Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Demi Rp 500.000 Per Pekan, Cerita Ibu di Sumbar Sortir 1 Ton Sampah Plastik untuk Sekolahkan Anak

Kompas.com, 18 Mei 2026, 18:10 WIB
Rahmat Panji ,
Icha Rastika

Tim Redaksi

PADANG, KOMPAS.com – Pendidikan sering kali digemakan sebagai tanggung jawab negara, sebuah hak konstitusional yang seharusnya bisa dinikmati oleh setiap anak bangsa tanpa terkecuali.

Namun, di sudut-sudut realita yang jarang tersentuh kebijakan, hak itu membentur realita kemiskinan yang keras.

Bagi Marlis (44) dan Ema (42), pendidikan bukan sekadar urusan bangku sekolah, tetapi sebuah kemewahan tak terjangkau yang terpaksa mereka lepaskan sejak usia dini.

Di wilayah perbatasan antara Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, kedua perempuan ini mencontohkan cara bertahan hidup yang getir tetapi tangguh.

Bukan mengandalkan selembar kertas ijazah, melainkan dengan kekuatan fisik dan mentalitas yang tak kenal menyerah.

Baca juga: Cerita Pedagang Kelapa di Aceh yang Hampir Kehilangan Akses Berobat karena Data Sosial Ekonomi

Setiap pagi, saat matahari baru saja mengintip di ufuk timur, mereka mulai perjalanan keluar kota, meski hanya 25 menit.

Kendaraan mereka menuju perbatasan Kota Padang, bergegas parkir di tempat yang bagi banyak orang mungkin dihindari, yaitu gudang pengelolaan limbah plastik.

Di sana, di bawah atap seng yang menyerap panas menyengat, mereka bertarung dengan gunungan limbah masyarakat demi menyambung napas keluarga.

Pagar Tinggi Pabrik dan Realita Tanpa Ijazah

Marlis sebenarnya tinggal di Kecamatan Batang Anai, sebuah wilayah yang secara ekonomi cukup dinamis.

Secara geografis, wilayah ini strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Padang.

Di Batang Anai pula, cerobong-cerobong pabrik berdiri kokoh, menandakan adanya denyut industri yang seharusnya menjanjikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Baca juga: Cerita Mbah Hadi Sepenuh Hati Rawat Sapi di Usia Senja, Kini Sapinya Dibeli Prabowo Rp 80 Juta

Secara logika sederhana, lapangan kerja ada di depan mata Marlis.

Namun, dalam realitas sosial yang kaku, pagar-pagar beton pabrik itu seolah menjelma menjadi benteng yang tak tertembus.

"Bekerja di pabrik cuma mimpi bagi saya. Masuk ke sana butuh syarat, dan syarat utama yang tidak saya punya adalah ijazah," ucap kepada Kompas.com.

Marlis adalah korban dari siklus kemiskinan yang memaksanya berhenti sekolah sebelum sempat menamatkan jenjang Sekolah Dasar (SD).

Saat anak-anak seusianya masih sibuk bermain dan belajar, Marlis kecil sudah harus ke ladang, membantu orang tuanya mencari tambahan pemasukan.

Ijazahnya tergadai oleh kebutuhan perut yang tidak bisa menunggu esok hari.

Kini, puluhan tahun berlalu, sejarah seolah mengancam akan mengulang dirinya sendiri.

Sebagai seorang istri dan ibu, Marlis mendapati dirinya berada dalam posisi yang sama sulitnya.

Pendapatan suaminya yang tidak menentu tidak cukup untuk menutup lubang kebutuhan rumah tangga yang kian hari kian besar.

Halaman:


Terkini Lainnya
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Regional
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Regional
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Regional
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Regional
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
Regional
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Regional
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
Regional
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Regional
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Regional
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Regional
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Regional
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Regional
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Regional
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Regional
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Demi Rp 500.000 Per Pekan, Cerita Ibu di Sumbar Sortir 1 Ton Sampah Plastik untuk Sekolahkan Anak
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat