Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pilu 3 Bocah Yatim di Kediri, Ditinggal Ayah Usai Ibu Meninggal Dunia

Kompas.com, 8 Mei 2026, 15:55 WIB
Rachmawati

Editor

KEDIRI, KOMPAS.com - Kisah pilu menyelimuti kehidupan tiga bersaudara asal Dusun Kandat, Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di usia yang masih sangat belia, mereka harus kehilangan sosok ibu dan kini hanya bergantung pada pengasuhan kakek dan neneknya.

Ketiga bocah tersebut adalah Arvino (7), yang kini duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD), serta adik kembarnya, Arcelio dan Arsenio, yang baru menginjak usia 2 tahun 4 bulan.

Sejak ibu mereka meninggal dunia pada April 2026 lalu, beban nafkah sepenuhnya dipikul oleh pasangan lansia, Sholikah (50) dan Putut Sri Harmisworo (56).

Kondisi memprihatinkan ini menarik perhatian Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana. Pria yang akrab disapa Mas Dhito tersebut mendatangi kediaman mereka di Jalan Kembang Kuning pada Kamis (7/5/2026) untuk memberikan bantuan langsung.

Baca juga: Blusukan ke Puncu, Kediri, Mas Dhito Salurkan Bantuan Kesehatan hingga Modal Usaha

Ditinggal Ayah Tanpa Kabar

Penderitaan ketiga bocah ini semakin berat lantaran ayah kandung mereka disebut tidak lagi memberikan kabar maupun tanggung jawab setelah sang istri wafat.

Sholikah mengungkapkan, menantunya sempat datang saat pemakaman, namun setelah itu pergi tanpa kejelasan mengenai nasib ketiga anaknya.

"Ke sini datang pas istrinya tidak ada (meninggal), tapi tidak ngomong ke saya sama sekali anaknya bagaimana," ungkap Sholikah saat berbincang dengan Mas Dhito di Kediri, Kamis.

Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan cucunya, Sholikah hanya mengandalkan usaha kecil jasa penggilingan bumbu, kopi, dan kelapa. Penghasilannya pun jauh dari kata cukup.

Dalam sehari, ia seringkali hanya mengantongi Rp 20.000 saat pelanggan ramai. Guna menambah pemasukan, ia dan suaminya juga menerima pesanan madumongso dan sambal pecel.

"Pokoknya ada saja rezeki, nggak tau dari mana Insya Allah saya bisa. Buat beli susu, pampers, kalau minta makanan saya siapin pokoknya semampu saya," ucap Sholikah sambil terisak.

Baca juga: Populasi Sapi Kediri Tembus 216.000 Ekor, Mas Dhito Bidik Predikat Kontes Ternak Terbaik se-Jatim

Bantuan Renovasi Rumah dan Modal Usaha

Mendengar perjuangan Sholikah, Mas Dhito tampak terenyuh. Ia pun memberikan penguatan moril kepada keluarga tersebut.

"Apa yang ibu jalani pasti tidak mudah. Ibu harus kuat," kata Mas Dhito menenangkan Sholikah.

Bupati muda tersebut memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri tidak akan tinggal diam. Selain bantuan kebutuhan pokok, pemerintah akan melakukan bedah rumah karena kondisi tempat tinggal mereka yang sudah tidak layak.

Diketahui, beberapa bagian atap dan dinding rumah tersebut berlubang, sehingga air hujan dan angin sering masuk ke dalam ruangan.

"Rumahnya tadi beberapa bagian ada yang masih bolong, kasihan kalau hujan angin pasti masuk ke dalam. Rumahnya akan kita perbaiki juga," tegas Mas Dhito.

Halaman:


Terkini Lainnya
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Regional
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Regional
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Regional
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Regional
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
Regional
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Regional
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
Regional
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Regional
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Regional
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Regional
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Regional
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Regional
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Regional
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Regional
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kisah Pilu 3 Bocah Yatim di Kediri, Ditinggal Ayah Usai Ibu Meninggal Dunia
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat