Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Temuan Stupa Buddha di Boyolali, Ahli Duga Ada Situs Candi Kuno Terpendam

Kompas.com, 26 Mei 2026, 08:20 WIB
Intan Maharani

Penulis

BOYOLALI, KOMPAS.com - Penemuan benda diduga stupa candi Buddha kembali terjadi di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Temuan terbaru ini memunculkan dugaan adanya situs candi Buddha yang masih terpendam di kawasan tersebut.

Benda purbakala berbentuk kemuncak atau stupa itu ditemukan warga saat proses pembukaan jalan pada Kamis (14/5/2026).

Benda tersebut memiliki ukuran cukup besar dengan tinggi sekitar 1,25 meter dan diameter mencapai 1,30 meter.

Warga Desa Nepen sekaligus penemu benda tersebut, Sopan mengatakan, temuan itu muncul secara tidak sengaja ketika alat berat yang digunakan untuk meratakan tanah mendadak membentur benda keras di dalam tanah.

Saat diperiksa, benda itu ditemukan dalam posisi sedikit miring dan tertimbun tanah.

"Kronologisnya ketika saya komunikasi dengan penemu, penemu itu sedang membuat jalan untuk pembuatan kandang sapi," kata Tim Ahli Pendaftaran Cagar Budaya, Farid Burhanuddin, dikutip dari Kompas.com, Senin (25/5/2026). 

Baca juga: Warga Boyolali Temukan Stupa Candi Budha Saat Buka Jalan untuk Kandang Sapi

Diduga Berkaitan dengan Temuan Sebelumnya

Farid menjelaskan, temuan terbaru tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan benda-benda purbakala lain yang sebelumnya ditemukan di kawasan Desa Nepen.

Menurut dia, bentuk dan struktur benda mengarah pada peninggalan agama Buddha.

"Dari struktur bentuk bangunannya, ini adalah struktur dari agama Buddha, berbentuk tabung seperti mangkok yang tertutup dan bawahnya ada prasasti Buddhis juga," terang Farid, dikutip dari Tribun Solo, Senin. 

Ia mengungkapkan, di radius sekitar 500 meter dari lokasi penemuan terbaru juga ditemukan objek serupa yang diduga masih berkaitan dengan struktur stupa Buddhis.

Temuan tersebut menambah daftar benda diduga cagar budaya yang selama ini kerap ditemukan di Desa Nepen.

"Di sekitar sini banyak sekali ditemukan objek diduga cagar budaya. Baik itu lapik, fragmen prigen, dan lain sebagainya," ungkapnya.

Baca juga: Fadli Zon: Pemasangan Chattra Stupa Induk Candi Borobudur Dilakukan Setelah Waisak

Diangkat Manual Pakai Tambang

Sopan mengatakan, dirinya sengaja mengangkat benda tersebut secara manual menggunakan tali tambang agar struktur benda purbakala tetap aman dan tidak rusak.

"Untuk menjaga agar struktur bangunan purbakala tersebut tidak rusak, saya berinisiatif mencari tambang untuk mengangkatnya secara manual dan hati-hati," ujar Sopan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Gerebek 15 Lokasi Penyulingan Miras di Sorong, 200 Liter Cap Tikus Disita
Regional
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Kisah Rumah Kopi Tikala Manado: Jaga Rasa sejak 1930, Dulu Tempat Singgah Tentara Belanda
Regional
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Cegah Kasus di Posong Temanggung Terulang, Pemprov Jateng Benahi SOP Wisata di 35 Daerah
Regional
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Libur Panjang, Tempat Sewa Kebaya di Kota Lama Semarang Laris Manis Diserbu Wisatwan
Regional
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
11 WNA Terlibat Jaringan Penipuan Internasional di Solo Raya, Imigrasi Bakal Tindak Tegas
Regional
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Curhat Korban Bencana Aceh: Senang Dapat Hewan Kurban, Sedih Ekonomi Belum Pulih
Regional
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
4 Jemaah Haji Asal Lampung Wafat di Tanah Suci, Dua Meninggal Setelah Armuzna
Regional
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Keluarga Korban Sebut Oknum TNI AL Juga Aniaya Lansia di Situbondo
Regional
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Puluhan ASN Karawang Ketahuan Liburan Saat WFH, TPP Dipotong 25 Persen
Regional
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Kasus Pelecehan Seksual ART di Rumah Bupati Konawe Selatan Diselesaikan Secara Adat, Bagaimana Nasib Korban?
Regional
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Pencarian Korban Ledakan Bom PD II di Biak, 13 Potongan Tubuh Ditemukan
Regional
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Pelaku Curanmor Todongkan Senpi Rakitan ke Polisi, Tewas Ditembak di Tulangbawang
Regional
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Fakta Baru Ledakan di Biak, Tim Jibom Gegana Temukan Dua Proyektil dan Granat Modifikasi
Regional
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Swari Tempuh 12 Jam demi Saksikan Timnas Indonesia di Piala AFF U-19
Regional
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Jalan Rusak di Blora, Janji Pemprov Jateng, dan Anggaran Rp 5,2 Miliar
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Temuan Stupa Buddha di Boyolali, Ahli Duga Ada Situs Candi Kuno Terpendam
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat