasuk sertifikasi ISO dan sistem K3.

Ia menjelaskan, perusahaan menempatkan bahan baku besi tua (scrap) yang berpotensi mengandung zat berbahaya atau tekanan tertentu di area terbuka (scrapyard) untuk menekan risiko.

"Barang-barang berisiko kami taruh di luar, di scrapyard atau lapangan terbuka, agar bagian grading dapat memisahkan material yang mengandung zat tertentu dari suplai besi tua," ujar Heri, Selasa (07/04/2026).

Baca juga: 2 Rumah di Surabaya Rusak, Diduga Dampak Ledakan Pabrik Baja di Sidoarjo

Heri menambahkan, saat ledakan terjadi, dua karyawan berada tepat di lokasi dan tengah memotong besi tua sebelum proses peleburan. Keduanya selamat tanpa luka serius karena mengenakan APD lengkap sesuai standar K3.

"Dua orang yang bekerja di lokasi tidak mengalami kondisi separah korban meninggal. Kesimpulan awal kami, mereka sudah menjalankan standar K3," tuturnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kompas.com (@kompascom)

Ia memastikan korban merupakan sopir logistik yang menunggu proses bongkar muat. Saat kejadian, korban berada lebih dari 50 meter dari pusat ledakan dan terhalang tiga hingga empat truk.

"Beliau bukan pekerja, melainkan sopir. Saat itu sedang istirahat dan makan. Posisinya cukup jauh, lebih dari 50 meter, serta terhalang beberapa truk," jelasnya.

Manajemen juga mewajibkan setiap karyawan dan tamu yang masuk area pabrik mematuhi aturan keselamatan, termasuk mengenakan helm pelindung. Perusahaan menyediakan helm pinjaman bagi sopir yang tidak membawa perlengkapan.

"Setiap orang yang turun dari kendaraan wajib memakai helm safety. Jika tidak membawa, kami pinjamkan dari sekuriti. Minimal mereka terlindungi saat berada di area pabrik," pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing menjelaskan peristiwa ledakan itu bermula saat dua pekerja berinisial P dan J memotong besi tua di area pabrik.

"Kronologinya, dua orang atas nama P dan J melakukan pemotongan. Saat memotong besi tua menggunakan las blender, terjadi ledakan dari material tersebut," ujarnya, Senin (6/4/2026).

Dua pekerja itu melakukan aktivitas tersebut menggunakan alat las pemotong (blender) di area pabrik. Diduga kedua pekerja itu tidak menyadari adanya material berbahaya yang kemudian memicu ledakan saat proses pemotongan di area pabrik yang berdiri di lingkungan padat penduduk.

Selain menewaskan korban berinisial R, ledakan hebat itu juga merusak sejumlah rumah warga di sekitar pabrik akibat serpihan logam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pemkab Ponorogo Cairkan Gaji Ke-13 ASN Mulai 2 Juni 2026
Pemkab Ponorogo Cairkan Gaji Ke-13 ASN Mulai 2 Juni 2026
Surabaya
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Surabaya
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
Surabaya
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Surabaya
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Surabaya
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Surabaya
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
Surabaya
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Surabaya
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Surabaya
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Surabaya
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Surabaya
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Surabaya
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Surabaya
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Surabaya
Daop 8 Surabaya 'Blacklist' 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Daop 8 Surabaya "Blacklist" 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau