Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malaysia Resmi Terapkan B15 Mulai Hari Ini, Serap 801.000 Ton CPO

Kompas.com, 1 Juni 2026, 09:19 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Malaysia resmi menerapkan kebijakan biodiesel B15 secara nasional mulai Senin (1/6/2026).

Kebijakan ini menjadi langkah terbaru negara tersebut dalam meningkatkan penggunaan bahan bakar berbasis minyak sawit sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Melalui implementasi B15, kandungan biodiesel berbasis minyak sawit dalam solar ditingkatkan dari sebelumnya 10 persen (B10) menjadi 15 persen (B15) untuk sektor transportasi.

Baca juga: Solar Tanpa Impor di 2026, Pemerintah Andalkan Kilang dan Biodiesel

Ilustrasi bendera Malaysia.SHUTTERSTOCK/BUTENKOV ALEKSEI Ilustrasi bendera Malaysia.

Dikutip dari The Star, pemerintah Malaysia menilai langkah ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, memperluas penggunaan energi terbarukan, dan meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik.

Kebijakan tersebut mulai berlaku secara nasional setelah pemerintah Malaysia memastikan kesiapan industri biodiesel nasional.

Sebanyak 19 pabrik berlisensi disiapkan untuk memproduksi biodiesel B15 mulai 1 Juni 2026.

Informasi tersebut disampaikan Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani.

Baca juga: Gejolak Energi Global, Malaysia Dorong Biodiesel dan Penghematan BBM

Serap lebih banyak minyak sawit domestik

Pemerintah Malaysia memperkirakan penerapan B15 akan meningkatkan konsumsi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam negeri secara signifikan.

Johari menyebut implementasi B15 secara nasional membutuhkan sekitar 801.000 ton CPO per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan program B10 yang selama ini hanya menyerap sekitar 534.000 ton CPO per tahun.

Ilustrasi minyak kelapa sawit. SHUTTERSTOCK/MERCURY STUDIO Ilustrasi minyak kelapa sawit.

Peningkatan kebutuhan bahan baku tersebut diharapkan mampu memperkuat permintaan minyak sawit domestik sekaligus mendukung industri perkebunan sawit Malaysia.

Menurut Johari, peningkatan mandat biodiesel merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas penggunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap diesel berbasis fosil.

Baca juga: Biodiesel Dinilai Efektif Tekan Impor BBM, Hemat Devisa hingga Rp 170 T

Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari agenda transisi energi nasional yang sedang dijalankan Malaysia.

Sementara itu, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Noraini Ahmad mengatakan penerapan B15 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi CPO domestik secara signifikan.

Menurut dia, implementasi B15 secara nasional membutuhkan sekitar 801.000 ton CPO per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kebutuhan program B10 yang selama ini hanya menyerap sekitar 534.000 ton CPO per tahun.

Noraini mengatakan peningkatan penggunaan biodiesel akan membantu memperkuat permintaan minyak sawit lokal sekaligus mengurangi ketergantungan negara terhadap diesel berbasis fosil impor.

Baca juga: Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026, Airlangga: Kurangi Penggunaan BBM Berbasis Fosil

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau