Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mardiono Evaluasi Hasil Pemilu 2024 di Muswil Jatim: PPP Harus Tinggalkan Pola Lama

Kompas.com, 11 Maret 2026, 22:46 WIB
Suci Rahayu,
Novianti Setuningsih

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tengah bersiap menata ulang arah perjuangannya melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) X DPW PPP Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Rabu (11/3/2026) sore.

Ketua Umum PPP, Muhamad Mardiono, menegaskan pentingnya perubahan strategi politik agar partai mampu bangkit menghadapi kontestasi politik di masa depan. Apalagi, setelah hasil kurang baik pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Dalam forum tersebut, Mardiono mengawali dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Muswil, termasuk para kader dan rekan-rekan media yang mengikuti jalannya kegiatan.

Dia menjelaskan bahwa Muswil di Jawa Timur merupakan bagian dari rangkaian konsolidasi nasional PPP yang hampir rampung dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Baca juga: Mukernas: DPP PPP Diminta Dukung Prabowo Subianto di Pemilu 2029

Menurut dia, Muswil bukan sekadar agenda organisasi yang bersifat administratif. Forum ini memiliki makna penting sebagai implementasi dari ketentuan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai, yang mengatur masa kepengurusan selama lima tahun.

Oleh karena itu, reorganisasi menjadi langkah penting untuk memastikan regenerasi kepemimpinan dan memperkuat struktur partai.

“Makna dari musyawarah wilayah ini adalah untuk melakukan pelaksanaan implementasi dari perintah konstitusi anggaran dasar anggaran rumah tangga," ujar Mardiono.

"Bahwa setiap lima tahun sekali masa khidmat kepengurusan itu harus dilakukan reorganisasi dalam rangka untuk membentuk kepengurusan yang baru karena masa khidmat yang lama sudah habis,” katanya lagi.

Melalui proses tersebut, para kader diharapkan memahami arah perjuangan politik partai yang terus berkembang seiring perubahan dinamika nasional.

“Kader-kader ini tahu arah peta perjuangan. Karena setiap lima tahunan itu arah peta perjuangan setiap partai politik tentu akan menghadapi tantangan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Baca juga: Mardiono Anggap Kegagalan PPP di 2024 sebagai Accident, Siap Berjuang Berapa Pun Ambang Batasnya

Evaluasi Hasil Pemilu 2024

Dalam arahannya, Mardiono juga secara terbuka menyinggung hasil Pemilu 2024 yang menjadi catatan penting bagi PPP.

Pada pemilu tersebut, PPP tidak berhasil meloloskan wakilnya ke Senayan. Kondisi itu, menurut dia, harus dijadikan momentum evaluasi sekaligus titik awal untuk melakukan perubahan strategi politik secara menyeluruh.

Mardiono menilai, selama ini PPP lebih banyak berperan menjaga kondusivitas sosial di tengah masyarakat. Meski hal itu penting, dia menegaskan bahwa partai politik juga harus memiliki kekuatan elektoral yang kuat agar mampu memenangkan pemilu.

“Kita harus meninggalkan pola-pola yang lama yang cenderung, mohon maaf, di PPP itu lebih banyak menciptakan kondusivitas sosial ketimbang elektoral. Sementara yang dibutuhkan target pada kemenangan pemilu itu adalah elektoral bukan sosial,” kata politikus berusia 68 tahun itu.

Baca juga: PPP Targetkan Raih 39 Kursi DPR RI di Pemilu 2029

Oleh karena itu, dia mendorong seluruh kader PPP untuk melakukan transformasi dalam cara berpikir maupun strategi perjuangan politik dari yang lama ke yang baru.

Melalui Muswil ini, Mardiono berharap kepengurusan baru yang terbentuk mampu memperkuat soliditas organisasi hingga ke tingkat paling bawah. 

“Harapan saya nanti kepengurusan baru menjadi suatu tim yang solid. Sinergi kerja sama antara ranting, anak cabang, cabang, wilayah, dan pusat harus sejalan dan seirama,” pungkas Mardiono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Terkini Lainnya
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Peternak Blitar Tolak Rencana Investor Asing Masuk Bisnis Telur
Surabaya
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
BGN Ancam Tutup Dapur MBG yang Tak Beli Telur dari Peternak
Surabaya
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Pecel Jawa Timur Masuk 7 Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas
Surabaya
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Muncul Dugaan Korban Lain, Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo, Takut Melapor
Surabaya
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Kloter Pertama Haji Tiba di Juanda, Satu Jemaah Meninggal di Arab Saudi
Surabaya
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
6 SPPG di Lumajang Ditutup Sementara, Salah Satunya Pernah Viral karena Menu MBG Diduga Berulat
Surabaya
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Cerita Burger di Surabaya yang Satukan Budaya Amerika dan Madura
Surabaya
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Mediasi Lapangan Padel Diduga Serobot Sungai di Surabaya, Camat Sebut Tuntas
Surabaya
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok dan Pakan Mahal
Surabaya
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Wacana Penghapusan Guru Honorer, Bupati Lumajang: Ada Rekrutmen ASN
Surabaya
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Alami Tekanan Darah Tinggi, 2 Jemaah Haji Asal Lumajang Meninggal di Mekkah
Surabaya
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Harga Telur Jatuh, Bupati Blitar: Peternak Kecil Butuh Pertolongan Pusat
Surabaya
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Prediksi Hari Tanpa Hujan Selama Juni 2026 dan Daerah yang Terdampak
Surabaya
Daop 8 Surabaya 'Blacklist' 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Daop 8 Surabaya "Blacklist" 9 Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta
Surabaya
Nasi Tempong Banyuwangi Masuk Menu Kereta Api, Sambal Pedasnya Jadi Buruan Penumpang
Nasi Tempong Banyuwangi Masuk Menu Kereta Api, Sambal Pedasnya Jadi Buruan Penumpang
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau