PADANG, KOMPAS.com – Pendidikan sering kali digemakan sebagai tanggung jawab negara, sebuah hak konstitusional yang seharusnya bisa dinikmati oleh setiap anak bangsa tanpa terkecuali.
Namun, di sudut-sudut realita yang jarang tersentuh kebijakan, hak itu membentur realita kemiskinan yang keras.
Bagi Marlis (44) dan Ema (42), pendidikan bukan sekadar urusan bangku sekolah, tetapi sebuah kemewahan tak terjangkau yang terpaksa mereka lepaskan sejak usia dini.
Di wilayah perbatasan antara Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, kedua perempuan ini mencontohkan cara bertahan hidup yang getir tetapi tangguh.
Bukan mengandalkan selembar kertas ijazah, melainkan dengan kekuatan fisik dan mentalitas yang tak kenal menyerah.
Baca juga: Cerita Pedagang Kelapa di Aceh yang Hampir Kehilangan Akses Berobat karena Data Sosial Ekonomi
Setiap pagi, saat matahari baru saja mengintip di ufuk timur, mereka mulai perjalanan keluar kota, meski hanya 25 menit.
Kendaraan mereka menuju perbatasan Kota Padang, bergegas parkir di tempat yang bagi banyak orang mungkin dihindari, yaitu gudang pengelolaan limbah plastik.
Di sana, di bawah atap seng yang menyerap panas menyengat, mereka bertarung dengan gunungan limbah masyarakat demi menyambung napas keluarga.
Marlis sebenarnya tinggal di Kecamatan Batang Anai, sebuah wilayah yang secara ekonomi cukup dinamis.
Secara geografis, wilayah ini strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Padang.
Di Batang Anai pula, cerobong-cerobong pabrik berdiri kokoh, menandakan adanya denyut industri yang seharusnya menjanjikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Baca juga: Cerita Mbah Hadi Sepenuh Hati Rawat Sapi di Usia Senja, Kini Sapinya Dibeli Prabowo Rp 80 Juta
Secara logika sederhana, lapangan kerja ada di depan mata Marlis.
Namun, dalam realitas sosial yang kaku, pagar-pagar beton pabrik itu seolah menjelma menjadi benteng yang tak tertembus.
"Bekerja di pabrik cuma mimpi bagi saya. Masuk ke sana butuh syarat, dan syarat utama yang tidak saya punya adalah ijazah," ucap kepada Kompas.com.
Marlis adalah korban dari siklus kemiskinan yang memaksanya berhenti sekolah sebelum sempat menamatkan jenjang Sekolah Dasar (SD).
Saat anak-anak seusianya masih sibuk bermain dan belajar, Marlis kecil sudah harus ke ladang, membantu orang tuanya mencari tambahan pemasukan.
Ijazahnya tergadai oleh kebutuhan perut yang tidak bisa menunggu esok hari.
Kini, puluhan tahun berlalu, sejarah seolah mengancam akan mengulang dirinya sendiri.
Sebagai seorang istri dan ibu, Marlis mendapati dirinya berada dalam posisi yang sama sulitnya.
Pendapatan suaminya yang tidak menentu tidak cukup untuk menutup lubang kebutuhan rumah tangga yang kian hari kian besar.